Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

BPBD: Puncak Hujan Diprediksi sampai Januari, Waspadai Peningkatan Intensitas

Achmad Arianto • Selasa, 16 Desember 2025 | 15:45 WIB
MASIH MENGANCAM: Bencana tanah longsor terjadi di Andungbiru, Kecamatan Tiris setelah hujan lebat dengan durasi yang lama. BPBD Provinsi Jawa Timur mewaspadai poten
MASIH MENGANCAM: Bencana tanah longsor terjadi di Andungbiru, Kecamatan Tiris setelah hujan lebat dengan durasi yang lama. BPBD Provinsi Jawa Timur mewaspadai poten

DRINGU, Radar Bromo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mewaspadai potensi curah hujan ekstrem.

Kondisi tersebut diperkirakan akan terjadi hingga awal tahun sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.

Peringatan ini disampaikan menyusul laporan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait dinamika atmosfer yang terjadi menjelang akhir tahun. Potensi curah hujan ekstrem diperkirakan mulai meningkat pada Senin (15/12).

Ancaman cuaca ekstrem tersebut diprediksi akan mencapai puncaknya pada awal Januari 2026. BMKG mencatat adanya peningkatan signifikan curah hujan yang dipengaruhi oleh beberapa fenomena atmosfer yang terjadi secara bersamaan.

“Salah satu pemicu utama hujan ekstrem adalah aktifnya monsun Asia yang membawa massa udara basah dari wilayah Asia menuju Indonesia. Kondisi tersebut diperkuat oleh anomali madden julian oscillation (MJO) yang meningkatkan suplai uap air di atmosfer,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Timur, Dadang Iqwandy yang ditemui usai  sosialisasi kebencanaan di Dringu.

Keberadaan gelombang kelvin dan gelombang rossby ekuator turut mempercepat proses pembentukan awan hujan.

Fenomena ini semakin diperkuat dengan adanya seruak dingin dari Siberia yang mendorong pertumbuhan awan hujan secara masif di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Sejumlah fenomena atmosfer ini terjadi secara bersamaan, sehingga memicu hujan dengan intensitas tinggi di beberapa daerah. Salah satunya di wilayah Probolinggo dan sekitarnya.

BPBD Provinsi Jawa Timur juga mewaspadai potensi tumbuhnya bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.

“Pola cuaca yang tidak stabil berpotensi memicu pembentukan siklon tropis secara tidak lazim. Seperti kejadian sebelumnya, di mana munculnya sinyal siklon tropis sempat menimbulkan dampak signifikan di Aceh. Ini perlu menjadi perhatian serius,” jelasnya.

Berdasarkan kondisi tersebut, BPBD Provinsi Jawa Timur mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana, khususnya daerah pegunungan dan dataran miring, agar meningkatkan kewaspadaan. Sementara di kawasan pesisir utara Jawa Timur juga diminta mewaspadai potensi banjir rob.

“Fenomena ini dipicu fase perigee dan bulan purnama yang diperkirakan terjadi pada pertengahan Desember 2025,” bebernya.

Menyikapi potensi bencana yang dapat terjadi Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief turut meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi-potensi yang dapat terjadi. Hal ini menjadi salah satu upaya meminimalisir resiko bencana yang dapat terjadi. Sehingga tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

“Dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah seperti saat ini, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan serta memantau informasi cuaca dari instansi resmi. Kemudian melaporkan apabila terjadi potensi bencana di lingkungan sekitar. Sehingga petugas bisa mengambil langkah cepat dan tepat,” ungkapnya.

 

Potensi Bencana Hidrometeorologi Makin Luas

Intensitas hujan di wilayah Kabupaten Probolinggo mengalami peningkatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi yang bisa terjadi pada wilayah dataran tinggi maupun rendah.

Naiknya intensitas hujan tentunya berdampak pada naiknya juga potensi bencana hidrometeorologi. Mulai dari cuaca ekstrem dan angin kencang, tanah longsor, banjir atau genangan, banjir rob, serta gelombang tinggi.

“Intensitas hujan naik potensi bencana juga naik. Namun jenis bencana tergantung kondisi geografis wilayah,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Zubaidullah,

Sejauh ini ada beberapa wilayah yang diwaspadai memiliki potensi bencana hidrometeorologi. Diantaranya Kecamatan Tiris, Krucil, Lumbang, Sukapura, dan Sumber memiliki potensi tanah longsor. Selanjutnya potensi banjir dapat terjadi di Kecamatan Tiris dan wilayah hilir pantura. Sehingga patut diwaspadai sekaligus perlu adanya mitigasi potensi bencana.

“Bencana hidrometeorologi di Kabupaten Probolinggo hampir semuanya bisa terjadi. Masyarakat perlu mewaspadainya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” bebernya.

Zubaidullah menuturkan, luasnya wilayah potensi yang ada membutuhkan kepedulian dari masyarakat, pemerintah desa dan kecamatan untuk berkoordinasi. Baik dalam hal pencegahan maupun penanganan dampak bencana.

Untuk percepatan penanganan dan asesmen BPBD maksimalkan keberadaan Tim Reaksi Cepat (TRC). TRC bersiaga saat kondisi hujan deras dengan durasi yang lama. Nantinya jika terdapat laporan bahwa ada bencana hidrometeorologi maka petugas akan melakukan tindakan cepat. Mendatangi lokasi kejadian dan melakukan asesmen. Saat proses asesmen kemudian ditemukan warga terdampak maka akan dilakukan pemberian logistik kebencanaan sesuai kebutuhan.

“Luasnya potensi bencana tentunya perlu peran serta dan kepedulian masyarakat. Baik dalam hal pemberian informasi maupun penanganan secara darurat. Penanganan selanjutnya dilakukan berkoordinasi dengan pihak terkait,” jelasnya. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#banjir bandang #bpbd #longsor #musim hujan #tiris #probolinggo