Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jalan Kabupaten di Sumber Probolinggo Rusak Parah, Puluhan Kendaraan Terpaksa Ditarik

Inneke Agustin • Kamis, 29 Januari 2026 | 19:50 WIB

KERJA SAMA: Warga saat membantu mobil yang terperosok ke jalan rusak di Sumber, Kabupaten Probolinggo, Rabu (28/1). (Istimewa)
KERJA SAMA: Warga saat membantu mobil yang terperosok ke jalan rusak di Sumber, Kabupaten Probolinggo, Rabu (28/1). (Istimewa)
 

SUMBER, Radar Bromo-Kondisi jalan kabupaten di Dusun Tempuran, Desa/ Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, kembali menjadi sorotan. Menyusul video viral di media sosial (medsos) yang memperlihatkan kerusakan jalan. Membuat puluhan kendaraan ditarik warga beramai-ramai karena tak mampu melintasi jalan yang rusak.

Peristiwa itu terjadi Rabu (28/1) dan sempat direkam oleh warga setempat, hingga akhirnya viral. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama warga beraktivitas itu berubah menjadi lintasan penuh risiko.

Dalam rekaman itu, terlihat sejumlah warga beramai-ramai menarik kendaraan roda empat yang terjebak di tanjakan. Total ada 25 kendaraan yang ditarik beramai-ramai.

Rata-rata, mobil yang ditarik itu tidak bisa melaju atau melewati jalan. Sebab, kondisinya rusak, menanjak, dan licin setelah hujan mengguyur.

Ada pula beberapa mobil yang bisa melintas, namun sempat tergelincir. Sementara sepeda motor, harus ekstrahati-hati agar tak terjatuh.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo di lokasi pada Kamis (29/1), kondisi di tempat itu belum banyak berubah. Kendaraan melaju pelan saat melintasi bagian jalan yang rusak. Panjangnya sekitar 800 meter dan lebar 5 meter.  

Padahal, ruas jalan ini adalah salah satu akses penting untuk warga. Tiap hari, jalan ini dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga menggunakan jalan itu untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan yang lain.

Pelajar, pegawai, warga setempat, hingga kendaraan pengangkut hasil pertanian melewati jalan itu. Salah satunya Sugeng, seorang guru SMPN 4 Sumber.

Menurutnya, jalan itu sudah lama rusak. Sekitar satu dekade terakhir. Aspal jalan perlahan tergerus dan nyaris tak pernah mendapat perbaikan serius, maupun tambal sulam.

“Sekitar tahun 2022, masyarakat akhirnya berinisiatif memperbaiki secara swadaya dengan cara dicor,” jelasnya.

Anggaran perbaikan swadaya berasal dari sumbangan warga dan pengguna jalan. Namun upaya itu tak bertahan lama. Seiring waktu, jalan kembali berlubang dan rusak hingga kondisinya seperti sekarang.

Kerusakan jalan semakin parah saat musim hujan. Jalan menjadi licin, kendaraan roda empat kerap selip, sementara pengendara motor tak jarang terjatuh.

Sebaliknya, saat musim kemarau, debu beterbangan dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

“Kondisi makadam dan lubang membuat tanah di bawah jalan ikut bergerak saat dilintasi kendaraan. Tanah itu kemudian naik ke permukaan dan membuat jalan semakin licin,” terangnya.

Padahal jalan tersebut merupakan akses vital bagi perekonomian warga, sekaligus dunia pendidikan. Jalan kabupaten itu menjadi satu-satunya jalur penghubung masyarakat menuju rumah dan sekolah.

Serta, akses jalan menuju Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura hingga ke Lumajang.

“Kalau jalan ini tidak bisa dilalui, tidak ada alternatif lain. Harus memutar jauh lewat Lumajang,” ungkapnya.

Ia juga merinci bahwa di wilayah atas terdapat banyak lembaga pendidikan yang sangat bergantung pada akses jalan tersebut. Mulai dari SMPN Sumber 1, 2, 4, dan 5; SDN Cepoko 1 hingga 4; SDN Sumberanom 1 dan 3; SDN Pandansari 1 hingga 4; SDN Ledokombo; dan SDN Wonokerso.

Hal senada disampaikan warga setempat, Suyoko, 43. Menurutnya, jalan di Dusun Tempuran merupakan jalan poros satu-satunya yang menunjang aktivitas petani, guru, pelajar, serta kepentingan umum lainnya.

“Tidak ada jalan simpangan. Ini akses utama dan satu-satunya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, kondisi jalan paling berbahaya terjadi setelah hujan reda. Gerimis justru membuat tanah menjadi lumpur licin yang rawan menyebabkan kecelakaan. Terutama bagi pengendara roda dua.

“Kalau hujan deras, biasanya tanah terbawa air. Tapi kalau gerimis, itu yang bikin licin dan berbahaya,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti itu, warga sekitar kerap turun tangan membantu. Mereka bahu-membahu menarik kendaraan yang tak kuat menanjak menggunakan tali tambang atau bahkan bantuan mobil milik warga.

“Ini murni kepedulian warga sini pada sesama, terutama pengendara yang lewat. Kami membantu seadanya agar kendaraan bisa lewat,” tuturnya.

Seperti yang terjadi Rabu (28/1), terjadi antrean kendaraan sejak pukul 14.00 hingga 21.00. Panjang antrean mencapai sekitar 300 meter.

Antrean terjadi karena kendaraan roda dua harus pelan-pelan melintas. Lalu, kendaraan roda empat tak bisa lewat karena licin.

Satu persatu kendaraan yang tidak bisa melintas, kemudian ditarik warga. Total ada 25 kendaraan yang ditarik beramai-ramai menggunakan tali tampar sejak pukul 14.00 hingga 21.00.

Warga juga menerapkan sistem buka tutup jalur di tempat itu. Kendaraan dari dua arah yang berlawanan, harus lewat secara bergantian.

“Kalau kendaraan dari atas turun, yang dari bawah menunggu. Begitu juga sebaliknya. Dilakukan bergantian supaya tidak semakin parah,” pungkas Suyoko.

Kondisi tersebut menjadi potret nyata harapan warga akan perhatian dan perbaikan jalan yang layak. “Kami membantu demi keselamatan dan kelancaran aktivitas warga,” tuturnya. (gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#kabupaten #sumber #jalan rusak #probolinggo #ditarik