KADEMANGAN, Radar Bromo- Seorang warga Desa Sepoh Gembol, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, meregang nyawa ketika menunggu lampu hijau traffic light. Ia disasak truk ketika mengendarai motor di Simpang Empat Jalan Raya Bromo-Jalan Abdurrahman Wahid, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.
Selasa (28/10) malam, korban berboncengan dengan Muhammad Novi, 31, warga Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Menggunakan sepeda motor bernopol N 6738 PR, mereka melaju dari selatan.
Karena traffic light di Simpang Empat Kopian menyala merah, Novi berhenti. Namun, mendadak dari belakang disasak oleh truk bernopol DK 8360 EX. Truk ini dikemudikan oleh warga Kabupaten Banyuwangi, Wiyono, 61. Tafrin meninggal dunia di lokasi kejadian.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Probolinggo Kota Aipda Muhammad Taufik mengatakan, semula truk melaju dari sealtan. Sesampai di TKP, tepat di traffic light Simpang Tiga Kopian, terdapat motor korban yang tengah berhenti.
“Mereka berhenti karena menunggu hendak berbelok ke kanan (ke arah timur). Sebab, lampu masih menyala merah dan kendaraan dari arah berlawanan masih ada yang melaju,” kata Taufik.
Diduga, pengendara truk kurang konsentrasi dan tidak melihat arus lalu lintas di depannya. Truknya menabrak kendaraan korban dari belakang. Keduanya langsung terjatuh.
“Tafrin meninggal dunia di lokasi kejadian. Sedangkan, Muhamad Novi mengalami luka-luka dan dilarikan ke RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo,” terangnya.
Petugas Kamar Jenazah RSUD dr. Mohamad Saleh Gusti Ferdy Lesmana mengatakan, hingga Rabu (29/10) siang, Muhamad Novi masih dirawat di IGD. Sedangkan, Tafrin meninggal dunia. “Lukanya di bagian kepala remuk dan robek, leher patah, dada dan bahu juga patah. Kemudian, ada sejumlah lecet di tangan dan kaki,” ujarnya.
Kabid Pengembangan Transportasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo Deddy Ariawan mengatakan, traffic light di Simpang Empat Kopian saat itu dalam kondisi normal. Traffic light juga telah di-setting sedemikian rupa hingga aman untuk lalu lintas.
“Cuma sering di sana banyak pelanggaran. Jadi, kalau tidak ada kendaraan dari arah berlawanan, biasanya pengendara nyelonong. Karena itu, untuk menghindari adanya hal-hal semacam ini lagi, kami akan mengganti vase traffic light,” ujarnya.
Meski proses penggantian vase tergolong cepat, karena menggunakan sistem komputer, kata Deddy, tetap butuh sosialisasi. “Sebab, mungkin masyarakat sudah terbiasa dengan kondisi awal. Jadi, butuh sosialisasi untuk perubahan ini. Karena itu, kami akan bekerja sama dengan Bidang LLAJ,” katanya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando