KANIGRAN, Radar Bromo-Tragedi memilukan seorang siswa SMA Negeri di Kota Probolinggo bunuh diri jadi perhatian DPRD setempat.
Kamis pagi (8/1) rombongan komisi I DPRD setempat, takziah ke rumah duka AFA, yang disebut sempat mengeluh karena di-bully di sekolahnya.
Ketua Komisi I DPRD Kota Probolinggo Isah Junaidah menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya siswa kelas X itu.
Apalagi sempat beredar informasi bahwa AFA bunuh diri karena menjadi korban bullying atau perundungan.
”Kami dari DPRD, khususnya Komisi I, ikut berduka. Kami berharap di Kota Probolinggo tidak ada lagi anak yang meninggal karena bunuh diri atau jadi korban bullying,” katanya.
Hal serupa diungkapkan Sibro Malisi, anggota Komisi I DPRD Kota Probolinggo.
Menurutnya, kasus AFA saat ini sudah ditangani pihak kepolisian. Pihaknya percaya dan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan pada pihak berwajib.
Harapannya, polisi bisa memastikan dan mengungkap penyebab korban bunuh diri. Termasuk, dugaan dia jadi korban perundungan.
”Untuk saat ini serahkan kasusnya pada pihak kepolisian. Tetapi yang perlu diperhatikan, kita semua harus berperan mencegah terjadinya bullying di lingkungan sekolah atau lingkungan luar sekolah,” terangnya.
“Semua sekolah, harus memperhatikan dan memastikan tidak ada tindak bullying di lingkungan sekolah,” tegasnya.
Diketahui sebelumnya, AFA ditemukan meninggal gantung diri di lantai dua rumahnya.
Ketua RT setempat, Winarti, 55, menyebut, korban sempat beraktivitas seperti biasa di rumah pada pagi hari sebelum ditemukan meninggal. Sekitar pukul 10.30, AFA masih terlihat beraktivitas di rumah.
Namun berdasarkan keterangan orang tua korban, AFA sempat mengeluhkan permasalahan di sekolah.
“Menurut orang tuanya, korban sempat mengeluh di-bully oleh teman-temannya dan merasa tidak disapa di sekolah. Tapi penyebab pastinya masih belum diketahui,” kata Winarti.
Dugaan perundungan (bullying) yang disebut jadi penyebab AFA, 16, bunuh diri, dibantah keras oleh sekolah tempat AFA menuntut ilmu.
Sekolah menegaskan, isu bullying yang beredar tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Unt, kepala SMA Negeri tempat AFA sekolah mengatakan, AFA dikenal sebagai siswa yang ceria, mudah bergaul, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Dia juga punya banyak teman.
“Almarhum ini anaknya ceria, punya banyak teman, dan aktif di kegiatan sekolah. Salah satunya sebagai anggota ekstrakurikuler Paskibraka. Jadi kabar mengenai bullying itu tidak benar. Teman-temannya justru sangat terpukul atas kepergiannya,” terang Unt.
Unt menjelaskan, sekolah yang dipimpinnya merupakan sekolah penggerak yang secara konsisten menjalankan program pencegahan perundungan sejak 2020. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi