Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warga Binaan di Lapas Probolinggo Tetap Khidmat Rayakan Lebaran Meski di Ruang Terbatas

Inneke Agustin • Sabtu, 21 Maret 2026 | 18:31 WIB
KHIDMAT: Suasana Sholat Ied di dalam Lapas Kelas IIB Probolinggo, Sabtu (21/3). (Foto : INNEKE AGUSTIN/Jawa Pos Radar Bromo)
KHIDMAT: Suasana Sholat Ied di dalam Lapas Kelas IIB Probolinggo, Sabtu (21/3). (Foto : INNEKE AGUSTIN/Jawa Pos Radar Bromo)

 

PROBOL1INGO, Radar Bromo-Lebaran selalu datang membawa cahaya yang sama: harapan, kehangatan, dan kerinduan akan kembali pada fitrah. Cahaya itu pula yang merambat masuk ke balik tembok tinggi Lapas Kelas IIB Probolinggo, menjelma suasana yang tak kalah khidmat, meski dirayakan di ruang yang terbatas.

Sejak Jumat (20/3) malam, denyut Idul Fitri mulai terasa. Takbir menggema, bukan dari jalanan kota, melainkan dari lorong-lorong blok hunian.

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) bersama Kepala Lapas dan jajaran pegawai menyusuri setiap sudut lapas, melantunkan puji-pujian kepada Sang Pencipta.

Takbiran keliling itu menjadi pemandangan yang tak biasa—sebuah tradisi baru yang dihadirkan untuk menghidupkan semangat lebaran di dalam lapas.

“Kami ingin menghadirkan suasana yang berbeda. Tahun-tahun sebelumnya belum ada tradisi seperti ini. Karena itu, bersama DKM, kami berinisiatif menghidupkan malam takbiran agar warga binaan juga merasakan hangatnya Idul Fitri,” ujar Kepala Lapas Kelas IIB Probolinggo, Muhammad Bayu Hendaruseto.

Keesokan paginya, Sabtu (21/3), gema takbir kembali menyatu dengan langkah-langkah para warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Mereka berjalan menuju lapangan dan aula lapas, membentuk shaf demi shaf dengan tertib.

Dalam kesederhanaan, sholat Idul Fitri berjamaah dimulai sekitar pukul 06.15, menghadirkan kekhusyukan yang menyentuh.

Dalam khutbahnya, Bayu mengingatkan bahwa Idul Fitri bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Sebuah kesempatan untuk menata diri menjadi lebih baik.

“Setelah sebulan penuh berpuasa, inilah saatnya kita kembali pada fitrah. Menjadi pribadi yang lebih baik, memperbaiki akhlak, dan menata masa depan dengan hal-hal yang positif,” tuturnya di hadapan ratusan jamaah.

Momen itu semakin bermakna dengan pemberian remisi khusus (RK). Sebanyak 505 WBP menerima RK I dengan rincian beragam masa pengurangan hukuman.

Di antaranya, 50 orang memperoleh remisi 15 hari, 401 orang satu bulan, 46 orang satu bulan 15 hari, dan 8 orang dua bulan.

Tak hanya itu, 7 WBP lainnya menerima RK II—yang berarti langsung menghirup udara bebas di hari kemenangan.

Menurut Bayu, remisi bukan sekadar pengurangan masa hukuman, melainkan bentuk kepercayaan yang harus dijaga.

“Ini adalah kesempatan. Harapan kami, keimanan mereka semakin kuat setelah Ramadhan. Dengan iman yang baik, potensi untuk kembali pada tindakan kriminal bisa ditekan. Jadikan ibadah selama Ramadhan sebagai titik awal untuk kehidupan yang lebih baik,” pesannya.

Rangkaian acara Idul Fitri lantas ditutup dengan saling berjabat tangan antar WBP, Kalapas, dan petugas lapas. Suasana makin haru saat para keluarga WBP mengunjungi sanak saudaranya. Mereka tampak antusias membawa sejumlah makanan khas lebaran untuk disantap bersama di dalam lapas.

Keberhasilan perayaan Idul Fitri di dalam lapas, lanjutnya, tak lepas dari kolaborasi banyak pihak. Termasuk DKM yang digerakkan oleh para warga binaan sendiri. Mereka bukan sekadar peserta, tetapi juga pelaku utama dalam menghidupkan kegiatan keagamaan.

“Kami libatkan mereka sepenuhnya. Ini dari mereka dan untuk mereka. Harapannya, menjadi pembelajaran sekaligus ladang amal,” imbuhnya.

Dari sisi keamanan, pihak lapas juga bersinergi dengan TNI dan Polri. Bahkan, posko pengamanan khusus Hari Raya Idul Fitri didirikan di dalam area lapas untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan kondusif.

Di balik suasana itu, terselip kisah haru yang tak terelakkan.

Eko Widodo, 45, salah satu penerima RK II, tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Hari kemenangan tahun ini menjadi gerbang kebebasan baginya.

“Rasanya sangat bersyukur. Momen ini pas sekali dengan lebaran. Saya ingin segera pulang ke Nganjuk, sudah sangat rindu dengan keluarga,” ucapnya lirih. Ia berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang pernah membawanya ke balik jeruji.

Sementara itu, Sugeng Widodo, 47, yang menerima remisi dua bulan, memilih merawat syukur di tengah keterbatasan. Empat tahun sudah ia melewati lebaran tanpa keluarga. Namun, keterlibatannya dalam DKM membuatnya menemukan makna kebersamaan yang baru.

“Di sini kami tetap bisa merasakan lebaran. Takbiran bersama, saling menguatkan. Jadi tidak merasa sendirian,” tuturnya.

Ia menceritakan bagaimana 34 anggota DKM bahu-membahu mempersiapkan malam takbiran. Dengan rebana di tangan, mereka berkeliling blok hunian selama satu jam, menebarkan semangat kebersamaan hingga pukul 21.00.

“Kami saling mendukung. Moto kami sederhana: kekeluargaan, kebersamaan, dan memberi solusi,” katanya.

Meski demikian, rindu tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan. Rindu akan pelukan keluarga, rindu akan hidangan khas lebaran yang tak tergantikan.

“Saya hanya bisa menelepon mereka. Mereka juga tidak bisa ke sini karena jauh. Tapi saya berjanji, ketika nanti bebas, saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama," ucap Sugeng dengan mata berkaca-kaca.

Di balik tembok lapas yang kokoh, Idul Fitri tetap menemukan jalannya. Ia hadir dalam gema takbir, dalam sujud yang khusyuk, dalam air mata penyesalan, dan dalam janji untuk berubah. (gus/one)

 

Editor : Fandi Armanto
#warga binaan #lebaran #lapas probolinggo