Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Lima Orang Hilang di Perairan Probolinggo Sepanjang 2026 Belum Ditemukan, Ini Kendalanya

Inneke Agustin • Kamis, 26 Maret 2026 | 21:34 WIB
MENCARI: Pencarian Syawali beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh Tim SAR Gabungan. Sayangnya, korban tak ketemu.
MENCARI: Pencarian Syawali beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh Tim SAR Gabungan. Sayangnya, korban tak ketemu.

MEMASUKI 2026, di Kabupaten Probolinggo, banyak “kecelakaan” di perairan yang makan korban jiwa. Bahkan, sejauh ini ada lima orang yang belum diketahui keberadaannya. Dua diantaranya merupakan anak-anak.

Sejak awal hingga pertengahan Maret 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, telah melaksanakan lima operasi pencarian dan pertolongan. Dari seluruh operasi itu, belum satu pun korban yang berhasil ditemukan.

“Dari lima kejadian itu, dua korban dilaporkan hilang di aliran sungai. Sementara, tiga lainnya hilang di wilayah laut. Hingga saat ini seluruh korban masih belum ditemukan,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief.

Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Probolinggo Jumadi menjelaskan, ada sejumlah kendala dihadapi selama proses pencarian. Salah satu yang paling menonjol adalah minimnya saksi yang benar-benar melihat langsung korban saat diduga jatuh ke perairan.

“Seperti kasus di perairan Desa Curahsawo dan Sungai Bayeman, kami tidak memiliki saksi yang melihat langsung korban masuk ke air. Informasi yang kami terima hanya berdasarkan dugaan, seperti adanya jejak kaki atau barang milik korban yang ditemukan di sekitar lokasi,” jelasnya.

Kendala lain juga muncul pada pencarian nelayan yang hilang di Perairan Utara Pulau Gili Ketapang. Menurut Jumadi, luasnya area pencarian menjadi tantangan tersendiri sementara sarana yang dimiliki masih terbatas.

“Wilayah laut yang harus disisir cukup luas, sedangkan kapal yang kami miliki terbatas. Saat itu kami juga mendapat bantuan kapal dari TNI AL. Namun, dalam pencarian, justru ditemukan korban lain yang sebelumnya dilaporkan hilang dari wilayah Kedungasem,” jelasnya.

Dalam kasus nelayan hilang di Perairan Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan dan korban hilang di Sungai Desa Sidodadi, Kecamatan Paiton, informasi awal dinilai valid. Namun, kondisi alam menjadi faktor penghambat utama dalam proses pencarian.

“Di perairan Kalibuntu, arus laut saat itu cukup deras dan mengarah ke Madura, sehingga kemungkinan korban terbawa hingga ke wilayah tersebut. Sedangkan di Sungai Sidodadi, sehari setelah kejadian terjadi banjir yang diduga mengubah posisi korban dan menyulitkan pencarian,” ujarnya.

Terkendala Saksi dan Kondisi Lokasi

SAKSI menjadi kunci penting dalam sebuah kasus. Termasuk dalam pencarian orang hilang di perairan. Tanpa saksi yang benar-benar melihat korban ketika kejadian, pencarian bisa dilakukan hanya berdasarkan dugaan. Begitu juga kondisi alam.

Anggota Basarnas Banyuwangi Andi Irawan menjelaskan, pada pencarian balita di Sungai Bayeman, Kecamatan Tongas, tim tidak dapat menggunakan alat pendeteksi bawah air aqua eye. Hal ini disebabkan kondisi perairan yang tidak mendukung.

“Aqua eye efektif digunakan di perairan tenang seperti danau atau rawa. Sementara, di Sungai Bayeman, berarus dan airnya keruh, sehingga jarak pandang sangat terbatas. Selain itu, banyak hambatan seperti barongan di aliran sungai,” jelasnya.

Andi menambahkan, minimnya saksi mata yang melihat langsung kejadian juga menjadi kendala utama. Terutama dalam menentukan titik awal pencarian.

“Jika memang korban benar-benar jatuh di lokasi itu, seharusnya sudah bisa ditemukan. Apalagi di area muara cukup banyak aktivitas nelayan yang melintas,” katanya. (gus/rud)

Orang Hilang Kercelakaan Air Belum Ditemukan

Rabu, 31 Desember 2025

Juari Muksen, 71, dilaporkan hilang perairan Desa Curahsawo, Kecamatan Gending atas nama.

 Jumat, 30 Januari 2026

Matsadi, 60, dilaporkan hilang laut utara perairan Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih.

 Selasa, 3 Februrari 2026

Muhammad Arsyad Arrozi, 2, dilaporkan hilang di Sungai Bayeman, Kecamatan Tongas.

 Sabtu, 21 Februari 2026

Mat Tinggal, 62, dilaporkan hilang di laut utara perairan Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan.

Sabtu, 21 Februari 2026

Aura Firza Farzana, 10, dilaporkan hilang di Sungai Desa Sidodadi, Kecamatan Paiton.

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#sar #kecelakaan air #perairan #orang hilang #probolinggo