LUMBANG, Radar Bromo –Sempat bisa dilewati motor, akhirnya Jembatan Duren di Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, ambruk total. Badan jembatan ambruk seluruhnya Minggu (29/3) sore.
Akses jalan menuju wisata Air Terjun Madakaripura pun terputus. Tidak ada lagi motor atau warga yang bisa melalui jalan itu.
Sebelumnya, jembatan yang ambruk pada Sabtu (28/3) dini hari itu masih bisa dilewati warga. Sebab, tidak semua badan jalan ambruk.
Saat itu, sebagian badan jalan ambruk ke sisi utara dan menyisakan jalan menggantung dengan lebar sekitar semeter.
Cukup dilalui kendaraan roda dua oleh warga yang hendak ke pasar, ladang, sekolah, maupun ke objek wisata.
Pemkab Probolinggo yang sebelumnya menyiapkan sejumlah akses jalan darurat, dipaksa mempercepat penanganan pascabencana.
Hingga Minggu (29/3), sejumlah upaya darurat mulai dilakukan untuk memulihkan akses jalan warga yang terdampak.
Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief menjelaskan, pihaknya langsung membangun jembatan darurat setelah dilakukan asesmen pada Sabtu (28/3) sore.
Jembatan dibangun di sisi selatan jembatan utama yang ambruk khusus untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
“Jembatan darurat ini kami bangun untuk sementara agar aktivitas warga tetap bisa berjalan, meski terbatas untuk sepeda motor,” ujarnya.
Pembangunan jembatan darurat ini turut melibatkan warga setempat. Menggunakan material sederhana berupa batang bambu dan 14 lembar sesek bambu. Jembatan memiliki panjang sekitar 15 meter dengan lebar 1,5 meter.
“Kemungkinan baru selesai besok (hari ini, Red). Rencananya besok warga juga akan kerja bakti membersihkan ladang di sekitar lokasi untuk membuka jalur sepeda motor agar lebih mudah dilalui,” terang Sianto, 35, warga Desa Negororejo yang ikut membantu pembangunan jembatan sementara.
Selain itu, penanganan juga difokuskan pada pembersihan material longsor yang menutup aliran Curah Soyo di bawah jembatan.
Satu unit ekskavator long arm milik Dinas PUPR Perkim Kabupaten Probolinggo diterjunkan ke lokasi untuk mengeruk material jembatan yang ambruk dan jatuh ke curah.
Operator ekskavator, Sudarsono mengatakan, pengerukan dilakukan untuk memastikan aliran air di curah tidak tersumbat.
“Kami bersihkan dulu material longsor yang menutup aliran sungai atau curah. Sambil menunggu bantuan jembatan dari TNI, baru nanti dilakukan perbaikan jembatan secara bertahap,” jelasnya.
Dukungan juga datang dari TNI. Dandim 0820 Probolinggo Letkol Infanteri Ribut Yodo Aprianto menyampaikan, dalam waktu dekat pihaknya akan membantu percepatan pemulihan akses jalan menuju kawasan wisata Air Terjun Madakaripura.
Rencananya, akan dipasang jembatan bailey di lokasi jembatan yang ambruk sebagai jalur alternatif sementara.
“Jembatan bailey ini akses jalan sementara sambil menunggu pembangunan jembatan permanen. Harapannya, mobilitas masyarakat bisa segera pulih,” tuturnya.
Di sisi lain, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Probolinggo menutup total Jembatan Duren demi keselamatan pengguna jalan.
Kepala Dishub Kabupaten Probolinggo Edy Suryanto mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan jalur alternatif.
Jalan alternatif yang direkomendasikan memiliki jarak tempuh 12 kilometer dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit. Jalan itu bisa dilalui kendaraan roda dua, roda empat, maupun angkutan barang.
Dari Dusun Krajan, Desa Negororejo, jalur alternatif ini melewati Desa Welulang (Kabupaten Pasuruan), Desa Pamatan (Kecamatan Tongas), hingga Desa Lumbang (Kabupaten Pasuruan). Ada juga jalur alternatif lain melalui New Forest Park, Jalan Merak Desa Sapih dan Desa Lambangkuning.
“Namun jalur ini belum kami rekomendasikan karena sebagian kondisi jalan masih belum aman, rimbun, dan licin akibat lama tidak digunakan,” jelasnya.
Edy mengimbau masyarakat untuk mematuhi rekayasa lalu lintas yang telah disiapkan dan tidak memaksakan diri melintasi jalur yang terputus.
“Mohon masyarakat tidak nekat melewati jalur yang rusak hingga jembatan darurat benar-benar siap digunakan,” tegasnya.
Sebelum jembatan ambruk total, masih ada sejumlah warga yang nekat melintasi jalur yang nyaris putus total.
Bahkan, warga memasang sesek bambu di atas sisa badan jalan yang tinggal sekitar satu meter untuk dijadikan lintasan darurat sepeda motor.
Suwarno, salah satu warga setempat, mengaku memahami risiko tersebut. Namun ia menyebut keterbatasan waktu tempuh menjadi alasan sebagian warga tetap nekat melintas.
“Kalau lewat jalur alternatif memang bisa, saya sempat mencoba lewat Pamatan-Tongas untuk ke pasar. Tapi dari yang biasanya cuma 10 menit, jadi sampai dua jam karena harus memutar jauh,” ungkapnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi