PROBOLINGGO, Radar Bromo - Ramadan identik dengan tradisi berburu takjil menjelang waktu berbuka puasa.
Di Kota Probolinggo, sejumlah ruas jalan selalu menjadi jujukan warga untuk mencari aneka hidangan berbuka. Seperti di Jalan Maramis, Jalan Cokroaminoto, dan Jalan Pahlawan.
Namun, tahun ini ada perbedaan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu para pedagang kaki lima (PKL) takjil difasilitasi Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Perdagangan Kota Probolinggo dan dipusatkan di satu lokasi–depan Stasiun Probolinggo–kini pola tersebut tidak diterapkan. Kini, PKL takjil menjamur di pinggir-pinggir jalan.
Kepala Bidang Perdagangan DKUP Kota Probolinggo Ferdhiansyah Donny mengatakan, tahun ini hanya ada satu lokasi pasar takjil terpusat. Namun pengelolaannya bukan dilakukan oleh DKUP.
“Bukan kami yang mengelola, melainkan EO tersendiri. Lokasinya di GOR Ahmad Yani, sisi barat atau di belakang,” ujarnya.
Menurutnya, DKUP hanya sebatas memberikan izin bila para pedagang yang sudah memiliki lapak di kawasan GOR Ahmad Yani ingin berjualan takjil selama Ramadan.
Ia juga menyebut, kemungkinan adanya program serupa di masing-masing kelurahan.
“Sepertinya di beberapa kelurahan juga ada program jualan takjil. Jadi, sifatnya tersebar,” katanya.
Banyaknya pedagang takjil yang berjualan di tepi jalan, baik di bahu jalan maupun trotoar, kata Donny, bukan fasilitas resmi dari DKUP. Melainkan murni inisiatif masyarakat.
“Karena ini momen Ramadan, kami beri kelonggaran. Setelah Ramadan kemungkinan sudah tidak ada lagi,” jelasnya.
Banyaknya ruas jalan sebagai tempat berjualan mendapat perhatian dari Satpol PP Kota Probolinggo. Kabid Trantibum Satpol PP Kota Probolinggo Angga Budi Pramudya mengatakan, pihaknya masih berkoordinasi dengan DKUP terkait kebijakan penataan PKL takjil.
“Kami belum ada kebijakan khusus. Masih kami koordinasikan dengan DKUP. Kalau memang diperbolehkan, kami hanya menjaga kondusivitasnya. Tapi kalau terjadi kekacauan atau dari awal tidak diperbolehkan, tentu akan kami tertibkan,” tegasnya.
Ramai Pemburu, Jalanan Sering Macet
Sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Probolinggo, menjadi salah satu jalan yang banyak dikunjungi warga ketika sore. Maklum di jalan ini, banyak PKL berjualan takjil. Tak ayal, jalanan sering macet.
Guna menghindari kemacetan, tak sedikit pengguna jalan yang harus menghindari Jalan Cokro.
Pedagang takjil sudah terlihat mulai dari Bundaran Gladak Serang hingga ke utara Jalan Cokro. Tidak sedikit juga mereka yang memburu takjil juga sembari menunggu azan magrib di lokasi.
Salah seorang pemburu takjil, Rangga, 37, mengatakan, jika ingin berburu takjil dan banyak pilihan, bisa masuk Jalan Cokro. Namun tantangannya memang jalannya sedikit macet. Sebab, banyaknya pengendara yang melintas.
“Kalau tidak cari takjil, jangan lewat Jalan Cokro. Lebih baik cari jalan lain, supaya tidak terjebak macet. Apalagi yang naik mobil,” ujar warga Kelurahan Kanigaran ini.
Sejumlah pedagang mengaku mulai merasakan berkah Ramadan. Salah satunya Holifah, 36. Menurutnya, Ramadan mampu mendongkrak pendapatan hariannya.
Banyaknya pedagang takjil yang berjualan juga diimbangi dengan pembeli, sehingga takjilnya banyak terjual.
“Alhamdulillah, dagangan laris selalu ramai kalau jualan di Cokro. Hasilnya, bisa buat ditabung untuk persiapan Lebaran,” ujar pedagang asal Kelurahan Tisnonegaran itu.
Berkaitan dengan arus lalu lintas, Plt Kepala Dishub Kota Probolinggo Pudi Adji Tjahjo Wahono mengaku, masih akan mengecek dan menurunkan personel Dishub selama Ramadan.
Sebab, Jalan Cokro setiap Ramadan memang sudah langganan jadi area penjual dan pemburu takjil.
“Nanti kami cek titik rawan macetnya di mana. Sebab, suasana ini memang biasa terjadi saat Ramadan. Banyak yang berburu takjil,” terangnya. (mas/rud)
Editor : Fahreza Nuraga