LANGKAHNYA memang tak lagi secepat dulu. Rambutnya mulai memutih. Usianya boleh sepuh. Namun semangatnya tak pernah surut.
Di usianya yang ke-74 tahun, Djumali masih setia menyapu halaman dan mengepel lantai Masjid Al Hidayah, tempat yang sudah seperti rumah keduanya.
Warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, ini telah mengabdikan diri sebagai marbot Masjid Al Hidayah sejak 2007.
Hampir dua dekade, ia telah menghabiskan hari-harinya untuk memastikan rumah ibadah ini bersih, nyaman, dan siap menyambut setiap langkah kaki jemaah.
Semua bermula dari sebuah ajakan sederhana. Ketua takmir masjid saat itu melihat kesetiaan Djumali yang tak pernah absen salat lima waktu berjemaah.
Ia selalu datang lebih awal, bahkan sebelum azan berkumandang, sekadar membuka pintu gerbang dan memastikan masjid siap digunakan.
“Beliau (ketua takmir masjid) bilang senang melihat saya rajin ke masjid. Lalu saya diminta jadi marbot,” kenang Djumali, dengan senyum tipis.
Sejak saat itu, hidupnya seakan menyatu dengan Masjid Al Hidayah di kelurahan yang sama dengan tempat tinggalnya ini.
Rutinitasnya dimulai sejak menjelang Subuh. Datang dengan berjalan kaki, sesekali menggunakan motor dari rumahnya yang terpaut 400 meter dengan masjid.
Datang ketika langit masih gelap, udara masih dingin, lalu menyalakan lampu dan menyiapkan pengeras suara.
Setelah salat Subuh, pekerjaannya belum selesai. Pria berkumis tipis ini masih menyapu halaman, merapikan karpet, membersihkan kamar mandi, hingga memangkas ranting pohon yang mulai menjulur.
“Hanya pulang kalau mau makan saja. Setelah itu kembali lagi ke masjid,” tuturnya.
Tugasnya terdengar sederhana. Menghidupkan dan mematikan lampu, mengatur sound system, menyapu daun kering, serta memastikan karpet tak miring dan tetap rapi.
Namun di balik kesederhanaan itu, ada ketekunan yang tak banyak orang sanggup jalani selama bertahun-tahun.
Musim hujan dan musim angin menjadi ujian tersendiri. Daun-daun berguguran menutupi halaman. Saat hujan, banyak dedaunan menempel kuat di halaman.
Dengan tubuh yang tak lagi muda, Djumali harus memungutnya satu per satu dengan tangan.
Kadang tubuhnya tak kuat. Linu, pegal, hingga radang otot kerap menghampiri. Bahkan, pernah jatuh sakit karena kelelahan. Namun sakit tak pernah membuatnya benar-benar menjauh dari masjid.
“Kadang capek sekali rasanya. Tapi saya tetap datang. Justru saya makin giat, berharap sama Allah SWT supaya lekas sembuh,” ucapnya lirih.
Bagi Djumali, masjid bukan sekadar tempat bekerja. Di rumah Allah SWT, ini ia merasa dekat dengan Yang Maha Esa. Menemukan ketenangan dan menggantungkan harapan.
Memasuki Ramadan, tugasnya berlipat. Aktivitas masjid nyaris tak berhenti. Tahun ini setiap bakda Subuh ada pengajian harian.
Menjelang berbuka puasa, ia kembali sibuk merapikan karpet agar saf tak miring.
Menata piring dan gelas, membantu menyiapkan nasi, lauk, dan minuman untuk jemaah. Kue-kue dari para donatur ditata rapi agar mudah dibagikan.
Setelah azan Magrib berkumandang dan jemaah berbuka, Djumali belum bisa beristirahat. Masih harus mengumpulkan gelas kotor, lalu mencucinya satu per satu.
Ketika sebagian orang pulang untuk beristirahat, ia masih berada di sudut tempat wudu, memastikan semuanya bersih kembali.
Tak ada keluhan yang keluar dari bibirnya. Hanya senyum dan ketulusan.
“Semua itu saya lakukan dengan senang hati. Semata-mata untuk meraih rida dan pahala dari Allah,” katanya.
Di tengah dunia yang serbacepat dan penuh hitung-hitungan, pengabdian Djumali terasa begitu sunyi, namun bermakna.
Ia mungkin tak berdiri di mimbar, tak pula memimpin salat. Namun berkat tangan rentanya itulah, jemaah bisa bersujud dengan nyaman.
Djumali mengajarkan satu hal sederhana, bahwa cinta kepada rumah Allah SWT, bisa diwujudkan lewat sapu, kain pel, dan ketekunan yang tak pernah lelah. (inneke agustin/rud)
Editor : Fahreza Nuraga