SEPANJANG Tahun Anggaran 2025, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo telah menginisiasi sejumlah program inovatif dan strategis yang berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Semua upaya yang dilakukan sebagai bentuk komitmen mewujudkan program “Probolinggo Bersolek.”
Kini, kinerja DLH Kota Probolinggo tidak hanya berfokus pada kebersihan dan pengelolaan sampah. Tetapi juga sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam menjaga kualitas lingkungan hidup.
Salah satunya melalui pengukuran Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) yang di dalamnya menyangkut kualitas air, udara, tutupan lahan/ruang terbuka hijau, hingga berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.
“Untuk menjaga indeks kualitas air, DLH telah melakukan pemasangan 3 trash boom di Kota Probolinggo. Yakni, di aliran Sungai DAM Amsterdam-Wiroborang, aliran Sungai Taman Manula Jalan Soekarno Hatta, dan aliran Sungai Kali Banger,” ujar Kepala DLH Kota Probolinggo Retno Wandansari.
Dalam hal tutupan lahan sekaligus menjaga kualitas udara, DLH telah menanami sekitar 116 pohon bungur di sekitar Taman Manula, Taman Maramis, dan sejumlah lokasi di Kota Probolinggo yang membutuhkan pohon.
“Selain termasuk jenis pohon teduh, pohon bungur akarnya tidak merusak bangunan, sementara bunganya cantik, berwana merah jambu. Tentu semakin menambah keindahan lingkungan,” ujarnya.
Dalam penanggulangan sampah, kata Retno, Pemkot telah memberikan armada berupa kendaraan roda tiga kepada 29 kelurahan. Secara bertahap akan dilakukan hingga 1 kendaraan roda tiga 1 RW.
“Keberadaan kendaraan roda tiga ini untuk mempercepat pengangkutan sampah, mengoptimalkan mobilisasi sampah langsung ke TPA/TPS, dan mendorong partisipasi masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Sehingga, tidak ada lagi alasan ada penumpukan sampah di lingkungan terkecil,” jelas Retno.
Di sisi lain, penanganan sampah di TPA dilakukan lebih serius. Tahun ini, DLH telah memiliki fasilitas hanggar pilah. Fungsinya untuk menampung dan mengolah sampah yang sudah terpilah sebelum diproses lebih lanjut, sehingga sampah yang masuk TPA bisa dikelola terlebih dahulu.
Transformasi budaya lingkungan pun telah meluas dan berkelanjutan di seluruh wilayah Kota Probolinggo. Tahun ini, Penghargaan Adiwiyata Mandiri 2025 diraih oleh satu sekolah. Yakni, SDN Mangunharjo 1. Sementara, 13 sekolah lainnya memborong penghargaan Adiwiyata Nasional.
Tak hanya itu, dua kelurahan di Kota Probolinggo masing-masing mendapatkan Trofy Proklim Utama. Yakni, RW 4 Kelurahan Jrebeng Lor dan Sertifikat Proklim Utama diraih oleh RW 2 Kelurahan/Kecamatan Mayangan.
Untuk TWSL, diakui Retno, tahun ini sarana dan prasarananya telah banyak yang diperbaiki. DLH dengan program inovasinya, DLH juga memprakarasi berbagai kegiatan yang bisa mengubah wilayah kumuh menjadi sebuah destinasi baru yang menarik untuk dikunjungi.
Tentu dengan melibatkan partisipasi masyarakat, seperti adanya Festival Pohon hingga Festival Sumber Mata Air.
Dalam hal pengelolaan sampah, inovasi Pasprotol (Pasar Tukar Botol) terus berlanjut. Memungkinkan masyarakat untuk mengumpulkan sampah botol untuk ditukar dengan tempe, tahu, telur, bahkan pupuk organik.
“Kami, DLH terus berkolaborasi dengan instansi hingga stakeholder untuk memaksimalkan program, kami bersama-sama mengelola pencemaran lingkungan di sekitar kita. Salah satunya, berkolaborasi dengan DLH Provinsi Jawa Timur melalui World Clean Up Day bersih-bersih Sungai Legundi yang dihadiri Gubernur Jawa Timur,” kata Retno.
Ada pula kolaborasi melalui kegiatan “Sagara Kita.” Sebuah inovasi dari Pemprov agar bersama-sama mengelola pencemaran di lingkungan sekitar pantai.
Bentuk kegiatannya, dengan menanam cemara udang, melakukan sosialisasi tentang lingkungan, pemberdayaan masyarakat membuat batik ecoprint menggunakan pewarna alami mangrove, hingga berbagai olahan produk dari manga, mangrove, dan daun alor. (el/adv)
Editor : Moch Vikry Romadhoni