SUKAPURA, Radar Bromo- Sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan, Umat Hindu Suku Tengger di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, melaksanakan Hari Raya Kuningan.
Sabtu (29/11), Perayaan dipusatkan di Pura Randu Agung, Dusun Ngrandu, Desa Sapikerep. Diikuti ratusan umat.
Sejak pagi, umat berdatangan mengenakan pakaian adat lengkap dan membawa beragam sesajen.
Mereka berkumpul di halaman pura untuk mengikuti sembahyang bersama sebagai wujud bakti kepada Sang Hyang Widhi.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Sapikerep Rujiyanto mengatakan, umat yang hadir tahun ini tidak sebanyak biasanya. Hanya sekitar 100 orang. “Banyak yang lebih memilih merayakan di Pura Poten Bromo,” ujarnya.
Persembahyangan diiringi lantunan pujian dan doa untuk menghormati sekaligus mengantarkan arwah leluhur kembali ke Suarga Loka.
“Hari Raya Kuningan bermakna mengantarkan arwah leluhur atau para dewa-dewi kembali ke nirwana setelah selama sepuluh hari mendampingi umat,” jelasnya.
Rujiyanto mengatakan, sejak Hari Raya Galungan, umat Hindu percaya para dewa, dewi, dan leluhur hadir untuk mendampingi manusia dalam perjuangan menjaga dharma dan menjauhkan diri dari adharma.
Biasanya, dalam rentang sepuluh hari tersebut masyarakat juga melakukan anjangsana antarrumah untuk mempererat hubungan. Namun, tradisi itu tidak dilakukan tahun ini karena cuaca ekstrem.
“Maka dari itu, selain memohon perlindungan, kami juga berdoa kepada Sang Hyang Widhi agar negara tetap aman. Banyaknya bencana alam belakangan ini menjadi pengingat agar manusia selalu introspeksi diri. Terutama dalam menjaga hubungan dengan alam,” katanya.
Rangkaian upacara dimulai dengan manggala upacara yang dipimpin Romo Mangku. Setelah seluruh prosesi selesai, umat melanjutkan tradisi makan bersama dengan menyantap sesajen yang mereka bawa masing-masing. Dalam kepercayaan Hindu Tengger, Hari Raya Kuningan juga melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan.
“Pada Hari Raya Kuningan ini kami memohon perlindungan untuk kesehatan umat, keselamatan masyarakat, hingga kesuburan tanaman,” ungkap seorang umat, Karmila. (gus/rud)
Editor : Muhammad Fahmi