PROBOLINGGO, Radar Bromo - Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Perdagangan (DKUP) Kota Probolinggo sedang memasang portal parkir otomatis di Pasar Randu Pangger di Wiroborang, Kecamatan Mayangan. Namun, belum lagi beroperasi, warga pasar sudah resah.
Keresahan itu disampaikan pedagang maupun pembeli. Portal yang dipasang di pintu masuk dan keluar dinilai berpotensi mengurangi jumlah pengunjung pasar. Sehingga, membuat pasar sepi.
Musrifa, 45, seorang pedagang mengaku cemas dengan pemasangan portal parkir otomatis itu. Walaupun saat ini memang belum difungsikan.
Menurutnya, kondisi pasar saat ini sudah sepi pembeli. Dengan dipasangnya portal parkir otomatis, ia khawatir pengunjung akan semakin enggan datang.
“Sekarang saja sudah sepi. Kalau ditambah portal parkir, pembeli bisa berpikir dua kali untuk masuk ke pasar karena harus bayar,” ujar warga Tongas, Kabupaten Probolinggo tersebut.
Musrifa mencontohkan, selama ini banyak pengunjung yang datang hanya untuk membeli barang kecil dengan harga murah.
Seperti kerupuk seharga Rp 3 ribu. Namun, mereka harus membayar parkir Rp 2 ribu.
“Orang pasti mikir. Beli cuma sedikit tapi harus bayar parkir hampir sama mahalnya. Akhirnya mereka beli di luar pasar atau parkir sembarangan yang justru berisiko,” jelasnya.
Musrifa juga mencontohkan kebiasaan pembeli yang keluar masuk pasar karena ada barang yang tertinggal atau lupa dibeli.
Dengan sistem parkir manual saat ini, pembeli seringkali tidak ditarik retribusi parkir saat datang untuk kedua kalinya.
“Kalau pakai portal otomatis seperti ini, keluar masuk dua kali, ya bayar dua kali. Itu yang memberatkan,” ungkapnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Randu Pangger Sugeng, 60. Ia mengaku belum mengetahui secara pasti dampak penerapan portal parkir tersebut.
Namun, tetap merasa waswas terhadap potensi penurunan transaksi.
“Kalau sekarang saja sepi, apa tidak makin sepi nanti? Apalagi untuk pedagang atau pembeli yang harus keluar masuk karena bawa barang atau ada yang ketinggalan,” kata pria yang berdomisili di Kelurahan Mangunharjo, Mayangan, itu.
Sugeng mengungkapkan, sebelumnya paguyuban sudah mengikuti pertemuan dengan dinas terkait.
Namun, pertemuan tersebut lebih bersifat sosialisasi. Bukan diskusi untuk mencari solusi bersama.
“Programnya sudah dianggap matang dan tidak bisa dikaji ulang. Padahal ada beberapa hal yang menurut kami masih perlu dibicarakan,” ujarnya.
Meski demikian, Sugeng mengaku pasrah dan memilih mengikuti kebijakan tersebut. Sambil menunggu dampak ke depan seperti apa.
“Ya mau bagaimana lagi, katanya sudah kebijakan. Kita jalani saja dulu, nanti dilihat bagaimana dampaknya,” tuturnya.
Siti, 40, seorang pembeli juga mengaku khawatir. Warga Jati, Kecamatan Mayangan, itu mengaku keberatan jika harus membayar parkir berulang kali hanya karena barang belanjaan tertinggal.
“Kalau ada barang yang ketinggalan, terus harus keluar masuk dan bayar lagi, ya berat,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Sunayah, 38, yang juga warga Jati. Ia menyebut, kondisi tersebut bisa mendorong pembeli memilih parkir di luar area pasar.
“Kalau bolak-balik ditarik parkir, ya rugi. Lebih baik parkir di luar pasar saja. Dak perlu bayar,” katanya.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Kepala DKUP Kota Probolinggo Slamet Swantoro menegaskan, pemasangan portal parkir tidak bertujuan membuat pasar sepi.
Kebijakan itu justru untuk memaksimalkan pendapatan parkir serta meningkatkan transparansi pengelolaan.
“Penerapan portal parkir ini akan kami laksanakan sebagai uji coba selama satu bulan. Sekaligus sebagai bentuk sosialisasi agar masyarakat tidak kaget, termasuk terkait mekanisme keluar masuk kendaraan. Hasilnya nanti juga akan kami evaluasi,” jelasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi