KANIGARAN, Radar Bromo- Sejumlah ibu rumah tangga di Kota Probolinggo, beberapa hari terakhir dibuat bingung. Sebab, gas elpiji bersubsidi kemasan 3 kilogram alias elpiji melon mulai sulit didapatkan. Jika ada, di pengecer, harganya jauh lebih mahal. Melebihi harga eceran tertinggi (HET).
Sejumlah pengecer alias toko-toko kehabisan gas elpiji. Alasannya, pengiriman dari pangkalan dibatasi. Sejumlah pengecer pun menaikkan harga jualnya. Sebelum terjadi kelangkaan, gas elpiji tabung 3 kilogram dijual dengan harga Rp 20 ribu. Usai Lebaran 1447 Hijriah, harga naik hingga Rp 22 ribu.
“Harganya naik karena pengiriman dari pangkalan dibatasi juga,” ujar salah seorang pengecer gas elpiji di wilayah Kota Probolinggo.
Ia mengaku, miliki belasan tabung gas elpiji 3 kilogram, namun sisa satu tabung yang terisi. Karena pengiriman dari pangkalan dibatasi, pihaknya hanya melayani sejumlah pembeli yang datang lebih awal.
“Saya dari pangkalan dikirimi hanya beberapa tabung saja. Memang dibatasi dari pangkalan, harganya juga naik,” ujarnya.
Salah seorang warga Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Linda Pratiwi, 30, mengaku sempat kaget karena empat toko pengecer gas elpiji melon yang didatangi kehabisan. Akhirnya, ada pengecer yang sisa satu gas elpiji dan menjual dengan harga Rp 22 ribu. “Tidak masalah sebenarnya naik Rp 2 ribu, yang penting tidak sulit belinya,” ujarnya.
Terpisah Area Manager Comm Rel. & CSR Jatimbalinus PT Pertamina Patra Niaga Ahad Rahedi mengatakan, sejauh ini pengiriman dan pasokan gas elpiji 3 kilogram ke pangkalan-pangkalan di wilayah Kota Probolinggo aman. Tidak ada kelangkaan atau kehabisan gas elpiji di tingkat pangkalan.
Soal harga, Ahad memastikan tidak naik. Di pangkalan tetap dengan HET Rp 18 ribu per tabung. “Jalur distribusi resmi elpiji 3 kg paling akhir berada di pangkalan, bukan pengecer. Jadi, kami imbau masyarakat membeli langsung di pangkalan resmi sebagai solusi. Silakan datang ke pangkalan dan membeli di sana,” terangnya. (mas/rud)
Editor : Fahreza Nuraga