Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pemerintah Desa/Kecamatan Dringu, Jaga Tradisi Petik Laut, Wujud Syukur-Lestarikan Budaya

Inneke Agustin • Jumat, 14 November 2025 | 12:13 WIB
MERIAH: Sejumlah warga Desa Dringu melaksanakan Petik Laut, beberapa waktu lalu.
MERIAH: Sejumlah warga Desa Dringu melaksanakan Petik Laut, beberapa waktu lalu.

TRADISI petik laut masih terjaga dengan baik di Desa/Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Setiap tahun, masyarakat setempat, terutama para nelayan bersama pemerintah desa selalu melaksanakan ritual adat ini sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki dari laut. Sekaligus doa agar hasil tangkapan pada tahun-tahun berikutnya semakin melimpah.

Kegiatan petik laut di Desa/Kecamatan Dringu, digelar meriah pada 6 Agustus lalu. Sejak pagi, suasana desa sudah ramai. Warga dari berbagai lapisan ikut mempersiapkan rangkaian acara yang dimulai kegiatan bersih desa, sebagai sebuah simbol pembersihan diri dan lingkungan sebelum melaksanakan ritual utama di laut.

Kepala Desa Dringu Kuryadi mengatakan, tradisi petik laut telah menjadi agenda tahunan yang rutin diselenggarakan setiap Agustus. Selain melestarikan warisan budaya leluhur, kegiatan ini juga menjadi momentum kebersamaan bagi masyarakat pesisir.

“Tujuan utamanya melestarikan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Kami berharap nelayan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah dan penuh berkah. Masyarakat sejahtera, desa pun aman sentosa,” ujarnya.

NYAMAN: Halaman Kantor Desa Dringu, telah ipaving untuk memberi kenyamanan dalam proses pelayanan terhadap warga.
NYAMAN: Halaman Kantor Desa Dringu, telah ipaving untuk memberi kenyamanan dalam proses pelayanan terhadap warga.

Tak hanya nelayan, para petani juga turut serta dengan membawa hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan. Partisipasi mereka mencerminkan semangat gotong royong yang hidup berdampingan antara laut dan daratan. “Kami juga berharap agar hasil pertanian warga terbebas dari hama dan penyakit, sehingga semua bisa menikmati kesejahteraan,” katanya.

Sekitar 50 perahu nelayan turut berpartisipasi dalam prosesi larung saji tahun ini. Mereka berangkat bersama-sama dari sungai di dekat area pemakaman Buyut Rojo Kuning, yang dipercaya sebagai tempat bersejarah dan sakral bagi masyarakat setempat.

Satu perahu khusus disiapkan untuk membawa sesaji utama. Berisi kepala kambing, kepala kerbau, ayam jago, aneka sayuran, buah-buahan, dan jajanan pasar. Sesaji dilarung di tengah laut sebagai simbol persembahan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Perahu-perahu lainnya dihias indah dengan warna-warna mencolok, bendera, dan ornamen laut yang menambah semarak suasana. Dari kejauhan, pemandangan rombongan perahu yang bergerak menuju utara, ke arah laut lepas, menjadi momen yang memikat perhatian masyarakat dan wisatawan yang hadir.

Rangkaian kegiatan petik laut ditutup dengan pertunjukan seni tradisional ketoprak pada malam harinya. Pementasan ini menjadi hiburan bagi warga sekaligus bentuk pelestarian budaya lokal yang kental dengan nilai kebersamaan dan spiritualitas.

Melalui kegiatan ini, Pemdes Dringu tidak hanya berupaya menjaga tradisi leluhur tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat pesisir. Petik laut menjadi wujud nyata bagaimana adat, doa, dan gotong royong menyatu dalam harmoni kehidupan masyarakat Dringu yang hidup dari laut dan untuk laut. (gus/rud/*)

 

Benahi Infrastruktur, Dongkrak Kesejahteraan Warga

PEMERINTAH Desa Dringu, terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan warganya. Salah sautgnya melalui pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum. Sejumlah program prioritas telah direalisasikan. Di antaranya, ada pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH), penataan lingkungan kantor desa, hingga upaya pengendalian banjir.

Kepala Desa Dringu Kuryadi mengatakan, dua unit rumah warga di Dusun Gandean, telah selesai dibangun dalam program RTLH. Masing-masing milik Bungkus, 40, dan Sampir, 75. “Sebelumnya, rumah mereka berdinding gedek dan nyaris roboh. Saat musim hujan, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Alhamdulillah setelah diperbaiki, kini mereka bisa tinggal dengan aman dan nyaman,” ujarnya.

KOKOH: Kepala Desa Dringu melihat langsung hasil pembangunan bronjong di Desa Dringu, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.
KOKOH: Kepala Desa Dringu melihat langsung hasil pembangunan bronjong di Desa Dringu, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.

Perbaikan tak hanya memperkuat struktur bangunan, tetapi juga menambah fasilitas dasar. Seperti kamar mandi dan kloset. Hal ini menjadi langkah nyata pemerintah desa dalam mendukung peningkatan taraf hidup masyarakat miskin dan rentan.

Pemerintah desa juga memperhatikan kenyamanan masyarakat yang datang ke balai desa. Halaman balai desa seluas sekitar 331 meter persegi kini telah dipaving. “Dulu masih berupa tanah. Kalau hujan becek dan licin. Sekarang sudah rapi dan bersih setelah dipaving,” ujar Kuryadi.

Untuk menambah keamanan dan memperindah tampilan kantor desa, pemerintah desa juga merenovasi pagar sepanjang 40 meter dengan tinggi 1,4 meter. Kini pagar berdiri kokoh dan memperkuat kesan representatif kantor desa sebagai pusat pelayanan masyarakat.

Namun, tantangan besar masih dihadapi Pemerintah Desa Dringu. Terutama ancaman banjir tahunan dari Sungai Kedunggaleng. Pemerintah desa telah mengusulkan pembangunan bronjong di beberapa titik rawan ke Pemprov Jawa Timur melalui BPBD Kabupaten Probolinggo.

“Alhamdulillah usulan kami diterima. Tahun ini ada empat titik yang dibangun bronjong. Di Dusun Bandaran-Krajan, masing-masing 40 dan 50 meter. Di Dusun Gandean–Ngemplak, panjangnya sekitar 23 dan 30 meter dengan tinggi rata-rata lima hingga enam meter,” jelas Kuryadi. (gus/rud/*)

Editor : Ronald Fernando
#kecamatan dringu #transparansi desa #desa dringu