PROBOLINGGO, Radar Bromo - Capaian retribusi pasar Kota Probolinggo tahun 2025 tercatat melampaui target. Karena itu, tahun ini dinaikkan Rp 50 juta.
Kepala UPT Pasar Kota Probolinggo Edhi Sekar menjelaskan, tahun 2025 pihaknya menargetkan penerimaan retribusi pasar sebesar Rp 1.448.865.580. Realisasi di lapangan mencapai Rp 1.808.812.209.
“Capaian tersebut setara dengan 124,84 persen dari target. Angka ini belum termasuk retribusi dari Pasar Randu Pangger karena masih dalam proses rekapitulasi,” ujar Edhi.
Salah satu faktor utama yang mendorong tingginya capaian retribusi pasar, menurutnya, yaitu meningkatnya kesadaran pedagang membayar kewajiban retribusi.
Selain itu, penerapan sistem pembayaran nontunai turut berkontribusi terhadap transparansi dan efektivitas pemungutan.
“Pembayaran retribusi sekarang sudah nontunai, sehingga lebih transparan. Kesadaran masyarakat juga mulai meningkat,” ungkapnya.
Edhi menyebutkan, kontribusi retribusi terbesar berasal dari Pasar Baru yang memiliki jumlah pedagang paling banyak dibandingkan pasar lainnya.
Sementara itu, penerimaan terendah dari Pasar Bremi yang hanya dihuni lima pedagang aktif.
Jika dibandingkan dengan tahun 2024, capaian retribusi pasar pada 2025 mengalami penurunan nilai nominal. Pada 2024, target retribusi pasar ditetapkan Rp 1.533.973.894, dengan realisasi mencapai Rp 1.927.828.815.
“Pada 2024 memang lebih tinggi karena saat itu retribusi ruko Pasar Gotong Royong masih masuk ke UPT Pasar. Namun sekarang sudah dialihkan ke bidang lain,” jelas Edhi.
Ia merinci, pada 2024 retribusi ruko Pasar Gotong Royong hanya masuk selama satu bulan, yakni Januari.
Setelah itu, terbit regulasi baru yang mengatur bahwa retribusi ruko Pasar Gotong Royong menjadi kewenangan bidang lain, sehingga tidak lagi masuk dalam retribusi pasar.
Tingginya capaian retribusi pasar pada 2025 tersebut menjadi dasar penetapan target yang lebih tinggi pada tahun 2026. Edhi menyebutkan, target retribusi pasar tahun ini dinaikkan. “Target tahun ini dinaikkan sekitar Rp 50 juta,” katanya.
Meski optimistis target tersebut dapat tercapai, Edhi mengakui bahwa kenaikan target itu cukup menantang. Pasalnya, kondisi perekonomian dan aktivitas perdagangan di pasar bersifat fluktuatif dari tahun ke tahun.
“Kondisi ekonomi tiap tahun berbeda-beda. Tahun 2025 mungkin bagus sehingga retribusi lancar. Untuk tahun ini kita belum tahu seperti apa kondisi perekonomiannya,” ujarnya.
Untuk mengejar target, UPT Pasar akan menggenjot penerimaan dari retribusi pelataran. Sebab, retribusi dari kios, ruko, bedak, dan los cenderung stabil setiap tahunnya.
“Besaran retribusi sudah diatur dalam Perda Nomor 5 Tahun 2025. Untuk ruko, bedak, dan kios, retribusinya sebesar Rp 450 per meter persegi per hari.
Sedangkan retribusi los pasar tergantung luasan, jenis dagangan, serta posisi los, apakah berada di bagian depan, tengah, atau belakang,” pungkas Edhi. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi