SUKAPURA, Radar Bromo –Proyek penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Gunung Bromo mulai memasuki tahap produksi material utama.
Patok-patok beton sebagai pembatas jalur kini telah diproduksi di pabrik di Surabaya dan siap didistribusikan ke lokasi.
Direktur PT Tata Bangun Asia Ahmad Muntaha menjelaskan, setiap patok memiliki panjang 2,5 meter.
Dari ukuran tersebut, 1 meter akan ditanam ke dalam tanah. Sementara 1,5 meter sisanya akan tampak di permukaan sebagai pagar pembatas jalur.
“Badan tiang akan dicat hitam dan kuning. Untuk penguat di bagian bawah, kami tambahkan footplate berukuran 30 x 30 sentimeter dengan ketebalan 15 sentimeter,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh patok diproduksi menggunakan sistem pracetak (precast) di pabrik.
Metode ini dipilih agar proses pemasangan di lapangan lebih cepat dan tidak memerlukan pengecoran, sehingga meminimalkan gangguan di kawasan wisata. Juga menjaga kelestarian lingkungan.
“Di lokasi tidak ada pengecoran. Tinggal gali dan pasang. Dengan begitu, aktivitas wisata di Bromo tetap bisa berjalan selama proyek berlangsung,” jelasnya.
Untuk proses distribusi, patok beton akan diangkut menggunakan truk tronton dari Surabaya hingga exit Tol Probolinggo Barat.
Selanjutnya, material dipindahkan ke kendaraan yang lebih kecil guna menyesuaikan kondisi jalan menuju kawasan Bromo.
“Sampai exit tol menggunakan tronton. Setelah itu kami gunakan kendaraan kecil menuju lokasi,” tambahnya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, kontraktor juga menyiapkan dua unit alat berat berukuran kecil.
Dari sisi beban, alat tersebut setara dengan kendaraan jip. Sehingga dinilai lebih aman bagi kondisi jalan di kawasan wisata.
Namun mobilisasi alat berat menghadapi kendala berupa portal permanen di sejumlah ruas jalan menuju Gunung Bromo. Untuk mengatasinya, disiapkan dua skenario.
Pertama, menurunkan alat berat dari kendaraan pengangkut sebelum melewati portal. Opsi kedua adalah membongkar bagian atas portal agar alat berat dapat langsung melintas.
“Kemungkinan besar kami pilih alat berat turun dulu dari towing, lewat bawah portal, lalu naik lagi. Itu lebih memungkinkan daripada harus membongkar portal,” terangnya.
Sebagai penunjang operasional, direksi akan ditempatkan di kawasan Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo.
Sementara itu, pekerjaan JLKT direncanakan dimulai dari titik Watu Gedhe di Kabupaten Probolinggo dan berakhir di kawasan Bongkah Dingklik, Kabupaten Pasuruan.
Dengan dimulainya produksi patok beton ini, proyek penataan JLKT diharapkan dapat berjalan lebih efisien.
Tidak mengganggu aktivitas wisata maupun kelestarian lingkungan di kawasan kaldera Gunung Bromo. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi