Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Khidmatnya Perayaan Tawur Agung dan Pawai Ogoh-ogoh di Sumber Probolinggo

Inneke Agustin • Rabu, 18 Maret 2026 | 20:17 WIB

 

TRADISI SEBELUM NYEPI: Pawai Ogoh-ogoh yang menjadi tontonan warga di Kecamatan Sumber. (Inneke Agustin/ Radar Bromo)
TRADISI SEBELUM NYEPI: Pawai Ogoh-ogoh yang menjadi tontonan warga di Kecamatan Sumber. (Inneke Agustin/ Radar Bromo)

SUMBER, Radar Bromo-Ribuan umat Hindu di Kecamatan Sumber begitu khidmat menggelar Tawur Agung dan pawai ogoh-ogoh Rabu (18/3).

Ritual sehari sebelum Hari Raya Nyepi tersebut dipusatkan di Jurang Kendil, Desa Sumberanom, Kecamatan Sumber.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menyampaikan, Tawur Agung dan pawai ogoh-ogoh ini masih merupakan rangkaian perayaan Nyepi.

Sebelumnya, umat Hindu juga sudah melaksanakan Melasti. Beberapa ada yang di Widodaren dan ada juga yang di Lumajang. “Besok (hari ini, Red) baru pelaksanaan Nyepi,” katanya.

Bambang menyampaikan bahwa ada sekitar 50 ogoh-ogoh yang ikut pawai, sementara umat yang hadir sekitar 7000-an.

Seluruhnya berasal dari Desa Wonokerso, Desa Gemito, Desa Sumberanom, Desa Pandansari, dan Desa Ledokombo. Ogoh-ogoh tersebut diarak dari masing-masing desa menuju Jurang Pendil, Desa Sumberanom.

“Sesampainya di sini, nanti kami ada doa bersama, kemudian ogoh-ogoh tersebut dibakar dan dibuang ke jurang sebagai simbol menghilangkan nilai negatif dan digantikan dengan nilai positif,” katanya.

Bambang menyampaikan, rangkaian ini juga sebagai introspeksi diri dan nantinya berujung pada pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

“Yakni, amati geni, amati lelungan, amati karya, dan amati lelalungan. Harapannya semoga ke depan bisa jadi lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Agama Hindu SDN Ledokombo I Wido Mahendra menyampaikan, pembakaran ogoh-ogoh memiliki filosofi mengurangi unsur negatif menjadi positif.

“Oleh karena itu, ogoh-ogohnya dibakar. Di perayaan Nyepi, kami menyucikan alam dan diri, serta melaksanakan Catur Brata Penyepian nantinya. Itu dilakukan selama sehari penuh,” jelasnya. (gus/fun)

Editor : Muhammad Fahmi
#tawur agung #ogoh-ogoh tosari #sumber #Nyepi Tahun Baru Saka 1943 #phdi #probolinggo