Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Rampungkan Ratusan Meter Jalan untuk Permudah Akses Pertanian di Desa Sumberagung Dringu Probolinggo

Jamaludin Uno • Kamis, 4 Desember 2025 | 13:05 WIB
JALAN LAHAN PERTANIAN: Sejumlah pekerja sedang membangun jalan usaha tani di Blok Kolpoh masuk Dusun Mawar beberapa waktu lalu.
JALAN LAHAN PERTANIAN: Sejumlah pekerja sedang membangun jalan usaha tani di Blok Kolpoh masuk Dusun Mawar beberapa waktu lalu.

WARGA Desa Sumberagung, Kecamatan Dringu, sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Sekitar 95 persen penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh tani, sementara sisanya ada yang sebagai karyawan, guru, dan profesi lain.

Tak heran jika perekonomian masyarakat sangat bergantung pada hasil pertanian, terutama komoditas unggulan bawang merah.

Menyadari pentingnya sektor pertanian bagi warga, Pemerintah Desa (pemdes) Sumberagung terus berupaya meningkatkan sarana penunjang pertanian. Salah satunya berupa pembangunan jalan usaha tani.

Sudah rampung sepanjang 118 meter yang berasal dari Bantuan Keuangan (BK) Provinsi, serta 30 meter dari Dana Desa (DD) tahap pertama.

Kepala Desa Sumberagung, Elmidi, mengungkapkan sejatinya jalan usaha tani yang dibangun dari DD juga sepanjang 118 meter.

Pembangunan dilakukan dalam tahap pertama dan tahap kedua pencairan DD. Namun adanya Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2025, yang mengubah mekanisme pengalokasian dan penyaluran Dana Desa Tahun Anggaran 2025, rencana itu tidak bisa terlaksana.

HASILKAN KESEPAKATAN: Pemerintah Desa Sumberagung menggelar Musdes untuk merencanakan pembangunan desa agar terlaksana sukses dan sesuai kebutuhan,
HASILKAN KESEPAKATAN: Pemerintah Desa Sumberagung menggelar Musdes untuk merencanakan pembangunan desa agar terlaksana sukses dan sesuai kebutuhan,

“Karena regulasi baru itu, pembangunan lanjutan pada tahap kedua tidak dapat dilaksanakan. Dana Desa tahap kedua hingga kini belum cair. Kami juga belum tahu apakah nanti menjadi Silpa atau bagaimana. Padahal sekitar Rp 250 juta seharusnya kami terima di tahap kedua ini,” jelasnya.

Elmidi menambahkan, jalan usaha tani yang rampung tersebut dibangun dengan lebar 2,60 meter. Berupa tembok penahan tanah (TPT) di kedua sisi, dengan bagian tengah berupa tanah yang dipadatkan. Lahan yang digunakan merupakan hasil hibah warga pemilik sawah.

“Sebelum pembangunan dimulai, kami mengundang pemilik lahan. Mereka dengan sukarela menghibahkan tanahnya untuk dipakai sebagai jalan usaha tani,” ujarnya.

Keberadaan jalan usaha tani ini sangat membantu petani. Sebelum jalan dibangun, biaya angkut bawang merah dari sawah ke jalan utama mencapai Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu perkuintal.

Kini biaya turun drastis menjadi sekitar Rp 30 ribu per kintal. “Mobil pikap sekarang bisa masuk dengan leluasa. Biaya lebih ringan dan pekerjaan petani jauh lebih mudah,” tegas Elmidi.

PENUNJANG EKONOMI: Petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo sedang menyuntikkan vaksin ternak sapi milik BUMDes.
PENUNJANG EKONOMI: Petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo sedang menyuntikkan vaksin ternak sapi milik BUMDes.

Kembangkan Penggemukan Sapi Lewat Badan Usaha Milik Desa

Pemerintah Desa (Pemdes) Sumberagung, Kecamatan Dringu, mulai melaksanakan program penggemukan sapi potong sejak awal November lalu.

Penggemukan sapi yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) ini merupakan program ketahanan pangan desa yang bersumber dari alokasi 20 persen Dana Desa (DD). Sebanyak 10 ekor sapi potong telah diserahkan oleh warga untuk dipelihara.

Kepala Desa Sumberagung Elmidi mengatakan, warga yang terlibat merupakan mereka yang telah berpengalaman dalam memelihara sapi potong.

BUMDes menerapkan sistem bagi hasil agar keuntungan program dapat dirasakan bersama.

“Misalnya, satu ekor sapi dibeli dengan harga Rp 15 juta. Ketika sudah gemuk dan dijual menjadi Rp 20 juta, selisih Rp 5 juta itu dibagi dua antara BUMDes dan warga yang memelihara,” jelasnya.

Berdasarkan hasil musyawarah desa (musdes), sapi yang dipelihara warga dapat dijual paling cepat enam bulan.

Namun, keputusan waktu penjualan juga mempertimbangkan kesiapan dan keinginan warga yang memelihara. “Kalau warga merasa butuh waktu lebih panjang, bisa lebih dari enam bulan,” tambah Elmidi.

Selama penggemukan, sapi dipelihara di kandang masing-masing warga penerima manfaat dengan perlakuan seperti ternak sendiri. Termasuk pemberian pakan harian. Sementara itu, urusan kesehatan ternak menjadi tanggung jawab BUMDes.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin setiap bulan, termasuk pemberian suntikan dan vaksin bekerja sama dengan Dinas Pertanian.

“Dari 10 ekor sapi yang ada, jenis yang dipelihara terdiri dari limousin dan blasteran, disesuaikan dengan permintaan warga,” katanya.

Elmidi berharap program ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat Desa Sumberagung.

“Setelah sapi terjual, modal awal bisa diputar kembali untuk membeli sapi lebih banyak di tahun berikutnya. Bahkan ke depan tidak menutup kemungkinan kami juga mengembangkan pemeliharaan kambing. Ini baru langkah awal,” pungkasnya. (uno/fun/*)

Editor : Fandi Armanto
#Desa Sumberagung Kecamatan Dringu #transparansi desa