UDARA dini hari di Dusun Tengah, Desa Brani Kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, masih terasa dingin.
Angin pelan berhembus dari arah persawahan yang mengelilingi permukiman warga. Lampu rumah sebagian besar masih padam. Kampung masih terlelap.
Namun dari sebuah bangunan kecil di tengah dusun, suara mulai memecah keheningan. Pengeras suara Musala Subulul Hasan menyala.
Lantunan seruan sahur terdengar perlahan, lalu menjangkau rumah-rumah warga di sekitarnya. Suara itu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Dusun Tengah.
Di balik mikrofon musala itu, ada seorang pemuda yang sejak enam tahun terakhir setia menjalankan tugas tersebut.
Dialah Khoirul Umam. Setiap Ramadan, pemuda 28 tahun tersebut, hampir selalu menjadi orang pertama yang terjaga di kampungnya.
Sekitar pukul tiga dini hari, ia sudah melangkah menuju musala yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
Bahkan bisa dibilang sangat dekat. Rumahnya berada tepat di sebelah utara Musala Subulul Hasan yang beralamat di Dusun Tengah RT 009 RW 003 Desa Brani Kulon.
Kedekatan itulah yang kemudian membuat masyarakat mempercayakan kepadanya untuk membantu menghidupkan kegiatan ibadah di musala.
Amanah itu mulai dijalani, sejak ia lulus dari Universitas Zainul Hasan Genggong sekitar enam tahun lalu.
“Awalnya memang karena diminta masyarakat. Kebetulan rumah saya paling dekat dengan musala. Akhirnya saya diminta untuk membantu membangunkan sahur dan mengumandangkan azan,” ujarnya.
Sejak saat itu, rutinitas tersebut terus dijalani tanpa jeda. Tidak hanya saat Ramadan, tetapi juga sepanjang tahun untuk azan lima waktu.
Namun Ramadan memiliki cerita tersendiri. Setelah menyalakan lampu musala dan memastikan pengeras suara berfungsi, ia mulai membangunkan warga untuk sahur.
Kadang dengan kalimat pengingat, kadang dengan lantunan selawat atau potongan ayat Al-Qur’an.
Suara itu perlahan menyebar di antara rumah-rumah warga yang masih tertutup rapat.
“Biasanya saya mulai sekitar jam tiga. Tujuannya supaya warga punya waktu cukup untuk sahur sebelum imsak,” katanya.
Setelah selesai membangunkan sahur, ia tidak langsung pulang. Ia memilih tetap berada di musala menunggu waktu salat Subuh.
Jeda waktu antara sahur dan Subuh cukup panjang. Dalam suasana dingin dan sepi, rasa kantuk sering datang kembali.
“Kadang memang mengantuk sekali. Apalagi setelah membangunkan sahur. Tapi biasanya, saya isi dengan membaca Al-Qur’an atau berzikir sambil menunggu Subuh,” tuturnya.
Beberapa menit sebelum waktu Subuh tiba, ia kembali bersiap di depan mikrofon.
Ketika waktunya masuk, azan Subuh pun berkumandang dari Musala Subulul Hasan.
Suara itu menjadi penanda bagi warga Dusun Tengah untuk memulai hari.
Bagi pemuda tersebut, rutinitas itu tidak terasa sebagai beban. Ia justru memaknainya sebagai jalan untuk mencari keberkahan.
“Saya tidak memikirkan apa-apa. Niatnya hanya mencari berkah saja. Semoga dari hal kecil seperti ini, Allah memberikan kebaikan dalam hidup,” harapnya.
Musala Subulul Hasan sendiri memang menjadi pusat kegiatan ibadah bagi warga sekitar.
Meski tidak terlalu besar, musala ini selalu ramai saat Ramadan. Salat tarawih biasanya diikuti sekitar 40 jemaah.
Mereka terdiri dari santri yang belajar mengaji di sekitar musala serta warga dewasa dari lingkungan Dusun Tengah.
Suasana itu membuat Ramadan di dusun kecil tersebut terasa hangat. Anak-anak datang membawa Al-Qur’an. Para santri duduk rapi mengikuti pengajian setelah tarawih. Warga saling menyapa sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Bagi masyarakat sekitar, kehadiran seseorang yang setia menjaga azan dan seruan sahur menjadi hal yang sangat berarti. Tanpa upacara besar. Tanpa sorotan.
Hanya langkah-langkah sunyi menuju musala setiap dini hari. Di saat kampung masih terlelap, ia sudah berada di depan mikrofon.
Menghidupkan musala dengan suara yang mengingatkan orang untuk makan sahur dan menunaikan salat.
Sebuah pekerjaan sederhana yang tidak selalu terlihat, tetapi memberi makna bagi banyak orang.
Selama pengeras suara Musala Subulul Hasan masih menyala di waktu dini hari, warga Dusun Tengah tahu bahwa ada seseorang yang tetap setia menjaga waktu-waktu ibadah mereka.
Dan bagi pemuda itu, semua bermula dari satu niat yang sederhana. Mencari berkah.
"Seperti pedoman di pondok, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah maka akan mendapat balasanya. Semangat di bulan Ramadan, Insyaallah dilipat gandakan pahalanya," ujarnya. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin