SUKAPURA, Radar Bromo - Musim liburan akhir tahun ini membuat jumlah wisatawan menuju Gunung Bromo meningkat. Namun masih banyak wisatawan yang menggunakan motor matik menuju Bromo.
Terutama yang masuk melalui Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Karena itu, Pemdes Ngadisari melakukan penyekatan demi menghindari kecelakaan.
“Selama libur Natal dan tahun baru, penyekatan motor matik kami galakkan. Tujuannya tak lain meningkatkan keselamatan dan menurunkan potensi kecelakaan akibat rem blong,” kata Kades Ngadisari Sunaryono, Senin (29/12).
Penyekatan dilakukan sejak 25 Desember 2025 di jalur wisata Gunung Bromo dan rencananya akan dilakukan sampai 2 Januari 2026.
Selama penyekatan itu, Pemdes Ngadisari menugaskan khusus warganya untuk menyekat motor matik pengunjung.
Setiap hari, minimal dua anggota linmas desa berjaga di titik penyekatan. Kadang juga 4-6 linmas yang berjaga, tergantung tinggi rendahnya jumlah pengunjung.
Ada pun titik penyekatan dilakukan di Lemah Kuning atau Tengking di Desa Ngadisari, berjarak sekitar 4 kilometer dari wisata Gunung Bromo.
Penyekatan dilakukan saat pengunjung pulang dari Gunung Bromo, pukul 06.00–10.00. Sebab, biasanya di jam-jam ini pengunjung pulang.
Lemah Kuning atau Tengking dipilih karena merupakan jalur ekstrem yang didominasi oleh jalan menurun dan menikung. Sehingga, membutuhkan sistem pengereman motor yang baik. Sementara motor matik tidak direkomendasikan digunakan pada ruas jalan ini.
Selama ini, menurut Sunaryono, sering terjadi kecelakaan lalu lintas di Ngadisari dengan korban motor matik.
Biasanya, kecelakaan terjadi saat pengunjung dalam perjalanan pulang dari Bromo. Yaitu saat posisi jalan menurun.
“Saat jalan menurun, pengendara cenderung terus-terusan menggunakan rem. Akhirnya, rem menjadi panas, kemudian blong. Akibatnya, laju motor lebih kencang dan tak terkontrol. Untuk meminimalisasi kondisi itu, kami melakukan penyekatan,” lanjutnya.
Pengunjung yang menggunakan motor matik dan pulang dari Bromo, diminta berhenti oleh perangkat desa.
Mereka diminta istirahat untuk mendinginkan rem motor matik yang sudah panas. Setelah dingin dan rem berfungsi normal, pengunjung dapat melanjutkan kembali perjalanan pulang.
“Selama istirahat itu, petugas memberikan sosialisasi perihal keselamatan berkendara motor di gunung. Sekitar 10 menit beristirahat, fungsi pengereman sudah normal, pengunjung boleh melanjutkan perjalanan,” bebernya.
Selama tanggal 25-18 Desember, sekitar 26 motor matik terjaring penyekatan. Belasan motor di antaranya, kondisi busi dan rem tidak normal karena panas. Ini ditandai dengan kondisi pengereman yang sudah dalam.
“Kalau sudah begini, ya harus istirahat agar rem dingin. Kalau sudah dingin dan rem normal lagi, baru boleh lanjut,” terangnya.
Aksi ini menurut Sunaryono, dilakukan murni sebagai wujud kepedulian desa untuk meningkatkan keselamatan wisatawan.
Sebab, walaupun sudah ada banner larangan penggunaan motor matik, hal itu tidak cukup efektif. Sehingga perlu ada petugas yang berjaga melakukan penyekatan.
Setelah liburan selesai, rencananya penyekatan akan dilakukan setiap akhir pekan. Yaitu, fokus setiap malam minggu dan minggu pagi.
Untuk menghindari adanya respons negatif dari pihak lain, di lokasi penyekatan motor matik sengaja tidak disediakan fasilitas pelengkap. Seperti toilet, kantin, ataupun bengkel. Sebab, tempat penyekatan hanya digunakan untuk beristirahat mendinginkan rem agar berfungsi normal.
“Penyekatan motor matik ini cukup efektif menekan potensi kecelakaan lalu lintas. Sebelum ada penyekatan ini, selama satu bulan pernah ada 12 kali kecelakaan karena motor matik rem blong. Karena itulah setiap akhir pekan dan libur panjang kami lakukan penyekatan,” terangnya.
Kasatlantas Polres Probolinggo AKP Safiq Jundhira mengatakan, di beberapa titik Kecamatan Sukapura sejatinya dipasang banner imbauan yang isinya melarang penggunaan motor matik ke Bromo. Sosialisasi tentang larangan motor matik ke Bromo juga telah dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan upaya menurunkan potensi kecelakaan.
“Motor matik bukan speknya untuk jalan tanjakan maupun turunan curam,” imbuhnya. (ar/hn)
Editor : Muhammad Fahmi