PROBOLINGGO, Radar Bromo- Wilayah Jawa Timur, termasuk Probolinggo, belum aman dari ancaman bencana. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, telah mengeluarkan peringatan dini. Agar masyarakat di wilayah Jawa Timur mewaspadai potensi cuaca ekstrem.
Cuaca tak bersahabat itu diprakirakan terjadi pada 11–20 Maret 2026. Cuaca ekstrem dapat berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat. Potensi ini merupakan dampak adanya gangguan atmosfer Madden Jullian Oscillation (MJO) secara spasial dan Gelombang Kelvin yang akan melintasi wilayah Jawa Timur.
“Akibatnya, berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan.
Taufiq mengatakan, kenaikan suhu muka laut di perairan selatan Jawa Timur masih cukup signifikan. Kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukunga pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
“Kami mengimbau masyarakat dan instasi terkait, senantiasa waspada terhadap perubahan cuaca mendadak serta adanya potensi cuaca ekstrem. Juga pantau terus cuaca terkini berdasarkan citra radar cuaca WOFI,” kata Taufiq.
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Probolinggo Yudha Arisandi mengatakan, saat ini Kota Probolinggo masih memasuki musim peralihan atau pancaroba. Cuaca masih terkadang panas dan terkadang hujan. “Sementara, untuk musim kemarau, datang lebih awal yaitu di bulan April,” tuturnya.
Yudha memastikan, pihaknya masih selalu waspada terkait cuaca ekstrem. Terutama antisipasi genangan air.
“Kami masih rutin melaksanakan Program Gotku Resik bersama pihak kelurahan dan kecamatan. Saling bergotong royong membersihkan drainase yang mampet atau alirannya tidak maksimal. Harapannya tidak ada lagi genangan lagi di kota,” katanya. (gus/rud)
Editor : Fahreza Nuraga