DI SETIAP masjid atau musala, terdapat “penjaga waktu” yang tugasnya tak bisa disepelekan. Mereka para pengingat bagi kaum muslim untuk bersiap-siap menghadap ilahi. Caranya pun beragam. Ada yang menggunakan bedug, ada juga yang menggunakan pengeras dengan suara khasnya. Salah satunya ada Agus.
Saat sebagian besar warga Kota Probolinggo masih terlelap dalam buaian mimpi, sebuah lampu di sudut RT 05/RW 04, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, sudah menyala terang. Agus, 48, seorang pria sederhana yang dikenal warga sebagai “penjaga waktu,” sudah memulai rutinitas sucinya setiap dini hari di bulan Ramadan.
Baginya, pengeras suara di Masjid Wates, Kelurahan Kebonsari Wetan, bukan sekadar alat elektronik. Melainkan media penyambung amanah. Tugas membangunkan warga untuk sahur, bukan tugas kemarin sore. Ini adalah estafet pengabdian yang diteruskan dari tangan orang tuanya.
Sejak kecil, telinga Agus sudah akrab dengan suara ayahnya yang memecah kesunyian malam. Memanggil umat muslim untuk bersiap menyantap hidangan sahur.
Tak sekadar berteriak, Agus memiliki “seni” tersendiri dalam membangunkan warga. Ia memilih memutar lagu-lagu religi lawas yang penuh nostalgia. Melodi itu seolah menjadi penanda bagi para ibu untuk segera beranjak ke dapur.
Setiap 15 menit, suara khas Agus akan terdengar melalui pengeras suara. Memberikan informasi waktu terkini dan menghitung mundur menit demi menit menuju batas waktu sahur. “Sekarang jam tiga lewat lima belas menit, waktu sahur tersisa empat puluh lima menit lagi,” ucapnya dengan nada yang tenang, namun tegas.
Di balik konsistensinya, ada fakta yang mungkin tak banyak diketahui orang. Agus menjalankan peran vital ini tanpa mengharapkan sepeser pun honor atau imbalan materi. Satu-satunya upah yang diharapkan adalah keberkahan dan ketenangan karena telah membantu warga menjalankan ibadah puasa dengan tepat waktu.
Namun menjadi "alarm manusia" memiliki risiko tersendiri. Tanggung jawab ini layaknya pisau bermata dua. Saat bertugas dengan baik, Agus menjadi sosok yang tak terlihat, namun saat rasa kantuk sesekali menang dan terlambat menyalakan pengeras suara, teguran dan komplain warga langsung menghampirinya.
“Ada amanah dan kepercayaan dari warga yang harus saya jaga,” ungkapnya singkat. Baginya, komplain warga menjadi tanda betapa pentingnya peran tersebut bagi kehidupan sosial di lingkungannya.
Apa yang dilakukan Agus menjadi salah satu cerminan dari kearifan lokal yang masih bertahan di tengah gempuran teknologi alarm ponsel. Tradisi patrol atau membangunkan sahur di Probolinggo, tetap hidup karena adanya individu-individu seperti Agus yang rela mengesampingkan kenyamanan tidurnya demi kemaslahatan bersama.
Kisah Agus adalah pengingat, bahwa di setiap sudut kota, selalu ada sosok-sosok tanpa pamrih yang menjaga api tradisi tetap menyala. Memastikan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, tapi juga tentang kebersamaan dan saling menjaga di sepertiga malam.
“Alhamdulillah, ada juga beberapa teman atau warga yang ikut kumpul di masjid untuk jaga waktu siaran bangunkan warga untuk sahur. Alhamdulillah, respons baik dari warga untuk menjaga tradisi siaran bangunin sahur dari masjid ini. Bahkan, warga tidak bangun kalau tidak ada siaran dari masjid,” terangnya. (arif mashudi/rud)
Editor : Fahreza Nuraga