Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kasus TBC Bermunculan, Awal Tahun Sudah Temukan 121 Penderita

Arif Mashudi • Kamis, 12 Maret 2026 | 14:25 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

KANIGARAN, Radar Bromo - Angka kasus TBC (tuberculosis) di Kota Probolinggo masih terbilang tinggi.

Bahkan, sepanjang Januari hinga awal Maret 2026, sudah ditemukan 121 kasus TBC.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Probolinggo dr. Intan Sudarmadi mengatakan, Kota Probolinggo terus berupaya mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.

Namun, masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi. Mulai dari rendahnya investigasi kontak, pasien yang belum memulai pengobatan, serta angka putus obat yang masih terjadi di masyarakat.

Kasus TBC di Kota Probolinggo sendiri, tiap tahunnya masih sangat tinggi. Terbukti, dari hasil skrining yang dilakukan sepanjang 2024. Dari 5.989 orang yang diperiksa, ditemukan sebanyak 954 kasus TBC.

Sementara pada tahun 2025, skrining ditingkatkan pada 6.515 orang. Temuannya, mencapai 788 kasus positif TBC.

Begitu juga tahun 2026 ini. Sepanjang Januari hingga awal Maret 2026 ini, ditemukan 121 kasus TBC.

“Pasien yang menjalani pengobatan meningkat dari 73 persen pada tahun 2024 menjadi 98 persen pada tahun 2025. Kemudian tahun 2026, dari 121 kasus TBC, tingkat kepatuhan pengobatan mencapai 97 persen,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya melakukan berbagai upaya. Agar eliminiasi TBC bisa direalisasikan. Termasuk melibatkan masyarakat dan berbagai pihak.

“Kami berupaya mengurangi stigma terhadap pasien TBC sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dan berbagai pihak dalam mendukung upaya eliminasi penyakit tersebut," jelas dr. Intan.

Sementara itu, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin mengatakan, TBC masih menjadi salah satu penyakit dengan jumlah kasus tinggi di dunia, termasuk di Indonesia.

Secara nasional terdapat sekitar satu juta kasus TBC dengan angka kematian mencapai 125 ribu jiwa setiap tahun.

Salah satu faktor yang membuat TBC sulit diberantas, adalah adanya stigma dan persepsi yang keliru di masyarakat terhadap penderita.

Masa lalu, penyakit tersebut dianggap sebagai kutukan. Sehingga penderitanya sering mengalami pengucilan secara sosial.

“Padahal TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Namun karena pengobatannya cukup lama, yakni sekitar enam bulan, maka dibutuhkan kedisiplinan dan kepatuhan pasien agar tidak terjadi kekebalan kuman,” ujarnya. (mas/one)

Editor : Jawanto Arifin
#tbc #Kota Probolinggo #tuberculosis