Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dua Bulan, Temukan 36 Kasus DBD di Kota Probolinggo, Ajak Tanam Lavender

Arif Mashudi • Minggu, 8 Maret 2026 | 09:05 WIB

ILUSTRASI DBD
ILUSTRASI DBD

KANIGARAN, Radar Bromo – Warga Kota Probolinggo wajib tetap waspada terhadap serangan Demam Berdarah Dengue (DBD). dalam dua bulan awal tahun 2026, Dinkes-P2KB Kota Probolinggo, mencatat puluhan warga telah terjangkit penyakit yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti ini.

Kepala Dinkes-PPKB Kota Probolinggo dr. Intan Sudarmadi,  mengungkapkan hingga Kamis (5/3), di Kota Probolinggo sudah ada 36 kasus DBD yang ditemukan.

“Selama 2025, ditemukan 326 kasus DBD dan 4 penderita di antaranya meninggal. Kasus DBD tertinggi dilaporkan terjadi di Kecamatan Kanigaran dengan 103 kasus dan dua kasus kematian,” katanya.

Dari data Dinkes diketahui, tren kasus DBD di Kota Probolinggo fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, jumlah kasus tercatat cukup tinggi, mencapai 460 penderita dengan enam kasus kematian.

Menurut Intan, salah satu indikator penting dalam pencegahan DBD adalah angka bebas jentik. Pada 2025, rata-rata angka bebas jentik di Kota Probolinggo, tercatat sebesar 78,8 persen. Masih berada di bawah target minimal yang ditetapkan, 90 persen. Kondisi ini dinilai masih berpotensi memicu munculnya kasus DBD di tengah masyarakat.

“Karena masih di bawah target, potensi penularan DBD masih ada. Terbukti pada 2026 hingga awal Maret sudah tercatat puluhan kasus,” tambahnya.

Kasus DBD itu menjadi perhatian serius Pemkot Prboolinggo. Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin mengatakan, kasus DBD setiap tahun cenderung menyerang kelompok usia anak-anak. Rata-rata setiap tahun terdapat sekitar 50 hingga 100 warga yang terjangkit DBD.

Pemberantasan nyamuk aedes aegypti sangat penting untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD. “Karena itu, ketika muncul kasus DBD di suatu wilayah, saya minta semua pihak bergerak bersama. Mulai dari juru pemantau jentik (jumantik), RT, RW, lurah hingga camat,” terangnya.

Pencegahan kasus DBD, kata Aminuddin, juga dapat dilakukan dengan gencarkan gerakan 3M. Yakni, menguras tempat penampungan air; menutup rapat tempat penyimpanan air; dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

“Pencegahan juga bisa dilakukan dengan penanaman bunga lavender secara massal. Karena bunga lavender memiliki aroma khas yang tidak disukai nyamuk sehingga dapat membantu mengurangi populasi nyamuk di lingkungan sekitar,” jelasnya. (mas/rud)

 

 

Editor : Fahreza Nuraga
#dbd #probolinggo #dinkes #aedes aegypti