SUKAPURA, Radar Bromo–Penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Gunung Bromo terus dimatangkan. Sebanyak 9.725 patok beton akan dipasang sebagai pembatas jalur dalam proyek yang bertujuan menjaga kelestarian kaldera, sekaligus menata aktivitas wisata itu.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) telah menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah pemangku kepentingan, Senin (6/4).
Dalam rapat tersebut, dipastikan bahwa proyek JLKT akan dikerjakan oleh PT Tata Bangun Asia.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Provinsi Jawa Timur I Nyoman Gunadi yang hadir menjelaskan, desain awal jalur sempat dirancang melingkar mengikuti tepian kaldera Gunung Bromo.
Namun rencana tersebut kemudian disesuaikan dengan mempertimbangkan masukan masyarakat adat Tengger.
“Awalnya memang dirancang melingkar di tepian kaldera. Tetapi karena ada saran dari masyarakat adat, kami memilih mengubah desainnya. Kami menilai masyarakat setempat lebih memahami hal-hal nonfisik di kawasan ini,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ini akan dilakukan Senin (13/4) oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Bersamaan dengan itu, juga akan dimulai pembangunan dua tandon air di rest area Cemoro Lawang dan kawasan Watu Gedhe, Kabupaten Probolinggo.
Nyoman berharap, penataan JLKT mampu mengembalikan karakter pasir kaldera Bromo seperti dahulu yang terkenal dengan kekhasan suaranya. Sehingga sering disebut pasir “berbisik”.
“Saat ini pasir menjadi halus karena sering dilintasi jip. Sehingga pasir tidak lagi menimbulkan bunyi khas seperti dulu,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, kontraktor diminta untuk tetap menghormati kearifan lokal masyarakat Tengger.
Koordinasi dengan tokoh adat, termasuk dukun setempat, menjadi bagian penting dalam proses pengerjaan.
“Kami minta pelaksana tetap berkoordinasi dengan masyarakat adat dan dukun. Kearifan lokal harus menjadi perhatian utama,” tegasnya.
Sebagai bagian dari penataan, sebanyak 9.725 patok pagar akan dipasang menggunakan sistem beton pracetak (precast) menggantikan patok kayu. Setiap patok memiliki panjang 2,5 meter.
Nantinya, satu meter tertanam di tanah dan sisanya 1,5 meter menjadi pembatas di permukaan.
Patok satu dengan yang lain nantinya akan dihubungkan dengan kawat seling dengan ukuran 16 mm.
Sementara itu, jalur jip tidak akan diaspal atau diperkeras secara permanen. Jalur tetap dipertahankan dalam kondisi alami berupa pasir dengan lebar lintasan mencapai 18 meter.
Untuk mengantisipasi potensi banjir di kawasan kaldera, akan dibangun 60 titik sumur resapan. Masing-masing sumur memiliki kedalaman sekitar satu meter, melengkapi fungsi alami kawasan yang sebagian sudah menjadi daerah resapan air alami.
Sebagai informasi, proyek JLKT ini dianggarkan sebesar Rp 11,16 miliar. Sumber anggaran berasal dari kerja sama Indonesia-Norwegia melalui program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang difasilitasi Kementerian Kehutanan RI. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi