LECES, Radar Bromo-Penyebab kecelakaan KA 147 Blambangan Ekspres dan truk gandeng di perlintasan sebidang JPL 13, Desa Jorongan, Leces, Kabupaten Probolinggo, diduga karena palang perlintasan tidak ditutup.
Namun, kenapa palang perlintasan itu tak ditutup saat KA melintas, hal itu semuanya masih diinvestigasi.
Manager Hukum dan Humas PT Kereta Api Indonesia Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro saat dikonfirmasi menegaskan, kecelakaan itu masih diinvestigasi.
Termasuk apa penyebabnya. Dari sana nanti akan diketahui apakah kecelakaan itu terjadi karena unsur kelalaian atau tidak.
“Nanti akan dicek bersama oleh petugas kepolisian, Balai Teknik Perkeretaapian, hingga KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi),” jelas Cahyo.
“Jika ditemukan kelalaian, selain kemungkinan sanksi pidana, dari kami juga bisa ada sanksi pemecatan. Untuk ganti rugi itu persoalan berbeda dan perlu kajian tersendiri,” jelasnya.
Sempat tersiar informasi bahwa penjaga palang pintu, Sy, 47, ketiduran saat kereta sedang melintas.
Sehingga, warga Desa Jorongan itu tidak sempat menutup palang perlintasan.
Ada pula yang menyebut, Sy yang berstatus petugas outsourcing itu tidak tidur.
Namun, dia telat menerima informasi bahwa akan ada kereta yang melintas. Sehingga, dia akhirnya telat menutup palang perlintasan.
Kesaksian ini salah satunya disampaikan Sekretaris Desa Jorongan, Susilo.
Dia bercerita, dirinya berada di rumah yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi perlintasan saat kecelakaan terjadi.
Susilo mengaku sempat mendengar suara sirine perlintasan berbunyi, kemudian terdengar dentuman keras.
Karena kaget, lelaki itu langsung keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi.
“Saya keluar rumah dan melihat sudah ada truk terguling. Karung-karung tepung berceceran sampai ke sawah sekitar. Ternyata kecelakaan di perlintasan,” ujarnya.
Saat itu menurutnya, penjaga perlintasan berada di dalam pos jaga. Namun, palang pintu perlintasan belum sempat tertutup.
“Katanya ada kendala kontak dari JPL Kedungasem. Saat itu truk sudah terlanjur masuk ke jalur. Mau ditutup pun tidak bisa karena kereta sudah sangat dekat dan melaju cepat,” jelasnya.
Susilo menambahkan, Sy telah beberapa tahun bertugas menjaga perlintasan tersebut.
Dia melanjutkan pekerjaan ayahnya yang sebelumnya juga penjaga palang pintu di lokasi yang sama.
“Ayahnya sudah pensiun, lalu dilanjutkan oleh anaknya ini. Sudah beberapa tahun berjaga di sini,” katanya.
Setelah kecelakaan itu, Susilo bersama warga dan petugas kepolisian turut membantu proses evakuasi masinis dan asistennya yang terjepit di kabin lokomotif.
Proses evakuasi berlangsung cukup lama, sekitar satu jam.
Sebab, petugas harus terlebih dahulu membersihkan terpal, roda truk, serta karung tepung yang berserakan di depan lokomotif.
“Setelah itu baru masinis yang berada di sisi kiri dikeluarkan terlebih dahulu. Kemudian asisten masinin dikeluarkan dari sebelah kanan,” ujarnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, hingga Sabtu (7/3) siang bangkai truk gandeng bernopol P 8793 UG yang bermuatan tepung masih berada di lokasi kejadian. Yaitu di dekat JPL 13.
Saat kejadian, PT KAI Daop 9 Jember mengirim lokomotif penolong yang diberangkatkan dari Stasiun Jember sekitar pukul 02.00, Jumat 96/3). KA Blambangan Express lantas ditarik mundur menuju Stasiun Probolinggo menggunakan lokomotif ini. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi