PROBOLINGGO, Radar Bromo-Pada Sabtu, 18 April 2026 ini, Kabupaten Probolinggo memeringati hari jadi yang ke-280. Dalam kurun waktu tersebut, Kabupaten Probolinggo telah melewati sejumlah era.
Tercatat ada 36 nama yang pernah memimpin sebagai Bupati Probolinggo. Berikut tokoh-tokoh yang pernah memimpin Kabupaten Probolinggo:
Ki Djojolelono (Kanjeng Banger)
Dalam momen peringatan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo, salah satu rangkaian acara yang tak pernah dilewatkan yakni ziarah dan tabur bunga ke makam Bupati Probolinggo pertama, yakni Kiai Djojolelono.
Biasanya, puncak rangkaian acara hari jadi ditandai dengan ziarah ke makamnya.
Makam Ki Djojolelono terletak di pemakaman kampong Sentono, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Keturunan kelima dari Ki Djojolelono, Juniardi Irianto mengungkapkan, wilayah Probolinggo masih dipimpin VOC hingga 1746.
Setelah itu, Probolinggo masuk wilayah Keraton Solo. Sebagai hadiah dari VOC karena Keraton Solo sangat mendukung politik Belanda di Nusantara.
Saat itu, Keraton Solo dihadiahi Karesidenan Malang. Daerahnya terdiri atas Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. Lalu, Djojolelono yang saat itu menjabat Wakil Bupati Pasuruan diangkat menjadi Bupati Probolinggo.
Baca Juga: Ziarah Makam Kiai Djojolelono Awali Rangkaian Harjakabpro ke-277
Djojolelono sendiri adalah orang Tiongkok dengan marga Boen. Sebelum menjadi Wakil Bupati Pasuruan, ia dibina di Keraton Solo.
Selama empat tahun, Djojolelono menjadi Bupati Probolinggo hingga tahun 1750. "Saat itu, namanya bukan Kabupaten Probolinggo, melainkan Tumenggungan Probolinggo. Karena itu, Djojolelono memiliki gelar Tumenggung," lanjut Juniardi kepada Jawa Pos Radar Bromo, beberapa waktu lalu.
Ki Djojolelono memimpin Kabupaten Probolinggo selama sekitar 22 tahun. Mulai 1746 hingga 1768.
Raden Tumenggung Djojonegoro (Kanjeng Djimat)
Namanya mungkin tidak seterkenal Kiai Djojolelono, Bupati Probolinggo pertama. Namun, Raden Tumenggung Djojonegoro memiliki peran tak kalah penting dengan Djojolelono. Dia merupakan bupati terlama. Di masanya juga, Masjid Agung Raudlatul Jannah Kota Probolinggo dibangun.
Djojonegoro sendiri memerintah dua periode. Sejak tahun 1768 sampai 1805. Atau sekitar 37 tahun. Sehingga, ia menjadi bupati yang memerintah dalam waktu paling lama.
Pemerhati Sejarah, Ino Imam mengungkapkan, saat pemerintahan Kiai Djojolelono, Kadipaten Banger (Probolinggo) tidak tenteram. Terjadi adu domba oleh VOC yang ingin menguasai tanah Tengger. Sementara warga Tengger saat itu tidak mau menjadi bagian dari Kadipaten Banger.
VOC dengan licik menghasut Kiai Djojolelono untuk berunding dengan Bupati Tengger Mbah Meru. Dalam perundingan itu, Mbah Meru terbunuh oleh Kiai Djojolelono.
Baca Juga: RA Djojonegoro, Bupati Probolinggo Terlama yang Juga Pendiri Masjid Agung
Setelah peristiwa berdarah itu, Kiai Djojolelono diburu VOC. Dalam pelariannya, Kiai Djojolelono akhirnya tertangkap dan dieksekusi oleh VOC.
"Setelah eksekusi Kiai Djojolelono, VOC mengangkat Raden Djojonegoro menjadi bupati. Dia dari kasepuhan Surabaya. Nama kecilnya Ki Ageng Brondong," ungkap Ino.
Pada masa pemerintahan Djojonegoro, nama Banger diubah menjadi Probolinggo. Selama ia memerintah, Probolinggo pun menjadi tenteram dan makmur. Kesenjangan ekonomi pribumi dengan VOC tidak terlalu jauh.
Pembangunan pun berjalan pesat. Dua tahun usai menjabat, ia mendirikan Masjid Agung Raudlatul Jannah. Tepatnya pada tahun 1770.
Raden Tumenggung Tjondronegoro
Raden Tumenggung Tjondronegoro tercatat menjabat sebagai Bupati Probolinggo tak terlalu lama.
Ia jadi bupati Probolinggo pada 1805 menggantikan Tumenggung Djojonegoro hingga 1808 atau hanya sekitar 3 tahun.
Raden Tumenggung Djojodiningrat
Usai kepemimpinan Tumenggung Tjondronegoro, Raden Tumenggung Djojodiningrat melanjutkan estafet sebagai Bupati Probolinggo.
Disbanding Tumenggung Tjondronegoro, Djojodiningrat lebih singkat memimpin Kabupaten Probolinggo. Yakni hanya sekitar 2 tahun. Atau tahun 1808 hingga 1810.
Babah Tumenggung Han Kek Ko
Dari puluhan tokoh yang pernah menjabat Bupati Probolinggo, ada Babah Tumenggung Han Kek Koo yang menorehkan sejarah tersendiri. Dia memerintah Kadipaten Probolinggo setelah membeli tanah Probolinggo dari Gubernur Jendral Meester Herman William Daendels.
Babah Tumenggung Han Kek Koo adalah seorang Mayor China. Setelah menjadi Bupati Probolinggo, baru dia memakai gelar Babah Tumenggung.
Han Kek Koo adalah cucu dari Han Siong Kok yang lahir pada 1673 di Lubianse, Tianbao, China. Dia generasi ke-21 dari marga Han. Kakeknya meninggalkan tempat asalnya menuju tanah Jawa sekitar tahun 1700-an.
Baca Juga: Han Kek Koo, Bupati Probolinggo Keturunan Tionghoa yang Juga Pengusaha Kaya
Han Siong Kong kemudian menetap di Lasem dan meninggal di Rajegwesi (sekarang Bojonegoro). Han Siong Kong memiliki lima putra dan empat putri. Salah satunya, Han Bwee Kong yang merupakan ayah dari Han Kek Koo.
Han Kek Koo sendiri lahir pada tahun 1766. Ia merupakan putra kelima dari Kaptien Han Bwee Kong. Dia memiliki tanah dan perkebunan di Jawa Timur. Termasuk tanah yang tersebar di 12 desa di Pasuruan.
Han menikah dengan Liem Khian Nio dan mempunyai dua anak yang kelak menjadi pengusaha sukses. Yaitu, Han Tjan Goan dan Han Tjan Hien.
"Keluarga Han dikenal sebagai pengusaha terkemuka di Jawa Timur saat itu. Sama seperti kakek dan ayahnya, Han Kek Koo juga menjadi pedagang sukses," kata pemerhati sejarah, Inung Imam.
Pada 1810, saat pemerintahan Hindia Belanda, Gubernur Jendral Meester Herman William Daendels kehabisan anggaran untuk membangun jalan Anyer Panarukan. Ia lantas membuat keputusan ekstrem. Yaitu, menjual Kabupaten Probolinggo pada Han Kek Koo senilai 1 juta Rijksdaaldeers yang dicicil selama 10 tahun. Pembayaran dilakukan tiap enam bulan sebesar 50 ribu Rijksdaalders.
Setelah transaksi disahkan, Daendels memerintahkan untuk membuat surat kredit yang dijamin sepenuhnya oleh pemerintah. Surat itu ditarik enam bulan sekali usai dia menerima pembayaran dari Han Kek Koo.
Surat kredit ini terdiri atas enam pecahan Rijksdaalders dan ditandatangani oleh lima orang saksi. Pecahan itu antara lain, 100 (seri F), 200 (seri E), 300 (seri D), 400 (seri C), 500 (seri B), dan 1000 (seri A). Semuanya ditempel dengan huruf LN, singkatan dari Louis Napoleon. Sebab, saat itu Belanda dikuasai oleh Perancis.
"Total surat kredit yang diterbikan sebanyak 4.100 lembar. Surat kredit ini kemudian dikenal dengan uang kertas Probolinggo," sebut Inung.
Raden Tumenggung Soerjodiningrat
Selepas kepemimpinan Han Kek Ko, tongkat estafet Bupati Probolinggo diteruskan ke Raden Tumenggung Soerjodiningrat.
Ia menjadi Bupati Probolinggo selama sekitar 3 tahun. Mulai tahun 1813 hingga 1816.
Raden Tumenggung Ario Notodinigrat
Raden Tumenggung Ario Notodinigrat tercatat memimpin Kabupaten Probolinggo selama sekitar 3-5 tahun. Yakni mulai tahun 1818 hingga sekitar tahun 1823.
Raden Tumenggung Pandji Notonegoro
Ia menjabat sebagai bupati Probolinggo pada tahun 1823 hingga tahun 1837.
Ki Tumenggung Wirjowidjojo
Sebagai bupati kesembilan Probolinggo, nama Wirowijoyo mungkin kurang dikenal. Jasanya cukup besar bagi masyarakat Probolinggo. Dia yang memanfaatkan danau Ronggojalu pertama kali. Dan hingga kini, airnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Kota dan Kabupaten Probolinggo.
Masa kecil Wirowijoyo belum diketahui secara pasti karena minimnya literasi yang menulis tentang dirinya. Namun, sebelum menjadi Bupati Probolinggo, Wirowijoyo adalah pegawai pemerintahan di Probolinggo.
Prestasinya moncer, sehingga ia diangkat sebagai ronggo di wilayah Kraksaan. Ronggo memiliki fungsi seperti patih dalam kerajaan. Seorang ronggo bertanggung jawab langsung pada seorang bupati.
Baca Juga: Bupati Kesembilan Wirowijoyo yang Berjasa Buat Bendungan, Diabadikan dalam Nama Ronggojalu
“Tidak diketahui pasti silsilah keluarga Wirowijoyo. Namun, sebelum diangkat menjadi bupati, Wirowijoyo ini seorang ronggo di Kraksaan sekitar tahun 1830-an,” ungkap pemerhati sejarah Probolinggo, Edi Sumanto.
Selama menjadi ronggo, Wirowijoyo kerap berseberangan dengan Raden Tumenggung Panji Notonegoro, bupati saat itu yang merupakan bupati kedelapan. Wirowijoyo menilai, banyak program bupati saat itu gagal.
Buktinya, perekonomian masyarakat terpuruk. Sehingga, kejahatan merajalela saat itu. Sawah masyarakat juga kurang mendapat pasokan air. Akibatnya, mereka sering gagal panen.
Tidak tahan dengan penderitaan masyarakat, Wirowijoyo berupaya menyelesaikan masalah ini. Dia membentuk tim untuk mendeteksi kriminalitas. Dan hasilnya, banyak bandit dan pencuri yang dilucuti.
“Saat masa perselisihan ini, rupanya Wirowijoyo bisa menyelesaikan masalah. Sehingga, perselisihan keduanya semakin meruncing. Dia bisa merebut hati masyarakat,” terang Edi.
Rupanya, perselisihan Wirowijo dan Notonegoro didengar oleh Belanda. Karena prestasinya yang bisa memulihkan perekonomian rakyat, Wirowijoyo diangkat menjadi bupati. Ia dilantik pada 1837 di pendapa alun-alun.
“Rakyat tidak ada yang suka pada Notonegoro karena banyak masalah yang muncul selama pemerintahannya. Sehingga, Notonegoro diganti oleh Wirowijoyo. Dan pergantian itu, didukung oleh masyarakat,” tuturnya.
Raden Adipati Ario Prawiroadiningrat
Raden Adipati Ario Prawiroadiningrat juga dikenal dengan sebutan Pangeran Sutiknya. Ia merupakan tokoh keturunan Sumenep yang berperan dalam pemerintahan Besuki dan Probolinggo pada abad ke-19.
Pangeran Sutiknya menjabat sebagai Bupati Probolinggo sekitar 3 tahun. Yakni mulai 1840 hingga tahun 1843.
Raden Adipati Tjokronegoro
Raden Adipati Tjokronegoro sering juga disapa Cokronegoro. Ia memimpin Kabupaten Probolinggo lumayan lama. Mulai sekitar tahun 1843 hingga tahun 1855.
Raden Adipati Tjokronegoro dikenal sebagai bagian dari keluarga bangsawan Tjokronegoro yang berpengaruh di kawasan pesisir Jawa Timur.
Ia juga tercatat merupakan saudara kandung Bupati Sidoarjo yang ke dua. Yakni Raden Adipati Ario Tjokronegoro yang juga dijuliki Jaantje Van Amsterdam.
Raden Adipati Soeroadhinegoro
Raden Adipati Soeroadhinegoro dikenal memimpin Kabupaten Probolinggo cukup lama juga. Yakni menjabat sebagai bupati pada tahun 1855 hingga tahun 1879.
Raden Tumenggung Soerdjoningrat
Ia memimpin Kabupaten Probolinggo sekitar 9 tahun. Yakni mulai tahun 1879 hingga 1888.
Raden Tumenggung Widjojokoesoemo
Raden Tumenggung Widjojokoesoemo adalah salah satu tokoh historis yang tercatat sebagai Bupati Probolinggo pada periode akhir abad ke-19. Berdasarkan catatan sejarah, ia memerintah Kabupaten Probolinggo selama kurang lebih 6 tahun. Yakni pada periode 1888–1894.
Terdapat catatan yang menyebut Tumenggung Widjojokoesoemo merupakan individu yang sama atau keluarga dekat Bupati Trenggalek pada tahun 1894-1909. Serta kakek dari Jenderal Oerip Soemohardjo.
Raden Tumenggung Soerengrono
Raden Tumenggung Soerengrono menjabat Bupati Probolinggo sekitar 7 tahun. Yakni mulai tahun 1894 hingga tahun 1901.
Raden Tumenggung Abdoel Moegani
Raden Tumenggung Abdoel Moegani memimpin Kabupaten Probolinggo lumayan lama. Yakni sekitar 16 tahun. Mulai tahun 1901 hingga 1916.
Raden Adipati Ario Nitinegoro
Raden Adipati Ario Nitinegoro memimpin Kabupaten Probolinggo sekitar 10 tahun. Mulai tahun 1916 hingga 1926.
Raden Adipati Ario Poedjo
Tahun 1934 menjadi hari bersejarah bagi umat Kristen Jawa di Probolinggo. Pada tahun itu, akhirnya didirikan gereja khusus untuk orang Jawa yang diberi nama Gereja Jawi Wetan. Sebelumnya, mereka harus beribadah di rumah guru Injil, Wirjodarmo.
Gereja ini didirikan di Regentstraat atau saat ini disebut dengan Jalan Ahmad Yani, Kota Probolinggo. Lokasinya tidak jauh dari Pendapa Kabupaten Probolinggo.
Baca Juga: Gereja Jawi Wetan Probolinggo yang jadi Gereja Jawa Pertama di Probolinggo
Ini tidak terlepas dari peran Bupati Probolinggo saat itu, "Raden Adipati Ario Poedjo" yang menjabat periode 1930–1943. Dia adalah Bupati Probolinggo ke-18 menggantikan bupati sebelumnya, Raden Adipati Ario Nitinegoro.
Poedjo adalah anak dari Gadroen, seorang guru di Sekolah Misionaris di Mojowarnom. Pembangunan gereja dirintis oleh guru Injil, Wirjodarmo dan keberadaannya menjadi Gereja Jawa yang pertama dibangun di Probolinggo.
Pemerhati sejarah Probolinggo, Edi Martono menyebut, dana pembangunan gereja ini dikumpulkan dari sumbangan para jemaat oleh bendahara Zr. Sardremi. Gereja ini dibangun dengan kerangka besi yang dipasok oleh Carl Schlieper. Kemudian diisi dengan pasangan batu bata.
Raden Abdul Rahim Pratalikrama
Nama Raden Abdul Rahim Pratalikrama tercatat memimpin Kabupaten Probolinggo cukup singkat. Hanya sekitar setahun. Yakni tahun 1943 hingga 1944.
Raden Abdul Rahim Pratalikrama, salah satu putra Raden Wongsotaruno, Patih Sampang yang asli Sumenep. Ia juga kakak dari Abdul Halim Perdanakusuma, Pahlawan Nasional yang gugur dalam menjalankan tugasnya pada 1947.
Lahir di Sumenep pada 10 Juni 1898. Abdul Rahim dibesarkan dalam lingkungan keluarga bangsawan Sumenep. Kakek buyutnya, Raden Tumenggung Rangga Kertabasa Pratalikrama merupakan petinggi Keraton Sumenep di masa Panembahan Sumolo dan Sultan Abdurrahman.
Mas Soedarnotoamidarmo
Nama Mas Soedarnotoamidarmo memimpin Kabupaten Probolinggo sekitar 3 tahun. Ia menjabat mulai tahun 1944 hingga 1947.
Raden Soedoet Alip
Raden Soedoet Alip menjadi Bupati Probolinggo sekitar dua tahun. Mulai tahun 1947 hingga 1949.
M Soesilo Tondo Anudjojo
M Soesilo Tondo Anudjojo menjabat sebagai Bupati Probolinggo dalam waktu singkat sekitar setahun saja. Yakni mulai tahun 1949 hingga 1950.
M Soebandi Hadinoto
M. Soebandi Hadinoto adalah Bupati Probolinggo ke-23 yang menjabat pada periode 1950-1957. Ia memimpin selama kurun waktu 7-8 tahun, menggantikan M. Soesilo Tondo Anudjojo.
Ia memimpin pada masa awal transisi pemerintahan pasca-kemerdekaan Republik Indonesia.
Ki Ahmad Tahir Hadisuparto
Ki Ahmad Tahir Hadisuparto memimpin Kabupaten Probolinggo periode tahun 1958 hingga 1960.
Raden Latip
Raden Latip menjadi Bupati Probolinggo pada periode tahun 1960 hingga tahun 1966 atau sekitar 6 tahun.
H Moehamad Ishak
H Moehamad Ishak memimpin Kabupaten Probolinggo dalam kurun waktu tahun 1966 hingga tahun 1973.
Kolonel Infanteri Moehamad Sunjoto
Kolonel Inf Moehamad Sunjoto memimpin Kabupaten Probolinggo periode tahun 1973-1978 atau sekitar 5 tahun.
Kol. Pol. H.R. Soedirman Mertoadikoesoemo
Kol. Pol. H.R. Soedirman Mertoadikoesoemo merupakan tokoh polisi yang kenyang pengalaman. Sebelum dipilih jadi Bupati Probolinggo, ia sempat jadi Bupati Jombang pada tahun 1973 hingga 1979. Ia jadi bupati termuda saat itu (berusia 41 tahun). Ia juga cukup sukses membuat tim sepak bola asal Jombang PSID melejit kala itu.
Kol. Pol. H. Soetardjo
Ia menjabat sebagai Bupati Probolinggo sekitar 5 tahun. Mulai periode tahun 1978 hingga tahun 1983.
Kol. Pol. Soeprapto
Soeprapto memimpin Kabupaten Probolinggo sekitar 5 tahun. Mulai periode tahun 1988 hingga 1993.
Kol. Inf Pamudji
Ia memimpin Kabupaten Probolinggo sekitar 5 tahun. Mulai periode tahun 1993 hingga 1998.
Kol CZI Murhadi
Kol CZI Murhadi memimpin Kabupaten Probolinggo sekitar 5 tahun. Mulai periode tahun 1998 hingga 2003.
Drs KH Hasan Aminuddin
Hasan Aminuddin merupakan politisi kawakan asal Kabupaten Probolinggo. Pengalamannya segudang membuatnya terpilih menjadi Bupati Probolinggo selama 2 periode.
Hasan memiliki rekam jejak dalam dunia politik dan pendidikan. Karier politiknya dimulai sebagai Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo pada periode 1992–1998.
Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo dari 1999–2003.
Pada tahun 2003—2013, Hasan terpilih sebagai Bupati Probolinggo, sebuah posisi yang diembannya selama dua periode.
Di periode pertama, ia memimpin Kabupaten Probolinggo berpasangan dengan Hapur Abdul Ghafur sebagai wakilnya.
Pada 2013, Hasan Aminuddin kembali terpilih dalam pemilu sebagai Bupati Probolinggo. Kali ini ia berpasangan dengan Salim Qurays sebagai wakilnya. Mereka menjabat hingga 2018.
Salah satu kebijakan strategis Hasan Aminuddin saat memimpin Kabupaten Probolinggo yakni menetapkan Kraksaan sebagai ibu kota Kabupaten Probolinggo.
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Bupati Probolinggo, Hasan Aminuddin melanjutkan pengabdiannya di tingkat nasional dengan menjadi Anggota DPR RI Fraksi NasDem selama dua periode. Yakni 2014–2019 dan 2019–2021.
Hasan juga pernah tercatat sebagai anggota DPR RI dengan raihan suara terbanyak kala itu. Hasan maju jadi anggota DPR RI dari Partai Nasdem.
Namun, karir politiknya ternoda usai ia terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KP) terkait kasus jual beli jabatan Pj Kades di Kabupaten Probolinggo.
Hasan ditangkap bersama istrinya Puput Tantriana Sari yang kala itu menjabat sebagai Bupati Probolinggo pada tahun 2021.
Hj Puput Tantriana Sari
Puput Tantriana Sari tercatat memimpin Kabupaten Probolinggo dari tahun 2013 hingga 2021. Atau dua periode.
Tantri –sapaan akrabnya- dilantik pada 20 Februari 2013. Ia adalah istri dari bupati sebelumnya Hasan Aminuddin. Saat dilantik, Tantri merupakan salah satu bupati wanita termuda se-Indonesia.
Ia memenangkan Pilkada Probolinggo 2012 dengan perolehan suara 250.892 suara, mengalahkan pasangan Salim Quraiys dan Agus Setyawan yang meraih 190.702 suara dan pasangan Kusnadi dan Wahid Nurrachman mendapat 28,33 persen atau 174.596 suara.
Pada Pilbup Probolinggo 2018, Tantri yang kembali menggandeng Timbul Prihanjoko sebagai wakilnya kembali menang. Mereka unggul atas pasangan Malik Haramain-Muzayyan.
Namun Tantri tak mampu menyelesaikan periode keduanya memimpin Kabupaten Probolinggo. Pada 2021, ia terjerat OTT KPK bersama suaminya Hasan Aminuddin terkait kasus jual beli jabatan Pj Kades.
Drs. H. A. Timbul Prihanjoko
Timbul Prihanjoko merupakan politisi PDIP yang kenyang pengalaman. Ia tercatat sebagai pemegang rekor Bupati Probolinggo paling singkat. Hanya 18 hari.
Cerita Timbul Prihanjoko menjadi Bupati Probolinggo tersingkat tak lepas dari “badai” yang menerjang Pemkab Probolinggo pada 2021 silam.
Saat itu, KPK melakukan OTT pada Bupati Tantri dan suaminya yang kala itu jadi anggota DPR RI Hasan Aminuddin atas kasus jual beli jabatan Pj Kades.
Setelah OTT KPK, Timbul yang merupakan wakil Bupati Tantri kala itu, lantas dilantik jadi Plt Bupati Probolinggo periode 2021-2023.
Pada 6 September 2023 Timbul dilantik jadi Bupati Probolinggo definitif. Namun, masa jabatannya berakhir pada 24 September 2023. Hal itu menjadikannya salah satu bupati dengan masa jabatan tersingkat di Indonesia untuk menyelesaikan sisa jabatan.
dr. H. Muhammad Haris M.Kes.
Pria yang akrab disapa Gus Haris ini saat ini tercatat sebagai Bupati Probolinggo aktif. Ia dilantik menjadi Bupati Probolinggo pada 20 Februari 2025. Gus Haris didampingi AHZ Fahmi sebagai wakilnya hingga tahun 2030 mendatang.
Duet Gus Haris dan Lora Fahmi merupakan pemimpin dengan latar belakang pesantren yang kuat. Gus Haris merupakan tokoh dari Ponpes Zainul Hasan Genggong di Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Sementara Lora Fahmi merupakan tokoh dari Ponpes Nurul Jadid Paiton.
Baca Juga: Partisipasi Pemilih Pilbup Probolinggo Jauh di Bawah Target Nasional, Begini Kata KPU
Pasangan ini memenangi Pilbup Probolinggo 2024 melawan pasangan Zulmi Noor Hasani dan Rasyid. Zulmi merupakan putra dari mantan Bupati Probolinggo 2 periode Hasan Aminuddin.
Itulah daftar Bupati Probolinggo dari masa ke masa. Dengan mengetahui kepemimpinan bupati, kita juga mengetahui sejarah Kabupaten Probolinggo dari masa ke masa. (mie)
Editor : Muhammad Fahmi