PROBOLINGGO, Radar Bromo -BMKG Juanda meminta masyarakat waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Jawa Timur. Termasuk di Kota Probolinggo.
Cuaca ekstrem tersebut diprediksi dapat mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi.
Seperti hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, serta hujan es pada periode 6 hingga 12 November mendatang.
“Hampir seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan. Diperkirakan dalam sepekan ke depan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan.
Taufiq menjelaskan, potensi tersebut disebabkan masih terdapat gangguan gelombang atmosfer Rossby dan Low Frequency yang saat ini melintas wilayah Jawa Timur.
Selain itu, pola belokan angin di wilayah Jawa Timur serta suhu muka laut yang masih cukup hangat di sekitar Selat Madura turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Di daerah, BPBD Kota Probolinggo juga mengimbau masyarakat agar senantiasa waspada terhadap perubahan cuaca mendadak.
Termasuk potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang. Masyarakat juga diimbau selalu memantau kondisi cuaca terkini berdasarkan radar cuaca WOFI melalui website resmi BMKG Juanda.
“Kami juga terus melakukan upaya pembersihan saluran drainase. Memantau daerah pesisir, bantaran sungai, termasuk Dam Kedunggaleng dan Dam Kellep atau daerah yang berpotensi adanya genangan. Alhamdulillah saat ini masih terpantau aman,” kata Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Boedi Harjanto.
Sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana, BPBD Kota Probolinggo melaksanakan simulasi tanggap bencana gempa bumi di Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Kota Probolinggo, Jumat (7/11).
Kegiatan ini diikuti oleh para siswa SMP sebagai bagian dari edukasi menghadapi potensi gempa yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Boedi menjelaskan, simulasi tersebut penting dilakukan. Sebab, beberapa bulan terakhir wilayah Kota Probolinggo sempat merasakan getaran dari sejumlah gempa bumi yang terjadi di sekitar Jawa Timur.
“Seperti yang kemarin terjadi di Madura, getarannya terasa sampai ke Kota Probolinggo. Kami khawatir bila tidak ada sosialisasi atau simulasi semacam ini, anak-anak akan panik ketika gempa benar-benar terjadi,” ujar Boedi.
Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar latihan. Namun, merupakan bentuk investasi pengetahuan dan keterampilan bagi para siswa.
Tujuannya agar mereka memiliki kesiapan dalam bertindak benar saat bencana terjadi serta mampu mengurangi risiko yang ditimbulkan.
“Mengingat bangunan sekolah ini cukup tinggi, penting bagi siswa dan guru memahami jalur evakuasi serta hal-hal yang harus dilakukan saat terjadi gempa. Dengan begitu, mereka bisa lebih siap siaga dan tidak panik,” tambahnya.
Dalam simulasi tersebut, petugas BPBD memberikan arahan teknis mengenai cara berlindung yang aman, langkah evakuasi yang benar, serta tanda-tanda peringatan dini yang harus diperhatikan.
Para siswa juga diajarkan untuk melindungi kepala dengan tas atau bantal saat gempa. Kemudian mengikuti aba-aba guru untuk evakuasi menuju titik aman.
“Hal paling penting saat terjadi gempa adalah tetap tenang dan tidak berdesakan. Jangan panik, jangan berlari atau saling dorong. Karena kepanikan justru dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” jelasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi