Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Duit Puluhan Juta di Rekening Milik Guru di Probolinggo Raib setelah Ditipu Seseorang yang Berkedok Petugas Pajak, Begini Modusnya

Achmad Arianto • Minggu, 1 Februari 2026 | 07:00 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

GENDING, Radar Bromo - Cara penipu kini makin beragam dan makin canggih. Seperti yang dialami Dian Wirestu Wuryandari, 50, warga Desa Curahsawo, Kecamatan Gending.

Wanita yang bekerja sebagai guru ini mendapat telepon yang mengaku petugas pajak hingga korban mengalami kerugian puluhan juta rupiah.

Penipuan ini terjadi Senin (26/1) lalu sekitar pukul 11.45, saat sedang mengajar di salah satu SD di Desa/Kecamatan Gending.

Korban menerima telepon masuk melalui panggilan WhatsApp. Panggilan telepon tersebut seorang perempuan mengaku sebagai petugas pajak.

Pelaku menanyakan identitas koperasi KPRI sekolah di mana korban mengajar. Sambil bertanya penelepon tersebut mencocokkan data dan pengurus koperasi yang biasa dimasukkan dalam SPT tahunan.

Mulai dari pencocokan nama ketua koperasi, NIK, NIB Koperasi dan email aktif yang digunakan oleh koperasi.

“SPT tahunan koperasi memang saya yang biasa setor. Saat pelaku menelepon, data tersebut katanya sudah direkam,” ujar Dian Wirestu Wuryandari saat dikonfirmasi Sabtu (31/1).

Setelah merekam data, pelaku kemudian mengatakan akan ada penelepon rekannya juga dari petugas pajak akan membantu aktivitas pembayaran pajak melalui Coretax.

Pelaku pertama ini menutup teleponnya. Tak lama kemudian, ada yang menghubunginya seraya mengaku petugas dari kantor pajak.

Penelepon kedua ini meminta korban untuk berbagi layar, jadi penelepon bisa melihat apa saja yang ada pada layar korban. Sambil dipandu si penelepon, korban melakukan semua apa yang diperintahkan.

Korban kemudian dipandu untuk masuk ke playstore dan mengunduh aplikasi Coretax. Sayangnya saat proses pengunduhan bermasalah akhirnya gagal mengunduh.

“Orang ini saat telepon bicara terus, sampai saya seperti gak diberi kesempatan untuk bertanya. Memandu aktivasi coretax tapi gagal saat mengunduh,” katanya.

Karena gagal mengunduh, pelaku kemudian mengatakan pada korban akan terus memandu sampai berhasil. Untuk memudahkan komunikasi saat pemanduan, pelaku meminta korban untuk meminjam HP orang lain. Akhirnya korban meminjam HP milik temannya.

Pelaku kemudian mengalihkan panggilan suara ke video call sambil meminta korban mengarahkan panggilan tersebut pada HP miliknya.

Korban kemudian diarahkan ke aplikasi chrome lalu menyuruh korban mengetik di pencarian peralihan coretax. Lalu di chrome tersebut muncul icon aplikasi yang dimaksud.

Korban terus menurut apa yang diminta oleh pelaku hingga akhirnya mengunduh aplikasi tersebut.

Setelah aplikasi berhasil di-download saat proses aktivasi pelaku mengatakan akan ada biaya materai yang secara otomatis terpotong dari rekening milik korban.

Pelaku kemudian menyuruh korban membuka seluruh aplikasi mobile banking yang diinstal pada HP-nya.

Di HP korban saat itu ada 3 mobile banking. Akhirnya setelah dicek seluruhnya, seolah-olah pelaku telah mengecek saldo mobile banking. Pelaku meminta korban untuk memindahkan seluruh saldo di rekening miliknya menjadi satu di rekening Bank Jatim.

Pelaku beralasan itu perlu dilakukan agar tidak ada pemotongan biaya berulang saat aktivasi Coretax.

Korban masih tidak menyadari jika dirinya telah masuk dalam jebakan pelaku. Korban terus saja menuruti apa yang diminta oleh pelaku. Dari rekening tersebut Bank Jatim tersebut kemudian korban diminta mentransfer Rp 12.500 pada rekening pelaku. Uang tersebut katanya digunakan sebagai materai digital.

Setelah melakukan transfer lalu pelaku meminta korban untuk membuka aplikasi tertentu yang telah dipandu oleh pelaku. Kemudian meminta korban mengecek sisa saldo yang ada di rekening.

Korban pun menurutinya, tak disangka mengecek, HP tiba-tiba mati. Begitu juga HP milik temannya yang dipakai untuk berkomunikasi tiba-tiba restart sendiri.

Anehnya saat mati, HP milik korban tak bisa dihidupkan. Korban mengira HP sedang lowbat selang beberapa jam kemudian setelah di-cas sekitar pukul 19.00, HP korban bisa dihidupkan.

Namun HP hanya bisa menyala dan di layar HP tertulis pengaturan awal pabrik. Yang otomatis hanya tersisa aplikasi bawaan HP.

Sementara aplikasi lainnya yang sebelumnya telah diunduh dan diinstal atau data-data lainnya seperti riwayat panggilan dan chat hilang tak tersisa.

Mengetahui hal itu dirinya langsung khawatir dengan saldo uang miliknya yang sebelumnya telah dialihkan ke rekening Bank jatim.

Keesokan harinya saat mengecek saldo di rekening rupanya saldo uang Rp 39.300.121 yang tersimpan di rekening Bank Jatim sudah hilang.

Korban menduga nomor rekeningnya diretas saat melakukan komunikasi lewat telpon tersebut. Dugaan tersebut menguat setelah menuruti pelaku untuk melakukan transfer dan mengecek saldo rekening. HP tiba-tiba mati.

“Uang yang ada pada rekening bank jatim tiba-tiba sudah tersedot. Hanya menyisakan saldo yang sebelumnya memang diblokir oleh pihak bank. Sementara uang yang bisa dicairkan ludes. Akibat kejadian ini saya rugi puluhan juta. Penipuan melalui telepon ini sudah saya laporkan ke Polres Probolinggo,” terangnya.

Kasi Humas Polres Probolinggo AKP Merdhania Pravita Shanty saat dikonfirmasi mengatakan masih menanyakan perihal laporan tersebut pada SPKT. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#penipuan #polres probolinggo #phising #Scam #uang di rekening amblas