KANIGARAN, Radar Bromo - Event Hari Jadi ke-666 Kota Probolinggo yang digelar di Stadion Bayuangga, menyisakan banyak sampah.
Terutama sampah-sampah kecil yang membahayakan. Akibatnya, lapangan belum bisa difungsikan untuk latihan atlet.
Askot PSSI Kota Probolinggo pun menyayangkan hal itu. Sebab, banyak sampah kecil berbahaya yang berserakan di lapangan stadion.
Mulai potongan kawat bekas ikatan, peniti, jarum. Bahkan ada pecahan seperti kulit kerang yang tajam.
“Sesuai prediksi kami sejak awal, event hari jadi di Stadion Bayuangga akan berpengaruh pada lapangan. Meski sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan, di lapangan masih banyak ditemukan sampah-sampah kecil yang berbahaya,” terang Ketua Askot PSSI Kota Probolinggo Eko Purwanto.
Sampah-sampah kecil itu, menurutnya, sangat membahayakan atlet. Karena itu, pihaknya menilai lapangan stadion belum dapat digunakan oleh atlet untuk olahraga. Sehingga, atlet belum diperbolehkan latihan di lapangan.
“Sampai sekarang, masih banyak sampah kecil yang tajam dan berbahaya di tengah lapangan. Belum lagi ada bagian lapangan yang ambles dan bergelombang karena dilewati truk dan panggung,” lanjutnya.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo Muhammad Abbas menegaskan, lapangan stadion sudah dibersihkan dari sisa sampah-sampah.
Setelah senam Jumat pagi, seluruh ASN diminta memungut sampah-sampah kecil di lapangan stadion. Abas pun memastikan, lapangan stadion kini sudah bersih dan aman.
”Sampah-sampah kecil yang ada di tengah lapangan stadion sudah dibersihkan tadi (kemarin, Red). Jadi setelah senam, semua ASN tidak langsung bubar. Mereka lebih dulu membersihkan sampah-sampah kecil yang tesisa,” terangnya.
Wakil Ketua DPRD Kota Probolinggo Abdul Mujib menegaskan, sampah sisa event di stadion bukan masalah yang dibesar-besarkan.
Kondisi itu tidak bisa dibiarkan karena terkesan kurang baik dengan tidak melibatkan stakeholder terkait.
Setelah digunakan untuk event Hari Jadi ke-666 Kota Probolinggo, dibutuhkan waktu agak lama untuk membersihkan seluruh area lapangan inti.
Sebab, ada banyak sisa makanan dan sampah-sampah kecil yang tajam dan berbahaya bila mengenai tubuh.
“Bahkan, dipastikan pemulihan dan perawatan lapangan membutuhkan tenaga dan anggaran. Oleh karena itu, harus ada konsekuensi bagi penyelenggara agar sama-sama bertanggung jawab sesuai dengan hasil kesepakatan yang ditentukan,” tegasnya. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi