Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Duduk Perkara Ambil Batu untuk Bangun Jembatan Swadaya di Wonomerto Probolinggo, Berujung Cekcok hingga Penganiayaan

Inneke Agustin • Minggu, 8 Maret 2026 | 12:39 WIB

PUKUL: Warga sekitar, Shodikun, 70 saat cekcok dengan warga sekitar karena mengambil batu di sungai di Desa Sepuhgembol, Kecamatan Wonomerto, Jumat (6/3) siang
PUKUL: Warga sekitar, Shodikun, 70 saat cekcok dengan warga sekitar karena mengambil batu di sungai di Desa Sepuhgembol, Kecamatan Wonomerto, Jumat (6/3) siang

WONOMERTO, Radar Bromo— Pembangunan jembatan swadaya warga di Desa Sepuhgembol, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, berujung ricuh.

Seorang warga dipukul dengan balok kayu setelah terjadi cekcok terkait pengambilan batu di sungai untuk material pembangunan.

Peristiwa itu terjadi Jumat (6/3) siang. Korban adalah Sunar, 42. Ia mengalami luka di kepala setelah dipukul Shodikun, 70, warga setempat. Korban lantas dilarikan ke RSUD Ar Rozy untuk mendapatkan perawatan medis.

Peristiwa itu bermula ketika warga gotong royong membangun jembatan desa secara swadaya sejak sekitar sepekan lalu.

Menurut Su’eb, 50, warga setempat, pembangunan hampir rampung. Namun, masih kekurangan sedikit material batu.

“Materialnya kurang sedikit, akhirnya warga berinisiatif mengambil batu di sungai. Kurangnya cuma sekitar dua timba,” ujarnya.

Namun, pengambilan batu itu memicu kemarahan Shodikun yang rumahnya berada di sekitar sungai. Ia melarang warga mengambil material di sekitar rumahnya.

Padahal menurut Su’eb, batu yang diambil warga berasal dari sungai. Bukan dari lahan milik Shodikun, sehingga tidak berpotensi menimbulkan longsor.

“Dari awal sudah mengancam. Katanya kalau ada yang mengambil material dekat rumahnya akan dibacok,” katanya.

Ketegangan memuncak saat beberapa warga mengambil batu untuk melengkapi material pembangunan. Shodikun datang ke lokasi sambil membawa balok kayu dan celurit.

“Kami sempat merekam dengan video supaya dia tidak benar-benar memukul, mungkin takut kalau diviralkan. Tapi ternyata dia tidak takut,” ujar Su’eb.

Dalam keributan itulah, Shodikun memukul korban Sunar dengan balok kayu. Kasus dugaan penganiayaan itu kemudian dilaporkan ke Polsek Wonomerto.

Setelah kejadian, Shodikun masuk ke rumahnya. Warga yang emosi kemudian mengepung rumah tersebut dan meminta yang bersangkutan keluar.

Camat Wonomerto Rasyidhi bersama petugas Polsek Wonomerto, Koramil Wonomerto dan Satpol PP Kabupaten Probolinggo datang ke lokasi untuk meredam situasi.

Saat itu warga sudah banyak berkumpul di sekitar rumah Shodikun. Namun, yang bersangkutan memilih menutup diri di dalam rumah.

“Padahal kami ingin menanyakan baik-baik masalahnya seperti apa, batas tanahnya sampai mana,” terang Rasyidhi.

Tak lama kemudian, Shodikun justru keluar rumah dari pintu belakang. Dia berlari ke utara sambil membawa celurit. Warga yang masih emosi kemudian mengejarnya.

Rasyidhi mengaku tidak mengetahui pasti kejadian setelah pengejaran tersebut.

Namun, Shodikun kemudian kembali dengan kondisi mengalami luka di punggung dan langsung dibawa ke puskesmas.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Zaenal Arifin mengatakan, pihaknya menerima dua laporan terkait peristiwa tersebut.

Masing-masing di Polres Probolinggo Kota dan di Polsek Wonomerto. “Keduanya berkaitan dengan kejadian yang sama,” ujarnya.

Menurut Zaenal, hingga kini polisi masih fokus menangani laporan yang masuk. Proses mediasi belum dilakukan karena korban masih menjalani perawatan medis di rumah sakit. (gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#Swadaya #wonomerto #probolinggo