PROBOLINGGO, Radar Bromo - Menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo melaksanakan ritual Melasti, Minggu (15/3).
Upacara penyucian tersebut, berlangsung di sejumlah tempat yang dianggap sakral, terutama di sumber air seperti laut.
Salah satunya dilakukan Wido Mahendra, 29, guru agama Hindu di SDN Ledokombo 1. Ia mengikuti ritual Melasti di kampung halamannya, yakni Pantai Watu Pecak, Kabupaten Lumajang, bersama ribuan umat Hindu lainnya.
Mereka berasal dari Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo, serta wilayah lainnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemberangkatan dari Pura Mandara Giri Semeru Agung, Senduro, sekitar pukul 08.00.
Dari pura tersebut, umat kemudian berjalan menuju Pantai Watu Pecak untuk melaksanakan prosesi penyucian.
Wido menjelaskan bahwa Melasti merupakan upacara penyucian diri sekaligus alam semesta yang dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi.
Dalam prosesi ini, pratima atau simbol-simbol suci dari pura diarak menuju sumber air seperti laut, danau, atau mata air untuk disucikan menggunakan tirta amerta atau air kehidupan.
“Melasti melambangkan proses membersihkan segala kekotoran lahir dan batin atau mala, agar manusia kembali pada kesucian,” ujarnya.
Dalam ajaran Hindu, air laut maupun sumber air lainnya, dipercaya sebagai media penyucian.
Hal tersebut karena, air merupakan simbol kehidupan sekaligus pemurnian.
Melalui ritual itu, umat Hindu berupaya menyucikan Bhuana Alit dan Bhuana Agung.
Bhuana Alit dimaknai sebagai manusia. Sedangkan Bhuana Agung adalah alam semesta.
“Tujuannya membersihkan manusia dan alam semesta dari pengaruh negatif. Selain itu, juga memohon tirta amerta sebagai sumber kehidupan dan keselamatan. Sekaligus mengembalikan kesucian pratima dan simbol-simbol suci yang ada di pura agar kembali sakral,” jelasnya.
Sementara itu, Nestuni Puji, 37 warga Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber mengikuti ritual Melasti di Pantai Balekambang, Kabupaten Malang, pada Sabtu (14/3).
Menurutnya, suasana prosesi di sana juga berlangsung khidmat dan diikuti ribuan umat Hindu dari berbagai daerah.
Nestuni menuturkan, Melasti bukan sekadar tradisi. Tetapi merupakan proses spiritual untuk menyucikan diri, alam, dan kehidupan sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.
“Melalui Melasti ini, kami berharap terwujud kedamaian dan keseimbangan alam, meningkatkan sradha dan bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta mempererat persaudaraan antarumat,” katanya.
Ia menambahkan, nilai-nilai dalam ritual Melasti juga sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam.
“Dengan begitu, diharapkan tercipta kehidupan yang harmonis dan penuh kedamaian,” paparnya. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin