KANIGARAN, Radar Bromo - Rencana Pemkot Probolinggo melakukan penyertaan modal terhadap Perseroda Bahari Tanjung Tembaga, belum klimaks.
DPRD Kota Probolinggo, masih mempertanyakan kajian hingga rincian arah penggunaannya. Sebab, sebagian besar modal akan digunakan untuk pengadaan kendaraan operasional.
Anggota Pansus DPRD Kota Probolinggo Sibro Malisi mengatakan, rincian penggunaan dana sekitar Rp 7 miliar dari penyertaan modal perlu dipertanyakan.
Dalam rincian disebut biaya pra-operasional Rp 200 juta, belanja peralatan kantor Rp 175 juta, pembelian empat unit truk Rp 6 miliar, dan uang tunai operasional Rp 650 juta.
“Uang Rp 650 juta itu untuk apa? Mana rinciannya? Ini uang rakyat, satu rupiah pun harus bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Sibro.
Selain itu, Pemkot juga dinilai belum mampu menjelaskan secara rinci arah penggunaan modal tersebut.
Meski disebut sebagian besar akan digunakan untuk pembelian kendaraan operasional, jenis kendaraan yang dimaksud belum ditentukan.
“Apakah yang dimaksud kendaraan itu dump truck, tronton, trailer, atau mobil boks? Belum ada kejelasan,” tambahnya.
Wakil Ketua Pansus DPRD Kota Probolinggo Riyadus Solihin Firdaus mengatakan, dasar kajian yang digunakan Pemkot berasal dari periode 2020–2023.
Kajian itu sudah tidak relevan untuk kondisi dunia usaha saat ini.
“Kajian harus diperbarui. Dunia usaha terus berkembang. Kalau kita pakai data lama, bisa jadi kendaraan yang dibeli tidak sesuai kebutuhan mitra,” ujar politisi dari Partai Gerindra ini.
Plt Sekda Kota Probolinggo Rey Suwigtyo mengatakan, bisnis utama Perseroda Bahari Tanjung Tembaga, akan bergerak di bidang jasa pengangkutan dan pergudangan sebagaimana diatur dalam Perda pendiriannya.
“Potensi terbesar memang di sektor pengangkutan dan pergudangan. Kendaraan yang dibutuhkan empat unit tronton dengan harga Rp 1,5 miliar per unit,” jelasnya. (mas/rud)
Editor : Ronald Fernando