PROBOLINGGO, Radar Bromo - Masyarakat Jawa Timur, termasuk Kota Probolinggo, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprakirakan kondisi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi hingga Sabtu (20/12).
Kepala BMKG Juanda Taufiq Hermawan menjelaskan, cuaca ekstrem berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi.
Di antaranya, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, banjir dan banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
“Saat ini hampir seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan. Dalam beberapa hari ke depan, diperkirakan terjadi peningkatan potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Salah satu pemicu utama kondisi ini adalah keberadaan bibit siklon tropis 93S yang terdeteksi di Samudra Hindia bagian selatan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Meski tidak berdampak langsung, sistem tersebut memengaruhi dinamika cuaca di Jawa Timur.
“Dampaknya berupa peningkatan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, serta peningkatan tinggi gelombang di perairan Jawa Timur,” jelas Taufiq.
Selain itu, cuaca ekstrem juga dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer. Seperti gelombang Low, Kelvin, dan Rossby yang melintasi wilayah Jawa Timur.
Suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup hangat, ditambah atmosfer lokal yang labil dan lembap dari lapisan bawah hingga atas, turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif.
Di Kota Probolinggo, telah memasuki musim hujan, meski belum mencapai puncaknya. Puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi pada Februari 2026. Bencana mulai bermunculan.
Minggu (15/12), hujan lebat yang mengguyur Kota Probolinggo menyebabkan pohon setinggi tiga meter di Jalan Pantai Permata, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, tumbang. Syukur tak ada korban jiwa.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Probolinggo Nur Kholiq mengatakan, saat ini terdapat anomali basah akibat fenomena La Nina.
Kondisi ini menyebabkan intensitas hujan cenderung lebih tinggi dari normal. Kondisi tersebut diperparah pengaruh siklon tropis di selatan Indonesia.
“Curah hujan memang relatif lebih lebat karena adanya La Nina, ditambah pengaruh siklon tropis,” ujarnya.
BPBD Kota Probolinggo memastikan tetap siaga menghadapi potensi bencana. Kholiq mengatakan, ada beberapa wilayah yang perlu diwaspadai terkait kemungkinan terjadinya genangan air. Seperti Jati Sumber dan Kelurahan Sukoharjo.
“Saat ini, aliran Kali Pancor masih terpantau aman dan terkendali. Kalau pun terjadi genangan, biasanya dalam waktu sekitar satu jam sudah surut,” katanya.
Namun, Kholiq menambahkan, di wilayah Kampung Dok, Kecamatan Mayangan, genangan air cenderung bertahan lebih lama. “Biasanya surutnya lebih lama. Tergantung kondisi pasang surut air laut,” jelasnya. (gus/rud)
Editor : Fahreza Nuraga