Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Enam Belas Kecamatan di Kabupaten Probolinggo Masih jadi Zona Merah, Mana Saja?

Achmad Arianto • Jumat, 10 April 2026 | 05:57 WIB
RAWAN: Personel BPBD menutupi longsor dengan terpal di Tiris beberapa waktu lalu. (Foto: dok Jawa Pos Radar Bromo)
RAWAN: Personel BPBD menutupi longsor dengan terpal di Tiris beberapa waktu lalu. (Foto: dok Jawa Pos Radar Bromo)

DRINGU, Radar Bromo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo berupaya melakukan mitigasi bencana sedini mungkin.

Pemetaan wilayah rawan atau zona merah kebencanaan dilakukan secara berkala karena hingga awal April 16 wilayah dinyatakan zona merah.

Insiden bencana menjadi perhatian serius lalu ditindaklanjuti dengan mitigasi bencana. Peta kerawanan tersebut dilakukan mengacu pada jumlah insiden bencana yang telah terjadi.

Dengan demikian potensi bencana dapat diminimalisir. Harapannya tidak sampai menimbulkan banyak kerugian materiil bahkan sampai jatuh korban jiwa.

“Sekecil apapun potensi bencana yang dapat terjadi tentunya menjadi atensi. Perlu ada mitigasi agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief.

Sejak Januari sampai dengan awal April tercatat 16 kecamatan masuk zona merah sebab telah terjadi bencana 7 insiden atau lebih.

Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Kraksaan dengan 20 insiden bencana, Krejengan 18 insiden bencana, Pakuniran 17 insiden bencana, Tongas 15 insiden bencana, Sumberasih 13 insiden bencana, dan Gading 11 insiden bencana.

Selanjutnya Kecamatan Kotaanyar dan Leces dengan 9 insiden bencana. Lalu Kecamatan Maron, Pajarakan, Paiton, Besuk, Krucil terjadi 8 insiden bencana. Sementara Kecamatan Lumbang, Gending dan Tiris masing-masing 7 kejadian.

Jumlah tersebut naik dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sebab wilayah lain yang sebelumnya masuk zona kuning mengalami bencana lainnya. Sehingga masuk zona merah dan harus diwaspadai.

“Mayoritas bencana yang terjadi adalah cuaca ekstrim dan angin kencang, longsor, banjir atau genangan,” ucapnya.

Oemar menegaskan potensi bencana yang terjadi berbeda-beda tergantung dengan letak dan kondisi geografis.

Namun pada prinsipnya semua wilayah berpotensi terjadi bencana. Hanya saja wilayah yang sering terjadi bencana lebih menjadi atensi. Sebab berkaitan dengan penanganan dan koordinasi lanjutan yang perlu dilakukan.

“Koordinasi dengan OPD terkait dan Forkopimca kami lakukan harapannya dapat menekan potensi bencana. Serta melakukan percepatan penanganan dan pemulihan pasca bencana,” pungkasnya. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#bpbd #musim hujan #zona merah