PROBOLINGGO, Radar Bromo - Hujan deras yang mengguyur Kota Probolinggo tak menyurutkan semangat umat Tionghoa dalam merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di TITD Sumber Naga, Selasa (16/2) malam.
Walau rangkaian acara harus disesuaikan, perayaan tetap berlangsung khidmat dan penuh sukacita.
Sejak sore, kawasan klenteng sudah dipadati umat dan masyarakat yang ingin menyaksikan kemeriahan Imlek.
Namun hujan lebat yang turun menjelang malam membuat pengurus terpaksa membatalkan salah satu pertunjukan hiburan, yakni line dance.
Ketua II TITD Sumber Naga, Erfan Sutjianto, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi keamanan dan kenyamanan bersama.
“Pertunjukan line dance tidak bisa ditampilkan karena hujan cukup deras. Tapi tradisi utama tetap kami laksanakan, termasuk pagelaran wayang kulit yang digelar di depan klenteng,” ujarnya.
Wayang kulit menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam perayaan Imlek tahun ini. Pertunjukan tersebut tetap berjalan meski sempat diguyur hujan, sebagai simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang telah lama terjalin di Kota Probolinggo.
Beruntung, menjelang acara inti sembahyang Imlek sekitar pukul 22.30, hujan mulai reda. Puluhan umat Tionghoa tampak khusyuk mengikuti ibadah bersama.
Mayoritas mengenakan pakaian bernuansa merah—warna yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan—serta membawa dupa untuk dipanjatkan dalam doa.
“Setelah sembahyang, kami menyalakan kembang api untuk menyambut Imlek,” tutur Erfan.
Ia menambahkan, rangkaian sembahyang berlangsung lancar. Pada Tahun Kuda Api ini, umat memanjatkan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan bangsa, khususnya masyarakat Kota Probolinggo.
“Kami berdoa agar Indonesia dan Kota Probolinggo senantiasa damai, serta seluruh masyarakat diberikan rezeki yang melimpah,” katanya.
Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, turunnya hujan saat malam Imlek justru dimaknai sebagai pertanda baik.
Hujan dipercaya membawa berkah dan kesuburan, terutama bagi sektor pertanian, perdagangan, serta usaha keluarga.
Makna tersebut sekaligus menjadi simbol harapan agar tahun yang baru dipenuhi peluang, kelancaran rezeki, dan dijauhkan dari kesulitan ekonomi.
“Meskipun hujan malam ini cukup besar, tapi syukur menjelang sembahyang sudah berhenti,” ujar Erfan sambil tersenyum.
Salah satu umat, Fernando, 17, berharap tahun baru ini membawa kehidupan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Remaja asal Kecamatan Mayangan itu mengatakan, perayaan Imlek biasanya masih berlanjut dengan sembahyang di hari berikutnya dan kunjungan ke rumah sanak saudara.
“Biasanya setelah sembahyang malam ini, besok sembahyang lagi. Lalu ke rumah saudara-saudara untuk anjangsana,” katanya. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid