TEGALSIWALAN, Radar Bromo-Dam Induk (DI) Manting jebol sejak Minggu (11/1) sore. Diduga, konstruksi beton dam tak sanggup menampung debit air dam yang meninggi, sore itu. Apalagi, kondisi dam sudah tua dan tidak berfungsi maksimal.
Sebelum dam jebol, tiga kecamatan di Kabupaten Probolinggo diguyur hujan deras. Hujan dengan intensitas sedang turun sejak siang hingga sore di Kecamatan Banyuanyar, Tegalsiwalan, dan Leces.
Durasi hujan yang cukup lama, menyebabkan naiknya debit air sungai yang mengalir ke arah Dam Manting. Hingga akhirnya, sekitar pukul 16.05, debit air dam semakin tinggi.
Air bahkan meluber, melewati batas sisi atas pintu air. Lalu, tiba-tiba pintu utama dam di bagian tengah jebol. Dam jebol diduga karena tak kuat menahan naiknya debit air.
“Dam Manting jebol sore hari. Saat itu memang sedang hujan. Tapi wilayah sini (Desa Sumberkledung, Tegalsiwalan, Red), hujan tidak terlalu deras. Air yang mengalir ke dam merupakan aliran air dari selatan,” kata Budi, 48, warga setempat.
Warga, menurut Budi, tidak mengira dam yang menjadi urat nadi irigasi di Desa Sumberkledung tersebut akan jebol. Sebab, sebenarnya debit air yang mengalir di dam sudah sering naik. Namun selama ini dam tetap kokoh.
“Tidak menyangka bisa jebol. Karena sudah sering ada peningkatan air. Tapi biasanya kuat-kuat saja,” bebernya.
Kepala Desa Sumberkledung Jenandi Satriyo mengatakan, Dam Manting berkonstruksi beton dan besi. Memiliki tiga pintu air yaitu dua pintu air berukuran kecil di sebelah kanan dan kiri. Lalu, satu pintu air utama yang berada di tengah memiliki ukuran lebih besar.
Pintu air tersebut memiliki fungsi untuk mengatur air. Jika ada peningkatan debit air, maka secara otomatis pintu terbuka.
Namun, karena usianya sudah tua, maka fungsi pintu air tersebut tidak maksimal. Bahkan, sudah tidak berfungsi lagi.
“Dam Manting itu usianya sudah tua, sejak dulu sudah ada. Awalnya pintu air itu berfungsi. Ada semacam bandul pemberat. Jadi saat ada peningkatan air maka otomatis membuka. Tapi mungkin karena usianya sudah tua, jadi tidak berfungsi,” jelasnya.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, bagian Dam Induk Manting yang jebol yaitu bagian tengah atau pintu utama. Sementara dua pintu lainnya yang berukuran lebih kecil, kondisinya normal.
“Tingginya debit air dan kerasnya arus saat itu membuat pintu air utama yang di tengah jebol. Bahkan bergeser sekitar 10 meter dari posisi semula,” katanya.
Namun bukan hanya karena debit air tinggi. Jenandi menduga, ada faktor lain yang membuat pintu utama dam jebol.
Antara lain, usia dam yang sudah tua dan tidak kokoh. Ditambah pintu air utama yang tidak berfungsi sebagai pengatur otomatis saat debit air meningkat.
“Dam jebol bukan hanya karena cuaca. Tetapi juga karena minimnya pemeliharaan pada dam. Sehingga pintu air tidak berfungsi dengan baik,” tuturnya. (ar/hn)
Editor : Muhammad Fahmi