PROBOLINGGO, Radar Bromo–Dugaan perundungan (bullying) yang disebut jadi penyebab AFA, 16, bunuh diri, dibantah keras oleh sekolah tempat AFA menuntut ilmu.
Sekolah menegaskan, isu bullying yang beredar tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Unt, kepala SMA Negeri tempat AFA sekolah mengatakan, AFA dikenal sebagai siswa yang ceria, mudah bergaul, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Dia juga punya banyak teman.
“Almarhum ini anaknya ceria, punya banyak teman, dan aktif di kegiatan sekolah. Salah satunya sebagai anggota ekstrakurikuler Paskibraka. Jadi kabar mengenai bullying itu tidak benar. Teman-temannya justru sangat terpukul atas kepergiannya,” terang Unt.
Unt menjelaskan, sekolah yang dipimpinnya merupakan sekolah penggerak yang secara konsisten menjalankan program pencegahan perundungan sejak 2020.
Program tersebut diperkuat dengan pembentukan Agen Perubahan Sekolah (APS) sebagai bagian dari kebijakan pemerintah.
“Di setiap kelas ada kader atau agen perubahan yang menjunjung nilai 6S, yaitu senyum, salam, sapa, salim, sopan, dan santun. Program ini sudah disosialisasikan, dideklarasikan. Bahkan setiap siswa menandatangani pakta komitmen antiperundungan,” jelasnya.
Menurut Unt, total terdapat 26 kader APS di sekolahnya. Mereka dipilih langsung oleh siswa di masing-masing kelas.
Para kader yang dipilih biasanya dinilai memiliki kemampuan memimpin, menggerakkan teman sebayanya, serta memiliki komitmen tinggi terhadap upaya pencegahan bullying.
“Tugas APS adalah memantau dan mengantisipasi potensi perundungan atau kenakalan di lingkungan sekolah. Jika ada indikasi, mereka wajib melaporkan kepada pihak sekolah,” tambahnya.
Program ini juga mengantarkan sekolah meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di Jakarta, sekitar dua pekan lalu.
Penghargaan serupa juga diberikan kepada dua sekolah lain di Jawa Timur, masing-masing dari Malang dan Gresik.
Terkait aktivitas AFA sebelum meninggal, Unt mengungkapkan bahwa Selasa (6/1) atau sehari sebelum kejadian, AFA sempat mengeluh sakit dan mendatangi UKS.
Sekitar pukul 11.00, AFA meminta izin pulang karena merasa tidak enak badan.
“Wali kelasnya mengantar sampai gerbang sekolah dan memfoto saat AFA pulang. Foto itu dikirim ke ibunya sebagai konfirmasi. Dan benar, AFA pulang ke rumah,” terang Unt.
Pada Rabu (7/1), AFA kembali tidak masuk sekolah. Orang tuanya menyampaikan izin karena AFA masih sakit.
Namun sekitar pukul 12.00, AFA ditemukan meninggal dunia di lantai dua rumahnya dengan kondisi leher terikat slang.
Diketahui sebelumnya, AFA ditemukan meninggal gantung diri di lantai dua rumahnya.
Ketua RT setempat, Winarti, 55, menyebut, korban sempat beraktivitas seperti biasa di rumah pada pagi hari sebelum ditemukan meninggal. Sekitar pukul 10.30, AFA masih terlihat beraktivitas di rumah.
Namun berdasarkan keterangan orang tua korban, AFA sempat mengeluhkan permasalahan di sekolah.
“Menurut orang tuanya, korban sempat mengeluh di-bully oleh teman-temannya dan merasa tidak disapa di sekolah. Tapi penyebab pastinya masih belum diketahui,” kata Winarti. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi