Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ancaman Tanah Gerak di Krucil Probolinggo Membuat Warga Tak Bisa Tenang

Achmad Arianto • Minggu, 8 Februari 2026 | 07:15 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

DI Kabupaten Probolinggo, ada desa yang patut diwaspadai, karena rawan dan terjadi tanah gerak. Di desa ini, berdiri ratusan rumah yang dihuni ratusan jiwa. Keselamatan mereka terancam. Terutama ketika musim hujan. Dua desa ini berada di Kecamatan Krucil.

Pergerakan tanah menjadi perhatian serius, karena fenomena ini berpotensi menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi. Bencana ini pernah terjadi di Dusun Brigaan, Desa Plaosan. Bencana serupa juga berpotensi terjadi di tiga dusun di Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil. Yakni, Dusun Sumberkapong, Dusun Manggisan, dan Dusun Taman.

Kecamatan Krucil memiliki kondisi geografis berupa dataran tinggi. Bahkan, sejumlah desa berupa pegunungan dan berbatasan dengan tebing curam. Seperti Desa Plaosan dan Desa Sumberduren.

Setiap musim hujan dua desa ini menjadi salah satu wilayah yang diwaspadai terjadi bencana tanah longsor. Bahkan beberapa dusun berpotensi mengalami tanah gerak. Karena itu, perlu diwaspadai. Bukan hanya oleh warga yang menempati dusun tersebut, tetapi juga pemangku kebijakan untuk melakukan mitigasi dan penanganan jangka panjang.

Salah seorang warga Desa Plaosan Ahmad, 40, mengatakan, tanah longsor dan tanah gerak menjadi salah satu warning di desanya. Sebab, wilayah desa berada di punggung gunung yang masih masuk wilayah pegunungan Argopuro. Saat musim hujan, kewaspadaan terhadap dua potensi bencana tersebut ditingkatkan.

“Warga desa masih belum banyak yang tahu tanah gerak. Tahunya hanya tanah retak atau longsor. Ini selalu diwaspadai oleh warga desa,” katanya.

Kewaspadaan lebih ditingkatkan ketika wilayah Desa Plaosan, diguyur hujan deras dengan durasi lama. Terlebih pemilik rumah yang berbatasan langsung dengan tebing. Karena itu, ketika hujan mereka lebih waspada. Bila malam, tidurnya bergantian, bahkan kadang tidak tidur. Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan atau terjadi bencana alam. “Kami tidak menginginkan ada bencana, tetapi cara ini dilakukan untuk jaga-jaga,” ujarnya.

Perangkat Desa Plaosan Suparman mengatakan, Desa Plaosan memang masuk zona rawan bencana longsor dan tanah gerak. Karena, kondisi geografis desa berupa dataran tinggi dan berbatasan dengan tebing. Saat musim hujan, hampir semua wilayah dusun berpotensi longsor.

Sementara, Dusun Brigaan, terdapat tanah gerak. Dusun ini merupakan dataran tinggi yang didominasi tanah kosong dan lahan pertanian. Dusun ini dihuni oleh sekitar 104 kepala keluarga (KK).

“Tanah gerak ada di satu dusun. Jadi, tanahnya retak-retak dan agak menurun. Kalau orang sekitar mengira, hal itu terjadi karena tanahnya terlalu gembur, sehingga terjadi penurunan tanah,” jelasnya.

Warga asli Desa Plaosan ini mengatakan, fenomena tanah gerak di Dusun Brigaan terakhir terjadi sekitar 30 tahun silam. Fenomena ini kembali sejak 2020. Ditandai dengan seringnya tanah longsor, lalu terjadi penurunan tanah, serta tanah retak, bahkan ada sejumlah dinding rumah warga juga retak karena tanah turun.

Tanah gerak sering terjadi di RT 7 dan RT 8/RW 4, Dusun Brigaan. Wilayah ini dihuni oleh sekitar 49 KK. Kini, mereka diimbau untuk pindah tempat (relokasi) ke yang lebih aman. Sebab, keselamatan mereka terancam.

Suparman mengatakan, ada warga yang memilih pindah dengan alasan keamanan. Ada juga yang tetap bermukim di wilayah tersebut dengan alasan, belum ada tempat tinggal baru. Serta, memiliki lahan pertanian maupun kebun di wilayah tersebut.

Lahan itu merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian, sehingga berat untuk ditinggalkan. Jika ada potensi bencana, mereka bisanya mengungsi sementara waktu. Ketika sudah aman, kembali ke tempat tinggalnya.

“Penurunan tanah sekitar 50 sentimeter, tapi dampaknya sangat dirasakan warga. Ada 5 rumah retak dan tidak kokoh lagi. Sebanyak 8 KK warga RT 7 dan RT 8/RW 4, Dusun Brigaan, sudah pindah ke rumah saudaranya, karena kondisi rumah sudah berbahaya,” bebernya.

Fenomena tanah gerak juga terjadi di Dusun Sumberkapong, Desa Sumberduren. Desa ini berada paling selatan di Kecamatan Krucil. Berbatasan dengan Kecamatan Tiris. Dengan geografis dataran tinggi yang didominasi bukit dan tebing.

Perangkat Desa Sumberduren Bambang mengatakan, potensi tanah longsor dapat terjadi di semua wilayah desa. Sebab, setiap dusun memiliki wilayah yang berbatasan dengan tebing. Namun, ada tiga dusun yang menjadi atensi, karena beberapa kali longsor. Yakni, Dusun Sumberkapong, Manggisan, dan Dusun Taman. “Dusun tersebut diwaspadai sejak akhir tahun lalu, karena ada indikasi tanah retak dan tanah gerak,” katanya.

Tiga dusun itu dihuni oleh sekitar 215 KK. Sama dengan warga Dusun Brigaan, mereka selalu khawatir ketika musim hujan. Bambang mengatakan, dari tiga dusun yang berpotensi longsor dan tanah gerak, Dusun Sumberkapong, paling parah. Ketika longsor, pada 11 Desember 2025, setidaknya ada 26 KK yang rumahnya terdampak.

Puluhan KK itu pun harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bahkan, sejauh ini masih ada warga yang belum pulang dan memutuskan tetap bertahan di rumah saudaranya, karena rumahnya dulu berbahaya.

Bambang mengatakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, telah mengimbau warga untuk pindah tempat. Sebab, bencana dapat sewaktu-waktu terjadi. Namun, sejumlah warga tetap bertahan karena belum memiliki tempat tinggal lain.

“Sampai saat ini ada 13 KK warga Dusun Sumberkapong, yang mengungsi. Rumahnya retak dan berbatasan dengan jurang. Jadi, berbahaya untuk dihuni,” jelasnya.

 

Banyak Rumah Berada dalam Radius Bahaya

Tanah gerak atau pergerakan tanah merupakan fenomena perpindahan massa tanah atau batuan ke arah bawah, mendatar, atau miring akibat terganggunya kestabilan tanah. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor. Mulai faktor alami, seperti gravitasi yang bekerja lebih besar daripada kekuatan penahan tanah. Lalu, hujan dengan intensitas tinggi yang mengurangi kekuatan tanah dan menambah beban tanah. Serta, gempa yang memicu pergeseran tanah.

Ada juga karena faktor lain yang disebabkan aktivitas manusia. Seperti, penebangan pohon, penambangan, atau pembangunan beban berat di atas tanah lemah. Kondisi ini ditandai retakan tanah atau dinding rumah, pintu dan jendela rumah sulit dibuka. Serta, pohon atau tiang listrik terlihat miring dan muncul mata air baru.

BPBD Kabupaten Probolinggo, memetakan ada dua dusun di Kecamatan Krucil, yang memiliki potensi tanah gerak. Dusun Brigaan, Desa Plaosan dan Dusun Sumberkapong, Desa Sumberduren. “Wilayah tersebut tercatat mengalami tanah longsor dan tanah retak. Ini kami pantau,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief.

Tahun lalu, di Dusun Brigaan, terjadi longsor setelah diguyur hujan pada 5 Desember 2025. Dampaknya, 8 bangunan rusak ringan dan 8 jiwa terdampak. Juga terjadi tanah retak atau geser dan berpotensi terjadi longsor sepanjang 400 meter di Dusun Brigaan.

Di Desa Sumberduren, sempat dilanda longsor pada 11 Desember 2025. Longsor terjadi Dusun Sumberkapong, Manggisan, dan Dusun Taman. Akibatnya, dua rumah warga rusak parah. Selain itu, 12 KK diungsikan ke lokasi yang lebih aman. Sementara, 14 rumah lainnya dinilai berada dalam radius berbahaya, mengingat kondisi tanah di sekitarnya labil.

“Ada beberapa yang longsor di Desa Plaosan dan Desa Sumberduren. Tetapi, bukan wilayah tanah retakan. Masih dikategorikan bencana hidrometeorologi,” terangnya.

BPBD kemudian memasang Early Warning System (EWS) di Dusun Brigaan. Alat ini dipasang sebagai sistem peringatan dini bencana longsor. Alat ini dipasang berdasarkan temuan adanya potensi gerakan tanah yang berisiko memicu longsor.

Informasi mengenai gerakan tanah yang berpotensi longsor, kemudian dilanjutkan ke BPBD Provinsi Jawa Timur. “Laporan itu kemudian ditindaklanjuti dengan kajian dan penelitian lapangan,” katanya.

BPBD Provinsi Jawa Timur bersama tim ahli dari Surabaya, melakukan kajian di lokasi selama tiga hari. Hasilnya, salah satu rekomendasi utama adalah perlunya pemasangan EWS sebagai alat deteksi dini longsor. Pemasangan EWS di Kabupaten Probolinggo, masih sangat terbatas. Sebab, Desa Plaosan memiliki banyak kawasan rawan longsor.

EWS ini dipasang untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat terhadap potensi terjadinya tanah longsor. Kemudian, meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat. Mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian harta benda. Serta, mendukung sistem penanggulangan bencana yang terpadu dan berkelanjutan.

BPBD Kabupaten Probolinggo, juga telah melakukan penelitian kondisi tanah di Desa Sumberduren. Penelitian melibatkan BPBD Jawa Timur, Dinas ESDM Jawa Timur, serta tim ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Selasa-Rabu (7–8/1). Tujuannya, untuk memperoleh gambaran menyeluruh terkait kondisi dan tingkat pergerakan tanah.

Dengan harapan, pemerintah daerah dapat menentukan langkah mitigasi yang tepat. Dalam penelitian, tim mengecek dan mengukur di 17 titik yang terindikasi mengalami pergerakan tanah di kawasan terdampak longsor. Masing-masing instansi memiliki peran dalam proses penelitian di lapangan.

Dinas ESDM Jawa Timur mengambil sampel tanah dan batuan, serta mengukur jarak retakan tanah. BPBD Jawa Timur, mengukur kedalaman retakan tanah menggunakan alat khusus pendeteksi pergerakan tanah. Sedangkan tim ITS memetakan permukaan bumi menggunakan metode geodetik. “Sudah dilakukan penelitian saat ini masih menunggu hasilnya,” ujar Oemar.

 

Terus Dipatau, Tunggu Hasil Kajian

Dusun Brigaan, Desa Plaosan, Kecamatan Krucil, telah dilengkapi Early Warning System (EWS). Dipasang di titik rawan potensi gerakan tanah. Agar lebih maksimal, petugas mengeceknya secara berkala. Memastikan kondisi alat dapat berfungsi dengan baik.

Dengan demikian, alat yang dipasang mampu memberikan peringatan dini kepada masyarakat terhadap potensi longsor. Juga meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat dan mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian materi.

“Dusun Brigaan, Desa Plaosan, merupakan wilayah yang memiliki karakteristik geografis berupa perbukitan dan lereng dengan tingkat kerawanan tanah longsor yang cukup tinggi. Terlebih lagi saat musim hujan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief.

BPBD juga masih menunggu hasil penelitian kondisi tanah di Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil. Menyusul adanya bencana longsor di wilayah tersebut. Hasil kajian ini akan menjadi dasar penentuan langkah penanganan dan mitigasi lanjutan. Juga akan dikaji bersama stakeholder terkait. Dari kajian tersebut, akan ditentukan rekomendasi serta dasar penanganan lanjutan di lokasi terdampak.

“Setelah ada hasil dari penelitian tersebut, tentu akan segera kami tindak lanjuti. Saat ini masih kami lakukan pemantauan secara intens,” terangnya.

Oemar mengatakan, sebelumnya petugas telah memberikan bantuan logistik kebencanaan pada wilayah yang terdampak. Bantuan yang diberikan untuk meringankan warga yang mengalami kerugian materiil akibat bencana.

Untuk meminimalisir dampak dan risiko bencana, BPBD berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa di wilayah terdampak. Alasannya, pemerintah setempat yang lebih memahami lingkungan. Termasuk upaya pemindahan tempat tinggal saat lingkungan dalam kondisi bahaya. “Pemantau dan tindakan lanjutan terus kami lakukan,” katanya. (ar/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#longsor #tanah gerak #bencana #krucil