Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

KPw BI Malang Kenalkan Digital Farming bagi Petani Bawang Merah Probolinggo

Jamaludin Uno • Rabu, 12 November 2025 | 00:34 WIB

 

 

TEKNOLOGI: Rombongan BI Malang mempraktikkan langsung cara kerja alat uji tanah didampingi Ketua Poktan Rowo Makmur Satu, Wasis Hartono bersama anggotanya.
TEKNOLOGI: Rombongan BI Malang mempraktikkan langsung cara kerja alat uji tanah didampingi Ketua Poktan Rowo Makmur Satu, Wasis Hartono bersama anggotanya.

PROBOLINGGO, Radar Bromo-Tidak hanya fokus mendukung pelaku UMKM olahan bawang merah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang juga menyentuh sektor hulu, yakni para petani.

Dengan cara memperkenalkan sistem pertanian modern berbasis digital farming bagi Kelompok Tani (Poktan) Rowo Makmur Satu di Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

Dukungan diwujudkan dalam bentuk bantuan dua alat uji tanah digital. Perangkat ini berfungsi mendeteksi kandungan unsur hara. Yakni, Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K), serta mengukur tingkat keasaman atau kebasaan (pH) tanah.

Dengan teknologi ini, petani dapat mengetahui kondisi tanah secara akurat, sehingga dosis pupuk yang diberikan bisa disesuaikan kebutuhan lahan.

Ketua Poktan Rowo Makmur Satu Wasis Hartono menjelaskan, sebelum adanya alat tersebut, petani masih menggunakan cara tradisional untuk menentukan kebutuhan pupuk.

SAWAH : Nurul Khotimah, Owner Bawang Goreng Hunay menunjukkan salah satu lahan bawang merah.
SAWAH : Nurul Khotimah, Owner Bawang Goreng Hunay menunjukkan salah satu lahan bawang merah.

“Petani yang sudah tua mengandalkan penciuman untuk memperkirakan kesuburan tanah. Tapi, petani yang muda tidak paham. Cara itu juga kurang akurat,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan alat digital ini membuat penggunaan pupuk menjadi lebih efisien, sehingga mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen. Tanaman mendapat nutrisi sesuai kebutuhan, sehingga tumbuh optimal.

“Dengan alat ini, kami bisa tahu dosis pupuk yang dibutuhkan secara pasti. Alatnya ditusukkan pada tanah, hasilnya muncul di monitor,” jelas Wasis.

CEK TANAH : Wasis Hartono Ketua Poktan Rowo Makmur Satu (kanan) bersama anggotanya sedang melakukan pengecekan NPK dan pH tanah menggunakan alat uji tanah dari BI Malang.
CEK TANAH : Wasis Hartono Ketua Poktan Rowo Makmur Satu (kanan) bersama anggotanya sedang melakukan pengecekan NPK dan pH tanah menggunakan alat uji tanah dari BI Malang.

Akurasi dalam pemupukan sangat penting karena kesalahan dosis dapat berdampak besar pada biaya produksi dan hasil panen. “Kalau pupuknya berlebihan atau overdosis, tanaman bisa layu dan rusak,” katanya.

Alat uji tanah digital ini juga dilengkapi sensor cuaca. Ketika kondisi tidak mendukung, misalnya menjelang hujan, sistem akan memberikan notifikasi peringatan.

“Kalau ada peringatan seperti itu, kami tunda pemupukan. Percuma dipupuk kalau nanti terkena hujan,” katanya.

Wasis menjelaskan, petani bawang merah melakukan pemupukan empat kali dalam satu musim. Yakni, sebelum tanam serta pada usia 10, 20, dan 30 hari setelah tanam.

Dengan alat tersebut, petani dapat menyesuaikan kebutuhan pupuk. “Kondisi tanah di setiap lahan tidak selalu sama,” urainya.

GUDANG : Selain bantuan 2 alat uji tanah, BI Malang juga membangun gudang pembenihan bagi Poktan Rowo Makmur Satu.
GUDANG : Selain bantuan 2 alat uji tanah, BI Malang juga membangun gudang pembenihan bagi Poktan Rowo Makmur Satu.

Poktan Rowo Makmur Satu memiliki 50 anggota aktif dengan total lahan tanam 25 hingga 35 hektare setiap musim. Saat ini, dari satu hektare, petani mampu menghasilkan 10-15 ton bawang merah setiap panen, dengan masa tanam 60 hari.

Dalam setahun, petani dapat melakukan tiga hingga empat kali musim tanam. Hasilnya, mencapai 30-45 ton per hektare dalam 1 tahun.

“Dengan adanya alat uji tanah ini, bisa menekan biaya produksi bawang merah. Karena biaya pupuknya sesuai dengan kebutuhan. Beda dengan cara tradisional yang masih harus meraba-raba,” katanya.

Selain alat uji tanah yang diberikan pada 2024, tahun ini BI Malang juga menyalurkan bantuan berupa gudang pembenihan.

Kemudian kegiatan Capacity Building Bertani Cerdas Mengubah Tradisi Menuju Kedaulatan Pangan, Pelatihan Sistem Pertanian Organik dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Pertanian melalui Penerapan GAP dan Penggunan Biochar. (uno/*)

Editor : Muhammad Fahmi
#Digital farming #bi malang #petani #bawang merah #probolinggo