TIRIS, Radar Bromo–Dua jembatan darurat selesai dibangun di Dusun Kedaton, Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Warga sekitar pun kembali bisa beraktivitas dengan normal.
Dua jembatan itu putus total setelah diterjang banjir bandang di sungai Desa Andungbiru, Kamis (11/12).
Warga sekitar bersama personel TNI/Polri kemudian membangun dua jembatan darurat di lokasi yang sama, untuk menggantikan jembatan yang putus.
Jembatan darurat itu dibangun dengan konstruksi dari kayu dan bambu. Lalu di atasnya diberi anyaman bambu atau gedek. Sehingga, bisa dilalui kendaraan roda dua.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan, pada Sabtu (13/12), jembatan darurat selesai dibangun di dua lokasi di Dusun Kedaton.
Sebab, jembatan yang putus itu merupakan akses jalan utama bagi warga sekitar dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
"Kami bangun jembatan sementara bersama relawan dan masyarakat. Dibantu TNI dan Polri. Saat ini kedua jembatan telah difungsikan warga untuk berkativitas," katanya, Minggu (14/12).
Meski begitu, jembatan darurat ini tidak dapat dilalu kendaraan roda empat. Sebab, konstruksinya dari kayu dan bambu.
"Dibangun menggunakan kayu dan bambu. Jadi kendaraan roda empat belum dapat melintas. Tapi kendaraan roda dua bisa melintas," katanya.
Oemar belum bisa memastikan, kapan jembatan permanen akan dibangun di tempat itu. Saat ini, BPBD masih melakukan pembahasan bersama pihak-pihak terkait.
"Terpenting jembatan darurat rampung. Untuk jembatan permanen kami masukkan dalam perencanaan. Bisa awal tahun atau pertengahan tahun 2026. Apakah menggunakan anggaran TT (tidak terduga, Red) atau anggaran lain, belum kami bahas," lanjutnya.
Sebagai informasi, dua jembatan yang putus di Dusun Kedaton, Desa Andungbiru itu memiliki ukuran berbeda. Jembatan pertama yang berada di hulu, berukuran 15x3 meter. Sementara jembatan yang berada di hilir dusun berukuran 20x2 meter.
"Ada 500 kepala keluarga (KK) yang memanfaatkan dua jembatan tersebut selama ini," katanya.
Warga setempat biasa memanfaatkan dua jembatan itu sebagai akses kesehatan. Tercatat ada enam ibu hamil yang perlu perawatan medis di sana.
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo menyebutkan, pelayanan kesehatan bagi ibu hamil tetap berjalan.
Dinkes memastikan, tenaga medis telah disiagakan di lokasi untuk memberikan layanan kepada warga terdampak banjir.
Selain itu, pelayanan jemput bola diterapkan agar pemeriksaan rutin kehamilan tetap dapat dilakukan. Meski akses jalan dan transportasi terbatas.
Sebab, satu orang berada pada usia kehamilan yang mendekati persalinan. Yang bersangkutan diperkirakan akan melahirkan pada Januari 2026.
Untuk mengantisipasi risiko medis akibat kondisi wilayah yang sulit dijangkau, pihaknya mulai menyiapkan langkah relokasi. Yaitu, merelokasi ibu hamil ke tempat yang lebih dekat dengan fasilitas kesehatan.
“Apabila waktu persalinan semakin dekat, kami akan memindahkan ibu hamil itu ke rumah singgah atau ke kediaman keluarga yang lebih dekat dengan fasilitas kesehatan,” jelas Hariawan. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi