Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cara Pojok Literasi Lestarikan 2 Warisan Budaya Tak Benda Probolinggo: Gelar Bi Bi Bi dengan Bagikan Ketan Kratok

Inneke Agustin • Senin, 16 Maret 2026 | 00:09 WIB

 

Anggota komunitas Pojok Literasi saat menjalankan tradisi Bi Bi Bi dengan bagikan ketan kratok ke sejumlah rumah warga di Sukabumi, Mayangan, Kota Probolinggo. (Inneke Agustin/ Radar Bromo)
Anggota komunitas Pojok Literasi saat menjalankan tradisi Bi Bi Bi dengan bagikan ketan kratok ke sejumlah rumah warga di Sukabumi, Mayangan, Kota Probolinggo. (Inneke Agustin/ Radar Bromo)

 MAYANGAN, Radar Bromo - Suasana berbeda terasa di Pojok Literasi, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Minggu (15/3) sore, digelar tradisi Bi Bi Bi dengan membagikan ketan kratok. 

Kondisi ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, tradisi berbagi tersebut identik dengan berbagai jenis makanan. Namun tahun ini, masyarakat yang hadir mendapatkan ketan kratok.

Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo Edi Martono menjelaskan, Bi Bi Bi yang juga dikenal dengan sebutan Weh-Weh merupakan tradisi berbagi kepada sesama yang telah lama berkembang di masyarakat.

Tradisi ini tidak hanya ditemukan di Kota Probolinggo, tetapi juga di beberapa daerah lain di Jawa Timur, seperti Jember.

Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan pada malam ke-27 bulan Ramadan. Atau di masyarakat Probolinggo dikenal dengan istilah malem petolekoran.

Bi Bi Bi atau Weh-Weh sendiri bermakna memberi. Esensinya adalah berbagi kebahagiaan dengan sesama, khususnya menjelang akhir Ramadan,” ujarnya.

Pada awal kemunculannya, tradisi Bi Bi Bi diwujudkan melalui pemberian makanan sederhana kepada masyarakat. Makanan yang dibagikan umumnya berupa ketan atau nasi serundeng, yang masing-masing memiliki makna filosofis.

Baca Juga: Mengenal Ketan Kratok dan Tradisi Bibibi yang Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda Kota Probolinggo

Ketan yang memiliki tekstur lengket melambangkan eratnya hubungan persaudaraan antarwarga.

Sementara nasi putih mencerminkan kesucian dan serundeng melambangkan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Karena itu, tahun ini kami memilih membagikan ketan kratok yang juga memiliki nilai budaya khas daerah,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya merawat dan melestarikan budaya lokal Kota Probolinggo. Apalagi, tradisi Bi Bi Bi dan kuliner ketan kratok telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTb) milik Kota Probolinggo. Ditambah, rawon gedheng yang belum menjadi warisan budaya tak benda.

Rawon gedheng sendiri merupakan varian rawon khas daerah yang unik. Rawon jenis ini tidak menggunakan daging, melainkan labu siam sebagai isi utamanya.

“Tradisi dan kuliner ini yang kami coba lestarikan sekaligus kami perkenalkan kepada masyarakat. Harapannya, masyarakat semakin mengenal dan ikut menjaga budaya yang ada,” pungkasnya.

Sundari, 78, warga sekitar mengaku senang mendapat berkah ramadhan melalui tradisi Bi Bi Bi.

Ia mengatakan tiap tahun memang ada tradisi seperti ini di lingkungan rumahnya. "Kebetulan ini dapat ketan yang tahun ini. Alhamdulilah bisa untuk buka puasa," ungkapnya. (gus/hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#bi bi bi #pojok literasi #lebaran #tradisi #warisan budaya tak benda #Ketan Kratok #probolinggo