PROBOLINGGO, Radar Bromo-Cuaca ekstrem di penghujung musim hujan masih mengancam di Probolinggo. Ini terjadi saat hujan deras mengguyur Probolinggo Minggu (8/3) sore.
Saat hujan, angin kencang juga menerjang Desa Pohsangit Leres, Kecamatan Sumberasih dan Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura. Akibatnya total 10 rumah mengalami kerusakan.
Di Desa Pohsangit Leres, angin terjadi sekitar pukul 15.30. Angin kencang tersebut membuat tiga rumah milik Hamida, 41, rusak. Ia mengaku dirinya tengah beristirahat di dalam rumah dengan 11 anggota keluarga lainnya saat kejadian berlangsung.
“Tiba-tiba angin kencang datang dari arah utara dan ke rumah saya. Tapi sepertinya rumah saya saja yang kena, kayak lokal di sini saja. Makanya yang rusak hanya tiga rumah saya, yang lainnya tidak ada yang rusak,” terangnya.
Kondisi tersebut membuat seisi rumah panik dan berhamburan ke luar. “Bahkan suami saya sampai adzan di depan. Kami berteriak semua di sini. Kaget, takut, ya Allah ya Allah begitu,” jelasnya.
Sejumlah atap bagian teras dan dapur rumah milik Hamida terhempas angin. Alhasil atapnya sempat berlubang pada Minggu (8/3) malam. Namun Hamida lekas memperbaikinya kembali.
“Soalnya kalau tidak langsung diperbaiki, tidak bisa masak nanti. Selain itu khawatir ada hujan lagi, nanti bocor. Baru selesai pukul 20.00 semalam,” terangnya.
Hamida menyampaikan tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun dia mengalami kerugian materil jutaan rupiah. “Saya beli asbes gelombang yang baru, ganti genting depan karena beberapa terbawa angin. Ada sekitar 300 buah genting yang harus diganti,” pungkasnya.
Sementara di Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura ada sebanyak tujuh rumah yang terdampak angin kencang. Angin kencang di wilayah ini terjadi sekitar pukul 16.00.
“Sebelumnya memang ada hujan lebat mulai pukul 15.00. Tiba-tiba cuaca gelap dan angin kencang datang,” kata Juariyah, 49 warga setempat yang terdampak.
Saat kejadian, Juariyah mengaku tengah beristirahat. Angin kencang tiba-tiba bergerak dari arah utara menuju selatan. “Kemudian menerjang beberapa rumah disini. Ada sekitar tujuh rumah,” ungkapnya.
Rumah-rumah tersebut milik Juariyah; Harmoko, 40; Warto, 50; Bambang, 43; Suyit, 50; Sumarti, 60; dan Lasiyati, 55. Tapi paling parah memang rumah Pak Bambang dan Pak Suyit. “Pak Bambang genting ruang tamunya terbang, sementara Pak Suyit rusak dibagian dapur. Sementara yang lainnya hanya rusak ringan seperti pada teras rumah, dapur, dan ruang makan,” katanya.
Pascaangin kencang yang hanya berdurasi sepersekian detik tersebut, warga bergotong-royong untuk memperbaiki atap tiap-tiap rumah yang terdampak.
“Kami menghabiskan ratusan ribu untuk perbaikan atap. Ini segera kami lakukan soalnya khawatir ada hujan lagi,” kata Juariyah.
Jauriyah berharap tidak ada kejadian serupa lagi ke depannya. “Saolnya menegangkan dan bikin was-was. Ini juga kali pertama terjadi hal seperti ini. Orang-orang sampai keluar semua,” pungkasnya. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid