MAYANGAN, Radar Bromo-Penyebab bunuh diri pada AFA, 16 seorang siswa SMA Negeri di Kota Probolinggo terus didalami Polres Probolinggo Kota.
Hingga Kamis (8/1), polisi belum menemukan bukti kuat yang mengarah pada dugaan perundungan di lingkungan sekolah.
Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Zaenal Arifin mengatakan, pihak kepolisian telah melakukan pemeriksaan di sekolah korban.
Sejumlah pihak telah dimintai keterangan. Mulai dari kepala sekolah, wali kelas, hingga teman dekat korban.
Pihak keluarga juga sudah dimintai keterangan. Walaupun pemeriksaan terhadap pihak keluarga belum dilakukan secara maksimal, karena masih dalam suasana duka.
“Kami juga memeriksa handphone milik korban. Sampai saat ini belum ditemukan bukti yang mengarah pada perundungan,” kata Zaenal Arifin.
“Kami sudah ke sekolah (7/1) dan isi ponsel korban tidak ada yang mencurigakan,” ujarnya.
Diketahui sebelumnya, Afa ditemukan meninggal gantung diri di lantai dua rumahnya. Ketua RT setempat, Winarti, 55, menyebut, korban sempat beraktivitas seperti biasa di rumah pada pagi hari sebelum ditemukan meninggal. Sekitar pukul 10.30, Afa masih terlihat beraktivitas di rumah.
Namun berdasarkan keterangan orang tua korban, Afa sempat mengeluhkan permasalahan di sekolah.
“Menurut orang tuanya, korban sempat mengeluh di-bully oleh teman-temannya dan merasa tidak disapa di sekolah. Tapi penyebab pastinya masih belum diketahui,” kata Winarti.
Dugaan perundungan (bullying) yang disebut jadi penyebab AFA, 16, bunuh diri, dibantah keras oleh sekolah tempat AFA menuntut ilmu.
Sekolah menegaskan, isu bullying yang beredar tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Unt, kepala SMA Negeri tempat AFA sekolah mengatakan, AFA dikenal sebagai siswa yang ceria, mudah bergaul, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Dia juga punya banyak teman.
“Almarhum ini anaknya ceria, punya banyak teman, dan aktif di kegiatan sekolah. Salah satunya sebagai anggota ekstrakurikuler Paskibraka. Jadi kabar mengenai bullying itu tidak benar. Teman-temannya justru sangat terpukul atas kepergiannya,” terang Unt.
Unt menjelaskan, sekolah yang dipimpinnya merupakan sekolah penggerak yang secara konsisten menjalankan program pencegahan perundungan sejak 2020. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi