Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Puluhan Tahun Warga Gending-Probolinggo Ini Tanamkan Kebiasaan Membaca Alquran sejak Masih Anak-Anak

Achmad Syaifudin • Selasa, 17 Maret 2026 | 10:45 WIB
ISTIQAMAH: Khoirul Asnawi terus menghidupkan kegiatan tadarus Alquran ketika Ramadan di Musalah Babur Rohmah. (ACHMAD ARIANTO/JAWA POS RADAR BROMO)
ISTIQAMAH: Khoirul Asnawi terus menghidupkan kegiatan tadarus Alquran ketika Ramadan di Musalah Babur Rohmah. (ACHMAD ARIANTO/JAWA POS RADAR BROMO)

 

TADARUS Alquran bukan sekadar kegiatan yang dilakukan setiap Ramadan. Khoirul Asnawi, 46, puluhan tahun mengajarkan pembiasaan gemar tadarus Alquran kepada santrinya. Selain ibadah, juga sebagai upaya memupuk rasa cinta terhadap Alquran.

Lantunan bacaan Alquran terdengar jelas dari Musala Babur Rohmah. Puluhan santri bergantian membaca Alquran di musala tua di Dusun Pasar, Desa Banyuanyar Lor, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, itu. Puluhan tahun, dari generasi ke generasi, lantunan Alquran selalu terdengar dari musala ini.

Musala Babur Rohmah didirikan oleh Almarhum Kiai Darmawi Amin atau dikenal Kiai Talang pada tahun 1950-an. Layaknya musala pada umumnya, konstruksi pada zaman itu hanya berupa langgar kayu. Dengan struktur bangunan berkerangka kayu jati dan kayu kelapa, serta berdinding gedek. Fungsi awal musala ini hanya digunakan sebagai tempat beribadah. Melaksanakan salat lima waktu berjemaah.

Seiring berjalannya waktu, lingkungan semakin ramai, fungsi musala berkembang. Begitu juga dengan konstruksi bangunannya. Dari hanya tempat salat berjemaah, kemudian digunakan sebagai tempat mengajar mengaji Alquran bagi anak-anak sekitar. Juga ada kegiatan rutinan membaca Diba’ dan pengajian.

“Saat itu, Musala Babur Rohmah merupakan musala satu-satunya di dusun. Tak heran, semakin hari semakin banyak santri datang dan belajar mengaji,” ujar cucu pendiri Musala Babur Rohmah, Khoirul Asnawi.

Karena santri makin banyak, Kiai Talang melibatkan putranya, Kiai Sayadi Mustain, membantunya mengajar Alquran. Sepeninggal Kiai Talang, kepengurusan musala beralih kepada Kiai Sayadi. Bertahun-tahun, ia bersama istrinya mengajar santri.

Usia yang semakin menua, membuat Kiai Sayadi tidak gesit lagi seperti ketika masih muda. Ditambah jumlah santri terus bertambah. Akhirnya, Khoirul Asnawi, turun tangan, turut mengurus musala. Ia juga menjadi pendamping kegiatan keagamaan di musala.

“Dari dulu saat masuk Ramadan, aktivitas tadarus itu sudah menjadi kegiatan rutin. Yang membedakan hanya jumlah santrinya,” katanya.

Kini, tercatat ada 60 santri yang belajar membaca Alquran di Musala Babur Rohmah. Di antaranya, 35 santri putri dan 25 santri putra. Semuanya berasal dari sekitaran musala. Ketika Ramadan, mereka rutin tadarus Alquran. Saban hari tiga kali. Yakni, bakda subuh, asar, dan selepas salat tarawih.

Saat Ramadan, masuk hitungan belasan, jemaah yang tadarus di musala bertambah. Banyak alumni santri yang melanjutkan pendidikannya ke pondok pesantren, sudah pulang dari pondok. Mereka ikut bergabung membaca Alquran di Musala Babur Rohmah.

“Alumni yang mondok biasanya langsung datang tanpa disuruh. Mengikuti tadarus sampai Ramadan berakhir. Karena itulah, paling tidak selama Ramadan, kami bisa tiga kali mengkhatamkan Alquran,” katanya.

Bagi Khoirul, melaksanakan tadarus Alquran, bukan hanya kegiatan rutinan yang dilakukan setiap Ramadan. Terhitung sejak tahun 2000, saat dirinya ikut menjadi tenaga pengajar, telah melakukan pembiasaan gemar membaca Alquran pada santrinya yang mayoritas anak-anak dan remaja tersebut.

Kecintaan pada Alquran, kata Khoirul, tidak bisa datang begitu saja. Melainkan, harus dipupuk melalui kegiatan pembiasaan sejak dini. Dengan demikian, kebiasaan yang sudah terbangun dapat terus dilakukan, tidak hanya saat masih mengaji di musala. Tetapi juga saat nyantri di pondok atau bahkan saat santri sudah dewasa dan kembali ke masyarakat.

“Sering membaca Alquran tentunya akan memupuk rasa cinta pada Alquran. Harus dipupuk sejak masih anak-anak. Tadarus bukan sekadar ibadah saat Ramadan. Tetapi juga salah wujud rasa cinta pada Alquran yang harus terus dilestarikan,” jelasnya. (achmad arianto/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#musala #banyuanyar #al quran #gending #probolinggo