MAYANGAN, Radar Bromo–Kegiatan belajar mengajar (KBM) Semester Ganjil tahun ini belum genap satu semester berjalan. Namun, sudah delapan siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 7 Kota Probolinggo yang berhenti.
Dari delapan anak yang keluar itu, dua di antaranya merupakan siswa SMP. Sisanya, enam anak adalah siswa SMA.
Karena kondisi itu, SR Terintegrasi 7 harus mencari siswa pengganti dengan jumlah yang sama.
”Memang benar ada siswa yang berhenti atau keluar. Total ada delapan siswa,” terang salah satu pendamping SR Terintegrasi 7 Kota Probolinggo yang enggan disebut namanya, Rabu (15/10).
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-PPPA) Kota Probolinggo Madihah juga membenarkan kondisi itu.
Menurutnya, total ada 100 siswa SMP/SMA SR. Delapan di antaranya, saat ini mengundurkan diri.
”Benar ada yang berhenti. Karena itu, kami sedang mencari penggantinya. Saat ini sedang proses seleksi siswa pengganti,” terangnya saat ditemui di SR Terintegrasi 7 Kota Probolinggo di Mayangan.
Saat ini, menurutnya, sudah ada tiga siswa pengganti untuk tingkat SMA. Dengan demikian, kurang tiga anak (total ada 6 siswa SMA mundur). Sedangkan pengganti untuk siswa SMP masih adalam proses seleksi.
Ada berbagai penyebab yang membuat delapan anak itu berhenti sekolah.
Yang pasti, menurut Madihah, bukan karena faktor internal sekolah atau asrama. Melainkan karena keinginan siswa pribadi atau keluarga siswa.
Ada yang keluar karena masalah keluarga. Ada juga yang berhenti karena masalah percintaan. Yaitu, diputus oleh pacarnya.
Sementara kegiatan belajar mengajar di SR Terintegrasi 7 Kota Probolinggo menurutnya, sudah berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Demikian pula kegiatan di kampus asrama, juga sudah berjalan sesuai SOP.
“Siswa tidak hanya mendapat fasilitas seragam, alat sekolah, dan lainnya. Tetapi makan tiga kali sehari dipastikan terpenuhi. Segera mungkin siswa pengganti akan ditetapkan masuk ke asrama dan sekolah rakyat,” ujarnya. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi