PROBOLINGGO, Radar Bromo - Banjir yang menerjang sejumlah wilayah di Probolinggo juga turut merusak infrastruktur. Perlahan mitigasi bencana mulai dilakukan. Termasuk antisipasi dengan pembenahan darurat.
Seperti yang terjadi di perbatasan Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan. Hujan deras di dataran tinggi Madakaripura-Lumbang membuat debit air Sungai Laweyan meningkat.
Banjir pun terjadi dan membawa sejumlah material seperti sampah, kayu, dan lumpur, Sabtu (17/1) lalu.
Alhasil sejumlah parapet sungai di Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo dan Desa/Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan rusak akibat terjangan air dan material bawaan banjir.
Kepala Desa Tambakrejo, Arifin menyampaikan bahwa sampah bawaan banjir banyak yang tersendat di jembatan penghubung antara Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo dengan Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Kabupten Pasuruan.
“Bahkan beberapa paravet kami jebol diterjang air dan material bawaan. Ada dua titik yang jebol yaitu di Dusun Wringinan dan Dusun Krajan,” tuturnya.
Akibat debit air dan curah hujan yang lebat saat itu, ditambah dua parapet jebol, banjir tak tereklakkan. Sebanyak empat dusun di Desa Tambakrejo terendam banjir pada Sabtu (17/1). Kurang lebih ada 627 KK yang terdampak dan rumahnya kemasukan air.
“Di Dusun Gerdu ada 16 KK, Dusun Wringinan ada 199 KK, lalu di Dusun Krajan ada 226 KK, dan paling parah di Dusun Prapatan ada 186 KK. Di Dusun Prapatan ini airnya bahkan sampai semeter,” ungkapnya.
Sementara di Desa Nguling ada empat titik parapet yang jebol akibat terjangan banjir. Salah satunya berada di Dusun Pandean, sementara yang lainnya tersebar di Dusun Pasar dan Gentengan.
“Untuk yang di Pandean ini sepanjang kurang lebih 15 meter dengan tinggi 2 meter. Sementara masyarakat yang terdampak sekitar 563 KK di desa ini,” terang Kepala Desa Nguling, Edi Suyitno.
Untuk mengantisipasi luapan air dari sungai, pihaknya bekerjasama dengan PU SDA Provinsi Jawa Timur untuk melakukan penambalan tanggul.
Caranya dengan mengeruk tanah dan sisa material lumpur bawaan dari banjir untuk kemudian jadi tanggul sementara dengan bantuan eksavator long arm.
“Ini baru kami mulai hari ini (20/1), setelah kemarin dilakukan normalisasi di bagian hulu dan hilir sungai dekat jembatan penghubung antara Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas dan Desa/Kecamatan Nguling. Setelah dari sini nanti ke titik-titik lainnya yang parapetnya jebol,” ungkap Edi.
Sementara Koordinator Lapangan PU SDA Provinsi Jawa Timur, Rachmad Wahyudi menyampaikan bahwa pihaknya telah mulai bekerja saat Minggu (18/1) lalu.
Dimulai dengan membersihkan material sampah dan sedimen yang menumpuk di jembatan penghubung.
“Kami bersihkan dengan bantuan eksavator long arm. Untuk sampah kami angkut sementara lumpur dikembalikan ke tepi sungai untuk jadi tebing,” tuturnya.
Pada Minggu (18/1) siang hingga malam, Yudi menyampaikan bahwa pihaknya berhasil membersihkan sampah hingga 40 dump truck yang difokuskan pada daerah hulu jembatan.
Sementara pada Senin (19/1) sebanyak 30 dump truck yang berfokus pada bagian hilir jembatan.
“Kami di sini menggunakan dua dump truck dengan kapasitas 6 meter kubik. Tapi memang tidak kami isi penuh, hanya 4 sampai 5 meter kubik sekali angkut,” terangnya.
Hal ini dikerenakan pada hari pertama (18/1) mereka bekerja, dua dump truck tersebut mengalami kendala. Roda kedua kendaraan tersebut tertanam dalam lumpur, sehingga butuh waktu untuk evakuasi. Oleh karena itu dump truck tidak diisi penuh agar kejadian tersebut tidak terulang.
“Nanti setelah dari Tongas dan Nguling ini, kami masih menunggu koordinasi dari kantor. Mana-mana yang harus kami normalisasi lagi,” tutupnya. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid