PROBOLINGGO, Radar Bromo-Peristiwa tragis menimpa pelajar sebuah SMA negeri di Kota Probolinggo. Afa, 16, warga Kecamatan Kanigaran, ditemukan meninggal bunuh diri di rumahnya Rabu (7/1) siang. Sebelum ditemukan meninggal, korban mengaku di-bully di sekolahnya.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo di lapangan, sebelum meninggal korban beraktivitas seperti biasa pada pagi hari.
Ketua RT setempat Winarti, 55, menyebut, korban terlihat beraktivitas di rumahnya sampai sekitar pukul 10.30.
Padahal, sebenarnya itu adalah hari aktif sekolah. Namun, korban tidak masuk hari itu. Belum diketahui apa alasan korban tidak masuk sekolah.
Hanya berdasarkan keterangan orang tua korban, pagi itu Afa mengeluhkan permasalahan di sekolah.
Korban disebut mengeluh di-bully di sekolah oleh teman-temannya. Bahkan, dia juga dijauhi atau tidak ditemani.
“Menurut orang tuanya, korban sempat mengeluh di-bully oleh teman-temannya di sekolah. Dia juga merasa tidak disapa (didiamkan, Red) oleh teman-temannya di sekolah,” terang Winarti.
Namun, Winarti mengaku tidak tahu apa penyebab korban bunuh diri. Apakah berkaitan dengan keluhan yang disampaikan pada orang tuanya atau tidak.
Kondisi korban sendiri pertama kali diketahui oleh kakaknya, Viv, 21. Saat itu, sekitar pukul 12.00, Viv mendengar suara teriakan korban dari lantai dua rumahnya.
Dia pun segera berlari untuk mengecek suara teriakan itu. Namun alangkah kagetnya Viv. Saat itu, dia melihat adiknya dalam posisi tergantung di ruang salat.
“Korban ditemukan gantung diri menggunakan selang di ruang salat. Kakaknya yang tahu pertama kali,” lanjut Winarti.
Pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada ketua RT dan diteruskan ke kepolisian. Sebelum petugas kepolisian datang ke lokasi, tubuh korban diturunkan oleh pihak keluarga.
Winarti menjelaskan, Afa merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Saat ini, dia pelajar kelas X di sebuah SMA negeri di kota. Pada hari kejadian, korban seharusnya masuk sekolah, namun tidak berangkat.
“Dia anak terakhir, kakaknya yang menemukan itu anak nomor tiga. Biasanya dia itu masuk sekolah, tapi hari ini tidak masuk. Kami juga tidak tahu alasannya,” ungkapnya.
Menurut Winarti, korban dikenal sebagai pribadi pendiam, baik, dan aktif berolahraga. Hal itu membuat warga terkejut atas kejadian tersebut.
“Anaknya pendiam dan baik. Makanya warga kaget. Saya juga berharap polisi bisa memastikan penyebab bunuh diri itu, termasuk ke sekolah,” tambah Winarti.
Petugas Polres Probolinggo Kota kemudian datang ke rumah korban siang kemarin. Petugas langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Saat petugas tiba, jenazah korban sudah diturunkan dan dipeluk erat oleh sang ibu.
Petugas lantas mengevakuasi jasah korban ke kamar jenazah RSUD dr. Mohammad Saleh untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sementara rumahnya dipasangi garis polisi.
Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Zaenal Arifin mengatakan, berdasarkan indikasi awal, korban meninggal dunia akibat bunuh diri. Meski demikian, pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.
“Indikasi awal memang bunuh diri, namun kami masih melakukan pendalaman untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian korban,” ujar Zaenal.
Menurutnya, saat kejadian korban tidak sendirian di rumah. Ada anggota keluarga lain di sana. Oleh sebab itu, polisi akan memeriksa sejumlah saksi untuk memperjelas peristiwa tersebut.
“Kami juga akan memeriksa saksi-saksi. Termasuk terkait dugaan bullying yang terjadi pada korban di sekolah, saat ini masih dalam proses penyelidikan,” terangnya.
Terpisah, Koordinator Kamar Jenazah RSUD dr. Mohammad Saleh Kota Probolinggo Nur Wasis menyampaikan, korban diduga meninggal murni karena bunuh diri.
“Tidak ada luka lain selain di lehernya. Ada bekas lilitan,” jelasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi