LUMBANG, Radar Bromo-Ambruknya Jembatan Duren di Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, berdampak langsung pada akses jalan menuju objek wisata Air Terjun Madakaripura.
Jalur utama menuju destinasi unggulan tersebut otomatis terputus. Meski demikian, aktivitas wisata belum sepenuhnya terhenti.
Kepala Dusun Kunci, Desa Negororejo, Miarso menyampaikan, Air Terjun Madakaripura beroperasi seperti biasa. Hanya saja, akses menuju lokasi kini terbatas.
“Masih bisa dilewati, tapi hanya sekitar satu meter lebar jalan yang tersisa di jembatan. Warga gotong royong menaburkan pasir di sana agar tidak licin,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat setempat juga berencana membuka kantong parkir di sekitar lokasi.
“Nanti kendaraan pengunjung parkir di sini, sebelum jembatan. Selanjutnya bisa melanjutkan perjalanan ke Madakaripura menggunakan ojek,” imbuh Miarso.
Dukungan transportasi pun telah disiapkan. Warga setempat, Siarto, 56, menyebut, sedikitnya 100 pengemudi ojek siap melayani wisatawan dari dua sisi jembatan.
“Ada sekitar 50 ojek di sisi utara dan 50 di sisi selatan. Nanti bergantian, ada yang mengantar naik dan ada yang menjemput turun,” jelasnya.
Minat wisatawan sendiri memang tidak surut, meski akses jalan terganggu. Dalam sehari Minggu (29/3), sekitar 100 pengunjung memanfaatkan jasa ojek untuk menuju lokasi air terjun.
“Sekali antar Rp 20 ribu, jadi pulang-pergi Rp 40 ribu. Memang lebih mahal dari biasanya yang Rp 15 ribu. Sebab, titik jemput sekarang lebih jauh. Tapi pengunjung tetap mau,” terang Siarto.
Lia, 25, wisatawan asal Jombang mengaku tidak tahu bahwa jembatan menuju Madakaripura ambruk. Ia baru tahu setiba di lokasi.
“Tadi sempat diminta putar balik, jalannya juga dipasangi water barrier. Ternyata ada longsor,” katanya.
Lia mengaku masih mempertimbangkan untuk melanjutkan perjalanan. “Masih lihat kondisi dulu. Kalau memungkinkan, ya lanjut. Tadi juga ditawari naik ojek,” ujarnya.
Selain lewat Jembatan Duren, akses menuju Madakaripura sebenarnya bisa ditempuh melalui Desa Sapih, Lumbang atau Desa Sanganom, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.
Namun jalur tersebut memutar dan membutuhkan waktu tempuh hingga dua kali lipat lebih lama. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi