PROBOLINGGO, Radar Bromo- Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Probolinggo pada bulan Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,03 persen (mtm). Angka ini diketahui dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Angka ini lebih rendah dari bulan Desember 2025 yang mencatatkan inflasi sebesar 0,57 persen (mtm).
Secara tahunan, Kota Probolinggo mencatatkan inflasi sebesar 3,43 persen (yoy) atau masih dalam rentang sasaran inflasi sebesar 2,5 + 1 persen.
Deflasi IHK pada Januari 2026 terutama didorong oleh penurunan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil deflasi sebesar 0,29 persen (mtm).
Sementara berdasarkan komoditasnya, deflasi terutama didorong oleh penurunan harga komoditas daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, bawang merah.
Komoditas ini masing-masing memberi andil sebesar 0,12 persen, 0,07 persen, 0,04 persen, 0,04 persen dan 0,03 persen (mtm).
Penurunan harga daging dan telur ayam ras dipengaruhi oleh lancarnya pasokan barang, serta berkurangnya permintaan daging dan telur ayam ras setelah momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Penurunan harga pada komoditas hortikultura cabai rawit, cabai merah dan bawang merah seiring dengan terjaganya jumlah pasokan di tengah periode musim panen raya pada sentra produksi,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi.
Menurutnya, deflasi yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga komoditas emas perhiasan, bawang putih, mobil, beras dengan andil masing-masing sebesar 0,22 persen, 0,02 persen, 0,01 persen dan 0,01persen (mtm).
“Kenaikan harga komoditas emas perhiasan seiring dengan berlanjutnya kenaikan komoditas emas dunia,” katanya.
Selanjutnya, kenaikan harga bawang putih dikarenakan pada bulan Januari belum ada realisasi impor bawang putih dari negara produsen.
Sementara sekitar 90–95 persen kebutuhan bawang putih dalam negeri dipenuhi dari pengadaan luar negeri.
“Kenaikan harga mobil terjadi seiring dengan tren kenaikan di awal tahun. Sementara kenaikan harga beras disebabkan seiring kenaikan harga di tingkat penggilingan,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, tekanan inflasi Kota Probolinggo pada Januari 2026 masih terkendali dalam rentang sasaran. Laju inflasi yang terkendali juga didukung oleh koordinasi solid di dalam TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah), yang diwujudkan melalui sinergi kolaboratif dalam upaya pengendalian inflasi.
Sinergi dalam pengendalian inflasi dilakukan melalui sejumlah kegiatan. Diantaranya Capacity Building TPID pada 29-30 Januari 2026 berkolaborasi dengan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur dalam rangka evaluasi dan penguatan program pengendalian inflasi oleh TPID. Serta penyusunan infografis neraca pangan minggu ke-1 Januari 2026.
“Kemudian pemantauan harga bahan pangan pokok bulan Januari 2026. Kemudian keikutsertaan pada rakor TPID mingguan bersama Kemendagri selama bulan Januari 2026 dan penyerahan bantuan 6 unit traktor roda 4 kepada 6 kelompok tani dalam rangka peningkatan produksi padi,” katanya.
Dalam menghadapi tekanan inflasi pada periode Imlek dan Ramadhan yang jatuh pada bulan Februari ini, TPID akan meningkatkan intensitas pemantauan harga dan akan menggelar operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga kebutuhan pokok.
Sinergi kebijakan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan Bank Indonesia Malang akan terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan penguatan program 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi serta Komunikasi efektif) untuk menjaga level inflasi berada dalam rentang sasaran 2,5 ± 1 persen (yoy). (uno/mie)
Editor : Muhammad Fahmi